Pak Risfan yg baik

Saya mengetik terlalu terburu-buru, jadi isinya yah berkesan sinis begitu. 
Hehehe
Tapi lebih dari itu saya sih punya harapan besar kepada unit ini. 

(Saya kurang tau apakah unit kerja ini identik dgn UKP3R-nya Pak Kuntoro ya, 
sepertinya beda ya).

Saya sekedar menekankan pentingnya indikator dalam pencapaian target. Itu saja 
pak. Hehehhe
Tawarannya untuk menawarkan (ini artinya bukan membuat tawar, tapi membuat 
tawaran khan ya hehehe) KPI-KPI yg tajam dan menggigit, tentu saja harus 
diterima...

Woiya, Saya biasanya beli koran tempo tiap pagi kalau naik Sudirman Ekspress dr 
pdk ranji. Tapi kebetulan hari ini gak naik kereta.

Salam dan terimakasih pak
Dwiagus


»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: Risfan M <[email protected]>
Date: Sun, 25 Oct 2009 22:23:00 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Katanya: Target Menteri Lebih Ambisius

Bung Dwiagus,
 
Jangan begitu .......
Buat Monevers itu bisa jadi peluang. Kali ini ada orang ahli manajemen yang 
punya pengalaman ditaruh disitu...peluang buat Monevers untuk mengusulkan 
KPI-KPI (key performance indicators) yang selama ini kita diskusikan.
 
Jangan ikut-ikut koran yang sinis, kerjaan jurnalis biar dikerjakan mereka. 
Kita bagian memanfaatkan peluang saja Mas. Jarang orang manajemen ditempatkan 
setinggi itu, biasanya kan ekonom, politikus yang bla-bla bla ....tapi gak tahu 
Indikator kinerja, gak tahu network plan, gak tahu logistik, project 
planning....he he he. Lihat saja KPU itu dari dulu kebobolannya di logistik, 
procurement, delivery management.......
 
Kalau KPI-KPI itu, balance score card dst.... makin hari makin difahami dan 
bener, kan lumayan. Saya lihat Koran Tempo juga rutin menurunkan artikel yang 
mengulas KPI tiap departemen, apa rekan-rekan Monev ada yang klipping?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Sun, 10/25/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: [referensi] Katanya: Target Menteri Lebih Ambisius
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Sunday, October 25, 2009, 11:43 PM


  








"Ada Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, 
yang 24 jam ibaratnya, 7 hari seminggu, untuk memastikan semua berjalan.”, kata 
pak SBY.
 
Kalau mengutip pernyataan presiden,… ternyata kita punya yang namanya Unit 
Kerja untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan
 
Keren juga.
 
Mungkin unit ini yang kemudian mengawasi pencapaian target para menteri,….. 
biasanya kalau ada target,ada indikator,…  kalau gak ad aindikator yang tajam 
dan tepat, bagaimana unit ini akan mengaawasi dan mengendalikan ya
Kalau indikator pertumbuhan ekonomi, indikator kemiskinan dan lapangan kerja, 
bisa jelas ada,.. 
 
Bagaimana dengan indikator untuk mengawasi tingkat tata kelolaan pemerintahan 
yang baik,… atau mengukur penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,.. .atau 
bagaimana dengan indikator yang mengukur tingkat inklusifitas dan tingkat 
perikeadilan antar sektor dan daerah ….
 
Indikator pencapaian itu jelas penting,…. Biar mengukur tingkat “hasil kerja 
pencitraan” apakah juga merupakan “hasil kerja pembangunan” , biar bisa 
jelas,….  
Mari kita tunggu target-target ambisius para menteri,.. 
Beserta indikatornya,…… jangan Cuma indikator berbasis kegiatan,… mestinya khan 
berbasis hasil akhir,… 
 
Kalau reformasi pendidikan sudah dilakukan, apa itu pencapaian ? ….. kalau 
reformasi kesehatan sudah dilakukan apa itu pencapaian?
Yg penting khan angka buta aksara di kawasan timur Indonesia sana,… atau angka 
kematian ibu dan anak di kepulauan nusa tenggara sana….. 
Kalau belum tercapai, ada yang salah dengan reformasi –reformasian tersebut,….
 
Bukan begitu? Mungkin bukan, mungkin begitu….
 
Salam,dwiagus
 

Target Menteri Lebih Ambisius 



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/10/24/ 03344718/ target.menteri. 
.lebih... ambisius

Jakarta, Kompas - Dalam sidang kabinet paripurna pertama periode kedua 
pemerintahannya, Jumat (23/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan 
agar para menteri kabinet baru memasang target yang lebih ambisius untuk 
mendongkrak peningkatan capaian.

Sidang yang berlangsung sehari setelah pelantikan menteri itu digelar di ruang 
sidang utama Gedung Sekretariat Negara di kompleks Istana Kepresidenan.

Salah satu indikator pembangunan yang disebut Presiden adalah pencapaian 
pertumbuhan ekonomi 7 persen atau lebih pada tahun 2014. Program pengurangan 
angka kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran 
harus berjalan efektif. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi harus menjadi 
prioritas. Ditekankan pula masalah pembangunan inklusif dan berkeadilan 
antarsektor dan antardaerah.

Terkait target yang lebih ambisius, Presiden menekankan pentingnya pencapaian 
diraih dengan tata kelola pemerintahan yang baik, termasuk reformasi birokrasi. 
Dalam sektor pendidikan perlu dilakukan reformasi pendidikan kedua dan adanya 
reformasi kesehatan pertama.

