Pak ATA ysh, mengingat Pak Nuzul sedang di 'lapangan', saya kira yang disampaikan Pak Nuzul masih berupa scratch-note, jadi belum suatu paparan ilmiah yang utuh. Satu model scratch-notes yang dikompilasi adalah bukunya Pak Sumitro Joyohadikusumo yang covernya warna merah marun itu. Sekarang sudah datang Pak Wawo, yang pelan-pelan mulai mengeluarkan head-notesnya. Mudah-mudahan nanti bisa kita hasilkan recorded-notes. Mengenai substansi, mudah-mudahan Pak Nuzul berkenan menjelaskan. Salam.
-ekadj --- In [email protected], abimanyu takdir alamsyah <takdi...@...> wrote: > > Rekan ysh, > > Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di lingkungan > yang berbeda dari NKRI. > Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan susun > teori ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara kepulauan > ini mas. Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan dengan > kuantitifikasi perilaku ekonomi makro punya arti. > Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara mengenai CTI > terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di masa > mendatang misalnya... > > Salam, > ATA > > > 2009/10/25 Nuzul Achjar ach...@... > > > > > > > Sahabat Referensiers Ysh, > > > > Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner, berikut > > saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari lalu. > > Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah provinsi > > untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur > > kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang dikeluarkan oleh > > Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta mereka > > membuat analisis tentang indikator kesejahteraan. > > > > Salam hangat, > > Nuzul Achjar > > > > > > > > > > PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS > > > > Oleh: Nuzul Achjar > > > > > > > > Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II > > pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim ekonomi, > > presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan > > pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010, dari > > lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang pertumbuhan > > ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi lagi > > dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014 pada > > Selasa, 20 Oktober 2009. > > > > > > > > Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi > > berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan Riau dan > > apa implikasinya. > > > > > > > > Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca berbagai > > indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang lazim > > juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ataupun > > pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level regional. Di > > samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya seperti > > inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat > > kemiskinan, dan lainnya. > > > > > > > > Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana telah > > disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi ataupun > > konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai > > keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk mengevaluasi > > kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan PDRB > > per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil tentang > > kesejahteraan. > > > > > > > > Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro > > tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas Sarkozy > > pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom terkemuka > > seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi. Stiglitz dan > > kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut "*Commission on > > the Measurement of Economic Performance and Social Progress*" (Komisi > > Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini sekitar > > pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil kajiannya. > > > > > > > > Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan menyoroti berbagai kelemahan > > ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk mengukur > > pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah > > dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena perubahan > > teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang diolah > > haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan. Jadi kuncinya terletak > > pada proses memasak data-data tersebut. > > > > > > > > Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan kesehatan > > yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah sektor > > jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji guru, > > pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus usaha > > institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut tidak akan > > banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan kesehatan, yang > > justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Di > > sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas faktor-faktor > > produksi. > > > > > > > > Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di Batam atau > > Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros. > > Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM. Tentu > > logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat. Namun > > catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak belakang > > dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh konsumsi BBM > > menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara. > > > > > > > > Stiglitz mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global > > mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari sisi > > produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi, sosial > > dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau *information and > > communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi tentang > > indikator ekonomi makro. > > > > > > > > Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan kita > > yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola konsumsi, > > termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan dini, dan > > akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang berdampak > > sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh tidak > > lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*). > > > > > > > > Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12 saran > > yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi makro dan > > kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya untuk > > terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro, termasuk > > data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan dengan baik > > tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data yang baik > > tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai tingkat > > pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan oleh pihak > > swasta sekalipun. > > > > > > > > Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro dan > > mikro di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan semata > > ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia. > > Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh perangkat > > infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi antar > > instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi maupun maupun > > intra provinsi. > > > > > > > > Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya > > cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun 2008 > > merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi tertinggi > > terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung - Babel) > > yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di Kepulauan > > Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008. Dengan PDRB > > per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan Provinsi Babel > > yaitu berkisar Rp 2,874 juta Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan RAPBN > > 2010), pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih tinggi > > dibandingkan Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau (10,5%). > > > > > > > > > > Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme, dorongan dan > > kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target *Millenium > > Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan > > monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas pendidikan dan > > kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real time*. > > Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa infrastruktur TIK atau > > ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas hidup > > melalui akses informasi. > > > > > > > > Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT > > merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang sangat > > penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (*social > > overhead capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan tinggi yang > > tidak didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana sekalipun. > > Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator ketersediaan > > ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi di > > antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul karena > > didukung oleh ketersediaan ICT di kampus. > > > > > > > > Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal jika > > institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database yang > > terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun spasial. > > Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi > > kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang konstruksi > > kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim, akuntan > > publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia maritim > > dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita berniat untuk > > meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang berkualitas, > > berdaya saing dan kreatif. Semoga.

