Pak Ekadj, terima kasih atas apresiasinya. Mengenai catatan, saya punya 
pengalaman teknis, yaitu dikumpulkan secara baik-baik, bahkan saya jilid dengan 
rapi, ada kop di depan dan daftar isinya, termasuk ada kata pengantarnya. Buku 
catatan itu (logbook rapi) saya perlakukan dengan hormat seperti pustaka yang 
lain sebab di situlah terletak harta karun pengetahuan. Koleksi saya sudah ada 
beberapa, misalnya penelitian tentang Parangtritis, Malioboro, dan Kaenbaun. 
Catatan saya dalam riset Malioboro bahkan memuat banyak foto kejadian, termasuk 
juga rekaman apapun yang merupakan ungkapan bahasa non-verbal, misalnya poster, 
spanduk, grafiti, dll. 

Pak Ekadj, foto-foto juga bisa dibuat menjadi catatan yang rapi, misalnya bisa 
dikelompok-kelompokkan menurut berbagai kategori, waktu, tempat, dan tematik 
yang lain. Rahasianya, jika foto harus diberi narasi yang menjelaskan apa yang 
ditangkap pada foto itu, termasuk ada keterangan tentang tempat, waktu 
pemotretan, siapa yang memotret. Saya kira pada saat seperti itu kita sedang 
melakukan dokumentasi dan validasi data. Sebab foto tanpa keterangan akan turun 
validitasnya sebagai data maupun informasi biasa. Logbook foto saya tentang 
"fenomena visual" di Kaenbaun bahkan sudah saya terbitkan sebagian menjadi buku 
format pdf full color, sebab jika diterbitkan versi hardcopy akan sangat mahal. 
Jadi logbook dalam cara kerja fenomenologi ada dua yaitu yang berisi teks dan 
yang berisi foto-foto saja. Ketekunan saya membuat logbook dua jenis ini pernah 
membuahkan nilai A+ dalam tugas saya dibawah bimbingan Pak Hedy 
Shri-Ahimsa...katanya: pak Djarot bisa
 mengalahkan antropolog...hehehee....ini serius tetapi juga guyonan Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 10/6/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Disaster Management - Pak If
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 6, 2009, 9:38 PM






 




    
                  

Pak BSP dan Pak Djarot ysh, terima kasih atas informasi pengalaman gempa

yang diberikan. Informasi ini telah saya kumpulkan dan diteruskan ke

beberapa pihak untuk menjadi bahan perhatian, dan telah ada reaksi yang

positif. Memang prihatin bila hingga saat ini manajemen evakuasi dan

bantuan masih belum berjalan dengan baik.



Sebenarnya catatan Pak BSP dan Pak Djarot ini lebih merupakan catatan

etnografis, melalui observasi lapangan, memuat deep structure,

eksplanatoris, sehingga memiliki kandungan ilmiah. Memang mengherankan

bila selama ini etnografi dilakukan oleh sosiolog dan antropolog, namun

dapat dengan mudah dilakukan oleh siapa saja dengan tujuan pembelajaran.

Ke depan kita akan senang mengumpulkan catatan-catatan seperti ini,

sebagai referensi untuk berbagai kebutuhan. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@... > wrote:

>

> Uda Eka ysh,

>

> Uda menuliskan :

>

> Pak Risfan ysh, mungkin permasalahannya selama ini 'kegiatan

pembangunan' itu dilaksanakan 'secara terprogram', jadi strukturalism

itu sangat kental. Perbandingannya adalah seperti yang disampaikan dalam

catatan Pak BSP, kalau TNI sudah sampai di lapangan beberapa waktu

setelah bencana dan langsung melakukan evakuasi atau 3 jam sebelum

aparat Pemda baru mengumpul untuk memulai koordinasi.

>

> Dari kejadian Sumbar kemarin, yang turun justru 2 batalyon tempur,

bukan zeni, yang tidak mengerti mengenai bangunan. Namun sepertinya itu

adalah satuan yang berada pada lokasi terdekat, mereka datang dengan

bekal pangan untuk 2 hari dan semangat. Saya kira ini fungsionalism.

>

> Tanggapan saya :

>

> Problem yang dihadapi oleh PNS Pemda adalah bahwa mereka cenderung

juga ikut menjadi korban. Saya justru sangat sangat menghormati pegawai

Kabupaten Bantul yang bisa mengkonsolidasi diri dalam waktu 3 hari.

>

> Bayangkan, lebih dari 80% pegawai itu yang rumahnya, atau rumah

keluarganya luluh lantak karena gempa. Mereka justru diminta untuk

membantu masyarakat.

>

> Saya sangat mengalami sendiri. Waktu itu saya punya staf dari dinas

sosial. Mereka sangat giat melakukan koordinasi pembagian bantuan. Tiba2

saya mendengar dari temannya berkata : "pak rumahnya juga hancur dan

satu anaknya luka". Saya langsung panggil dan minta dia berhenti untuk

lebih dulu menyelesaikan masalah keluarganya. Ini gambaran riil Uda.

>

> Selain itu dalam gempa, mereka juga mengalami trauma. Saya masih

melihat pada hari ke 7 banyak PNS yang ekspresinya mendadak pucat gara2

mendengar truk tronton lewat. Mereka menduga ada gempa lagi.

>

> Saya beruntung (atau memang sudah disain Allah), sebenarnya saya ada

di Jogja sehari sebelum gempat. Tetapi entah mengapa waktu shalat asyar

kok merasa ada yang membisiki untuk saya kembali ke Jakarta kumpul

keluarga. Jadi saya terhindar dari moment itu. Implikasinya, saya sangat

jernih dalam mengendalikan penanganan bantuan.

>

> Jadi, tolong melihat gempa jangan dari kacamata diluar. Kita harus

bisa merasakan apa yang terjadi di dalam sana. Karena itu saya sangat

paham dengan apa yang terjadi di Sumbar.

>

> Yang sangat saya sayangkan ada pejabat di sumbar yang nampang di TV

dan berbicara dengan nada tinggi. Yang dibutuhkan saat itu adalah kerja

keras dan bukan menyombongkan diri. Apalagi saya melihat si pejabat itu

dengan baju yang klimis dan muka kayak habis mandi (bukan mandi peluh he

he he). Itu benar2 sangat menyakitkan hati masyarakat. Rapi is oke, tapi

bukan bersolek. Saya masih ingat bagaimana bupati klaten, bupati Bantul,

walikota Jogja waktu diwawancarai lusuh namun dengan sorot mata yang

pasti. Saya lebih suka melihat performance dari pak Gubenur Sumbar yang

firm danb tidak berlebihan.

>

> Selanjutnya tentang TNI. Ada prosedur standar tentang penanganan

tanggap darurat. Pasti yang diperintahkan adalah yang tidak terkena

langsung dengan bencana itu.

>

> Demikian Uda tanggapan saya.

>

> Salam

>

> bambang sp

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke