"Ada Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian
Pembangunan, yang 24 jam ibaratnya, 7 hari seminggu, untuk memastikan semua
berjalan.", kata pak SBY.

 

Kalau mengutip pernyataan presiden,. ternyata kita punya yang namanya Unit
Kerja untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan

 

Keren juga.

 

Mungkin unit ini yang kemudian mengawasi pencapaian target para menteri,... 

biasanya kalau ada target,ada indikator,.  kalau gak ad aindikator yang
tajam dan tepat, bagaimana unit ini akan mengaawasi dan mengendalikan ya

Kalau indikator pertumbuhan ekonomi, indikator kemiskinan dan lapangan
kerja, bisa jelas ada,.. 

 

Bagaimana dengan indikator untuk mengawasi tingkat tata kelolaan
pemerintahan yang baik,. atau mengukur penegakan hukum dan pemberantasan
korupsi,.. .atau bagaimana dengan indikator yang mengukur tingkat
inklusifitas dan tingkat perikeadilan antar sektor dan daerah ..

 

Indikator pencapaian itu jelas penting,.. Biar mengukur tingkat "hasil kerja
pencitraan" apakah juga merupakan "hasil kerja pembangunan" , biar bisa
jelas,..  

Mari kita tunggu target-target ambisius para menteri,.. 

Beserta indikatornya,.. jangan Cuma indikator berbasis kegiatan,. mestinya
khan berbasis hasil akhir,. 

 

Kalau reformasi pendidikan sudah dilakukan, apa itu pencapaian ? ... kalau
reformasi kesehatan sudah dilakukan apa itu pencapaian?

Yg penting khan angka buta aksara di kawasan timur Indonesia sana,. atau
angka kematian ibu dan anak di kepulauan nusa tenggara sana... 

Kalau belum tercapai, ada yang salah dengan reformasi -reformasian
tersebut,..

 

Bukan begitu? Mungkin bukan, mungkin begitu..

 

Salam,dwiagus

 


 
<http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/141539;_ylc=X3oD
MTJ0aG05amJnBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEzMDA2NzAyBGdycHNwSWQDMTcwNTA0MzY5NQRt
c2dJZAMxNDE1MzkEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTI1NjUyMTQ2Ng--> Target
Menteri Lebih Ambisius 



 
<http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/24/03344718/target.menteri..lebih.
..ambisius>
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/24/03344718/target.menteri..lebih..
.ambisius

Jakarta, Kompas - Dalam sidang kabinet paripurna pertama periode kedua
pemerintahannya, Jumat (23/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan
agar para menteri kabinet baru memasang target yang lebih ambisius untuk
mendongkrak peningkatan capaian.

Sidang yang berlangsung sehari setelah pelantikan menteri itu digelar di
ruang sidang utama Gedung Sekretariat Negara di kompleks Istana
Kepresidenan.

Salah satu indikator pembangunan yang disebut Presiden adalah pencapaian
pertumbuhan ekonomi 7 persen atau lebih pada tahun 2014. Program pengurangan
angka kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran
harus berjalan efektif. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi harus
menjadi prioritas. Ditekankan pula masalah pembangunan inklusif dan
berkeadilan antarsektor dan antardaerah.

Terkait target yang lebih ambisius, Presiden menekankan pentingnya
pencapaian diraih dengan tata kelola pemerintahan yang baik, termasuk
reformasi birokrasi. Dalam sektor pendidikan perlu dilakukan reformasi
pendidikan kedua dan adanya reformasi kesehatan pertama.

Dalam kesempatan itu juga, Presiden memperkenalkan tiga semboyan yang
diharapkan akan menyemangati anggota kabinet selama mengemban tugas.
Presiden meminta para menteri menjaga keberlanjutan program kerja, membuat
perubahan yang diperlukan, mengatasi sumbatan pertumbuhan, dan menjaga
soliditas kabinet sebagai satu tim kerja.

Tiga tagline atau semboyan Kabinet Indonesia Bersatu II yang diperkenalkan
Presiden dituliskan dalam bahasa Inggris.

"Tagline itu sesuatu yang mengingatkan kita akan menuju ke mana, dengan
semangat apa kita melangkah, yang harus kita ingat selama mengemban tugas,"
ujarnya.

