Eka, I am still scratching my head, but thank God you keep noticing, 
ini saya kira juga utk si Hengky  gleen, gleen, gleen,  barangkali kalian ada 
lelucon India atau Arab yang kurang lucu sih bisa juga asal serious khan. 




________________________________
From: ffekadj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, October 30, 2009 5:07:48 AM
Subject: [referensi] Re: Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

  

Pak ATA ysh, mengingat Pak Nuzul sedang di 'lapangan', saya kira yang
disampaikan Pak Nuzul masih berupa scratch-note, jadi belum suatu
paparan ilmiah yang utuh. Satu model scratch-notes yang dikompilasi
adalah bukunya Pak Sumitro Joyohadikusumo yang covernya warna merah
marun itu. Sekarang sudah datang Pak Wawo, yang pelan-pelan mulai
mengeluarkan head-notesnya. Mudah-mudahan nanti bisa kita hasilkan
recorded-notes. Mengenai substansi, mudah-mudahan Pak Nuzul berkenan
menjelaskan. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah
<takdi...@.. .> wrote:
>
> Rekan ysh,
>
> Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di
lingkungan
> yang berbeda dari NKRI.
> Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan
susun
> teori ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara
kepulauan
> ini mas. Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan dengan
> kuantitifikasi perilaku ekonomi makro punya arti.
> Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara mengenai
CTI
> terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di
masa
> mendatang misalnya...
>
> Salam,
> ATA
>
>
> 2009/10/25 Nuzul Achjar ach...@...
>
> >
> >
> > Sahabat Referensiers Ysh,
> >
> > Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner,
berikut
> > saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari
lalu.
> > Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah
provinsi
> > untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur
> > kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang
dikeluarkan oleh
> > Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta
mereka
> > membuat analisis tentang indikator kesejahteraan.
> >
> > Salam hangat,
> > Nuzul Achjar
> >
> >
> >
> >
> > PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS
> >
> > Oleh: Nuzul Achjar
> >
> >
> >
> > Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu
(KIB) II
> > pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim
ekonomi,
> > presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan
> > pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010,
dari
> > lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang
pertumbuhan
> > ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi
lagi
> > dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014
pada
> > Selasa, 20 Oktober 2009.
> >
> >
> >
> > Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi
> > berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan
Riau dan
> > apa implikasinya.
> >
> >
> >
> > Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca
berbagai
> > indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang
lazim
> > juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB),
ataupun
> > pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level
regional. Di
> > samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya
seperti
> > inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat
> > kemiskinan, dan lainnya.
> >
> >
> >
> > Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana
telah
> > disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi
ataupun
> > konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai
> > keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk
mengevaluasi
> > kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan
PDRB
> > per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil
tentang
> > kesejahteraan.
> >
> >
> >
> > Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro
> > tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas
Sarkozy
> > pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom
terkemuka
> > seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi.
Stiglitz dan
> > kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut
"*Commission on
> > the Measurement of Economic Performance and Social Progress*"
(Komisi
> > Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini
sekitar
> > pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil
kajiannya.
> >
> >
> >
> > Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan menyoroti berbagai
kelemahan
> > ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk
mengukur
> > pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang
salah
> > dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena
perubahan
> > teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang
diolah
> > haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan. Jadi kuncinya
terletak
> > pada proses memasak data-data tersebut.
> >
> >
> >
> > Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan
kesehatan
> > yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah
sektor
> > jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji
guru,
> > pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus
usaha
> > institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut
tidak akan
> > banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan
kesehatan, yang
> > justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang
berkualitas. Di
> > sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas
faktor-faktor
> > produksi.
> >
> >
> >
> > Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di
Batam atau
> > Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros.
> > Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM.
Tentu
> > logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat.
Namun
> > catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak
belakang
> > dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh
konsumsi BBM
> > menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara.
> >
> >
> >
> > Stiglitz mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global
> > mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari
sisi
> > produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi,
sosial
> > dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau
*information and
> > communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi
tentang
> > indikator ekonomi makro.
> >
> >
> >
> > Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan
kita
> > yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola
konsumsi,
> > termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan
dini, dan
> > akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang
berdampak
> > sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh
tidak
> > lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*).
> >
> >
> >
> > Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12
saran
> > yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi
makro dan
> > kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya
untuk
> > terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro,
termasuk
> > data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan
dengan baik
> > tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data
yang baik
> > tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai
tingkat
> > pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan
oleh pihak
> > swasta sekalipun.
> >
> >
> >
> > Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro
dan
> > mikro di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan
semata
> > ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia.
> > Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh perangkat
> > infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi
antar
> > instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi maupun
maupun
> > intra provinsi.
> >
> >
> >
> > Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau
sebenarnya
> > cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun
2008
> > merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi
tertinggi
> > terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung -
Babel)
> > yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di
Kepulauan
> > Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008.
Dengan PDRB
> > per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan
Provinsi Babel
> > yaitu berkisar Rp 2,874 juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan
RAPBN
> > 2010), pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih
tinggi
> > dibandingkan Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau
(10,5%).
> >
> >
> >
> >
> > Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme,
dorongan dan
> > kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target
*Millenium
> > Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan
> > monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas
pendidikan dan
> > kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real
time*.
> > Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa infrastruktur
TIK atau
> > ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas
hidup
> > melalui akses informasi.
> >
> >
> >
> > Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT
> > merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang sangat
> > penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia
(*social
> > overhead capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan
tinggi yang
> > tidak didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana
sekalipun.
> > Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator
ketersediaan
> > ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi
di
> > antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul
karena
> > didukung oleh ketersediaan ICT di kampus.
> >
> >
> >
> > Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal
jika
> > institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database
yang
> > terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun
spasial.
> > Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi
> > kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang
konstruksi
> > kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim,
akuntan
> > publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia
maritim
> > dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita
berniat untuk
> > meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang
berkualitas,
> > berdaya saing dan kreatif. Semoga.


   


      

Kirim email ke