Dalam kesempatan itu juga, Presiden memperkenalkan tiga semboyan yang 
diharapkan akan menyemangati anggota kabinet selama mengemban tugas. Presiden 
meminta para menteri menjaga keberlanjutan program kerja, membuat perubahan 
yang diperlukan, mengatasi sumbatan pertumbuhan, dan menjaga soliditas kabinet 
sebagai satu tim kerja.

Tiga tagline atau semboyan Kabinet Indonesia Bersatu II yang diperkenalkan 
Presiden dituliskan dalam bahasa Inggris.

"Tagline itu sesuatu yang mengingatkan kita akan menuju ke mana, dengan 
semangat apa kita melangkah, yang harus kita ingat selama mengemban tugas," 
ujarnya.

Semboyan pertama adalah "Change and Continuity" (perubahan dan keberlanjutan) . 
Presiden mengingatkan, sebagian program Kabinet Indonesia Bersatu I periode 
2004-2009 yang dipimpinnya perlu dilanjutkan sejauh masih relevan. Meski 
demikian, dibutuhkan perubahan dan perbaikan jika program sebelumnya tidak 
mencapai sasaran.

"Jangan malu-malu melanjutkan policy pejabat sebelumnya. Wah, sekarang, kan, 
menterinya saya, yang lain masukkan ke laci, keliru itu. Saya tak ingin Saudara 
gegabah tergesa mengubah kebijakan, padahal kebijakan itu kebijakan saya yang 
masih harus berlanjut lima tahun mendatang," ujar Presiden.

Semboyan kedua adalah "De-bottlenecking, Acceleration, and Enhancement" 
(penguraian hambatan, percepatan, dan peningkatan) .

Presiden mengatakan, ia masih melihat banyak "kemacetan" dalam berbagai bidang, 
antara lain tata ruang dan perizinan. Jalan keluar mesti dicari sebagai bagian 
dari upaya menguraikan hambatan itu. Selanjutnya dilakukan percepatan, yakni 
meringkas proses yang bertele-tele. Para anggota kabinet juga diminta memasang 
target yang lebih ambisius untuk mendongkrak peningkatan capaian.

Semboyan ketiga adalah "Unity, Together We Can" (bersatu, bersama kita bisa). 
Presiden mengingatkan, seberapa hebat keahlian setiap menteri tidak akan banyak 
bermanfaat jika tidak disinergikan dengan anggota-anggota kabinet lainnya.

"'Unity, Together We Can'. Harus kita satukan potensi ini. Bersama kita bisa. 
Ke situ akhirnya. Tidak mungkin menteri perindustrian jalan sendiri tanpa 
sinergi dengan Menteri Perdagangan, Menteri Negara Koperasi dan UKM, Menteri 
Keuangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dan sebagainya. Demikian juga 
menteri-menteri yang lain," tuturnya.

Presiden mengingatkan, terdapat tiga menteri koordinator yang bertugas 
mengoordinasikan para menteri di jajaran masing-masing. Namun, para menteri 
koordinator juga tidak bisa berjalan dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri 
tanpa menimbang jajaran lain.

"Ada Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, 
yang 24 jam ibaratnya, 7 hari seminggu, untuk memastikan semua berjalan. 
De-bottlenecking, karena unit kerja presiden adalah mata saya, telinga saya, 
tangan saya, untuk melakukan sesuatu jika perlu," kata Presiden Yudhoyono.

Wapres ban serep

Selain diisi paparan Presiden Yudhoyono selama sekitar 1,5 jam, Wakil Presiden 
Boediono juga memberikan sambutan. Boediono mengatakan, ia meyakini Presiden 
akan selalu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan semua pihak, termasuk 
wakil presiden dan para menteri.

"Jadi, kalau sudah diputuskan, itu tentu menjadi satu keputusan presiden, dan 
wapres akan selalu mengikuti itu, menteri-menteri juga demikian. Jadi tidak 
relevan dikatakan wapres itu ban serep atau tidak karena sudah merupakan bagian 
dari mobil itu secara utuh," ujarnya.

Wapres juga mengingatkan pentingnya meningkatkan soliditas anggota kabinet 
sebagai satu tim kerja. Karena itu, Boediono juga akan turut memanfaatkan unit 
kerja presiden dalam mendorong implementasi kebijakan.

Ke Thailand

Kemarin juga diumumkan, Presiden Yudhoyono direncanakan berada di Hua Hin, 
Thailand, untuk menghadiri pertemuan kepala negara ASEAN dan Asia Timur, 24-25 
Oktober. Setiba kembali dari Thailand, Presiden akan mengadakan sidang terbatas 
untuk finalisasi program 100 hari kabinet.

Sidang kabinet berikutnya, kata Presiden, juga untuk memastikan para menteri 
memahami prosedur dan tata kerja kabinet, hubungan presiden dan wapres, 
hubungan presiden dengan para menteri serta dengan perangkat kerja kabinet 
lainnya.

Berikutnya akan dilakukan rapat kerja kabinet dengan para gubernur, para 
pemimpin lembaga pemerintah nondepartemen, badan-badan usaha milik negara, 
serta diikuti pula oleh pejabat eselon satu dari departemen/kementer ian. (DAY)















      

Kirim email ke