Semboyan pertama adalah "Change and Continuity" (perubahan dan
keberlanjutan). Presiden mengingatkan, sebagian program Kabinet Indonesia
Bersatu I periode 2004-2009 yang dipimpinnya perlu dilanjutkan sejauh masih
relevan. Meski demikian, dibutuhkan perubahan dan perbaikan jika program
sebelumnya tidak mencapai sasaran.

"Jangan malu-malu melanjutkan policy pejabat sebelumnya. Wah, sekarang, kan,
menterinya saya, yang lain masukkan ke laci, keliru itu. Saya tak ingin
Saudara gegabah tergesa mengubah kebijakan, padahal kebijakan itu kebijakan
saya yang masih harus berlanjut lima tahun mendatang," ujar Presiden.

Semboyan kedua adalah "De-bottlenecking, Acceleration, and Enhancement"
(penguraian hambatan, percepatan, dan peningkatan).

Presiden mengatakan, ia masih melihat banyak "kemacetan" dalam berbagai
bidang, antara lain tata ruang dan perizinan. Jalan keluar mesti dicari
sebagai bagian dari upaya menguraikan hambatan itu. Selanjutnya dilakukan
percepatan, yakni meringkas proses yang bertele-tele. Para anggota kabinet
juga diminta memasang target yang lebih ambisius untuk mendongkrak
peningkatan capaian.

Semboyan ketiga adalah "Unity, Together We Can" (bersatu, bersama kita
bisa). Presiden mengingatkan, seberapa hebat keahlian setiap menteri tidak
akan banyak bermanfaat jika tidak disinergikan dengan anggota-anggota
kabinet lainnya.

"'Unity, Together We Can'. Harus kita satukan potensi ini. Bersama kita
bisa. Ke situ akhirnya. Tidak mungkin menteri perindustrian jalan sendiri
tanpa sinergi dengan Menteri Perdagangan, Menteri Negara Koperasi dan UKM,
Menteri Keuangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dan sebagainya.
Demikian juga menteri-menteri yang lain," tuturnya.

Presiden mengingatkan, terdapat tiga menteri koordinator yang bertugas
mengoordinasikan para menteri di jajaran masing-masing. Namun, para menteri
koordinator juga tidak bisa berjalan dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri
tanpa menimbang jajaran lain.

"Ada Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian
Pembangunan, yang 24 jam ibaratnya, 7 hari seminggu, untuk memastikan semua
berjalan. De-bottlenecking, karena unit kerja presiden adalah mata saya,
telinga saya, tangan saya, untuk melakukan sesuatu jika perlu," kata
Presiden Yudhoyono.

Wapres ban serep

Selain diisi paparan Presiden Yudhoyono selama sekitar 1,5 jam, Wakil
Presiden Boediono juga memberikan sambutan. Boediono mengatakan, ia meyakini
Presiden akan selalu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan semua
pihak, termasuk wakil presiden dan para menteri.

"Jadi, kalau sudah diputuskan, itu tentu menjadi satu keputusan presiden,
dan wapres akan selalu mengikuti itu, menteri-menteri juga demikian. Jadi
tidak relevan dikatakan wapres itu ban serep atau tidak karena sudah
merupakan bagian dari mobil itu secara utuh," ujarnya.

Wapres juga mengingatkan pentingnya meningkatkan soliditas anggota kabinet
sebagai satu tim kerja. Karena itu, Boediono juga akan turut memanfaatkan
unit kerja presiden dalam mendorong implementasi kebijakan.

Ke Thailand

Kemarin juga diumumkan, Presiden Yudhoyono direncanakan berada di Hua Hin,
Thailand, untuk menghadiri pertemuan kepala negara ASEAN dan Asia Timur,
24-25 Oktober. Setiba kembali dari Thailand, Presiden akan mengadakan sidang
terbatas untuk finalisasi program 100 hari kabinet.

Sidang kabinet berikutnya, kata Presiden, juga untuk memastikan para menteri
memahami prosedur dan tata kerja kabinet, hubungan presiden dan wapres,
hubungan presiden dengan para menteri serta dengan perangkat kerja kabinet
lainnya.

Berikutnya akan dilakukan rapat kerja kabinet dengan para gubernur, para
pemimpin lembaga pemerintah nondepartemen, badan-badan usaha milik negara,
serta diikuti pula oleh pejabat eselon satu dari departemen/kementerian.
(DAY)

Kirim email ke