Pak Ata, sudah sejak tahun 2000 saya meyakini bahwa Indonesia itu unik, seperti 
halnya dengan tempat-tempat lain. Artinya, keunikan lokal atau dalam bahasa 
kita keunikan ruang-ruang lokal menjadi unit kajian yang semestinya menjadi 
penting dalam proses mengembangkan teori yang akan digunakan sebagai landasan 
aksi-intervensi di Indonesia. Barangkali persoalannya adalah perlunya dialog 
berbagai pendekatan, misalnya kuantitatif dan kualitatif, mikso-meso-makro, dab 
sebagainya. Ruang-ruang lokal tentunya selalu dalam relasi dengan yang lain, 
karena adanya "the hidden connections" seperti diyakini oleh Capra. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 10/30/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas
To: [email protected]
Date: Friday, October 30, 2009, 9:54 AM






 




    
                  Rekan ysh,

Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di lingkungan yang 
berbeda dari NKRI.
Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan susun teori 
ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara kepulauan ini mas. 
Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan dengan kuantitifikasi 
perilaku ekonomi makro punya arti. 

Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara mengenai CTI 
terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di masa 
mendatang misalnya...

Salam,
ATA



2009/10/25 Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>













 




    
                  Sahabat Referensiers Ysh,
 
Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner, berikut saya 
kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari lalu. Motivasi 
tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah provinsi untuk tidak 
terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur kesejahteraan. Tulisan 
ini dimotivasi oleh publikasi yang dikeluarkan oleh Stiglitz, Amartya Sen, 
Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta mereka membuat analisis tentang 
indikator kesejahter aan.


 
Salam hangat,
Nuzul Achjar
 

 
PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS

Oleh: Nuzul Achjar

 

Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II 
pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim ekonomi, presiden 
SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi 
berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010, dari lima sasaran yang akan 
dicapai, dua di antaranya adalah tentang pertumbuhan ekonomi berkualitas dan 
kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi lagi dalam pidato pelantikan SBY 
sebagai presiden masa bakti 2009-2014 pada Selasa,  20 Oktober 2009.


 
Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi berkualitas 
dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan Riau dan apa implikasinya.


 
Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca berbagai 
indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang lazim juga 
disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ataupun pertumbuhan 
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level regional. Di samping PDB dan 
PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya seperti inflasi, indeks 
harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, dan lainnya.


 
Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana telah 
disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi ataupun 
konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai keterbatasan 
tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk mengevaluasi kesejahteraan 
masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan PDRB per kapita misalnya 
belum memberikan gambaran yang lebih riil tentang kesejahteraan. 


 
Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional 
untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas Sarkozy pada Februari 
2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom terkemuka seperti Yoseph 
Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi. Stiglitz dan kawan-kawan 
kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut “Commission on the Measurement of 
Economic Performance and Social Progress” (Komisi Pengukuran Kinerja Ekonomi 
dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini sekitar pertengahan tahun 2009, komisi 
telah mempublikasikan hasil kajiannya.  


 
Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan  menyoroti berbagai kelemahan 
ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk mengukur 
pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam 
penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena perubahan teknologi, 
bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang diolah haruslah 
mencerminkan cita rasa kesejahteraan.  Jadi kuncinya terletak pada proses 
memasak data-data tersebut.    


 
Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan kesehatan 
yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah sektor jasa 
tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji guru, pengajar, 
dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus usaha institusi 
pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut tidak akan banyak 
berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan kesehatan, yang justru 
penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Di sini kita 
berbicara tentang ouput, outcome dan kualitas faktor-faktor  produksi. 


 
Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di Batam atau 
Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros. Peningkatan 
konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM. Tentu logis pula jika 
catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat. Namun catatan tentang 
pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak belakang dengan aspek 
kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh konsumsi BBM menurunkan 
kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara.


 
Stiglitz  mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global 
mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari sisi 
produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi, sosial dan 
budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau information and 
communication technology (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi tentang 
indikator ekonomi makro. 


 
Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan kita yang 
terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola konsumsi, termasuk 
utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan dini, dan akibatnya pun 
jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang berdampak sangat luas. 
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh tidak lebih dari 
perekonomian buih (bubble economy).


 
Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12 saran yang 
diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi makro dan kemajuan 
sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya untuk terus menerus 
memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro, termasuk data sosial budaya. 
Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan dengan baik tanpa didukung oleh 
analisis data yang baik. Kebutuhan akan data yang baik tidak hanya penting 
untuk para pengambil keputusan di berbagai tingkat pemerintahan, tetapi juga 
untuk para peneliti, akademisi, bahkan oleh pihak swasta sekalipun.


 
Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro dan mikro  
di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan semata ditujukan pada 
keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia. Seringkali kualitas data 
yang tersedia tidak didukung oleh perangkat infrastruktur seperti jaringan 
informasi dan teknologi komunikasi antar instansi pemerintah daerah, baik antar 
kabupaten dan provinsi maupun maupun intra provinsi.


 
Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya 
cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun 2008 
merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi tertinggi 
terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung - Babel) 
yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di Kepulauan Riau 
menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008. Dengan PDRB per 
kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan Provinsi Babel yaitu 
berkisar Rp 2,874  juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan RAPBN 2010), pada 
tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih tinggi dibandingkan Babel 
(8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau (10,5%).  


 
Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme, dorongan dan kerja 
keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target Millenium Development 
Goal (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan monitoring dan evaluasi 
yang terus menerus tentang kualitas pendidikan dan kesehatan melalui teknologi 
informasi secara berkala, bahkan real time. Ketiga, memberikan kesadaran kepada 
semua pihak bahwa infrastruktur TIK atau ICT merupakan bagian tidak terpisahkan 
untuk memperbaiki kualitas hidup melalui akses informasi. 


 
Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT merupakan 
bagian utilitas jaringan (network utilities) yang sangat penting untuk 
mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (social overhead capital). 
Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan tinggi yang tidak didukung oleh 
ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana sekalipun. Ranking universitas 
antara lain dapat dilihat dari indikator ketersediaan ICT untuk mempermudah 
komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi di antara pengajar, peneliti. 
Banyak kreatifitas mahasiswa muncul karena didukung oleh ketersediaan ICT di 
kampus. 


 
Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal jika 
institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database yang terkait 
dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun spasial. Dengan 
database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi kebutuhan akan 
tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang konstruksi kapal, jasa 
transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim, akuntan publik dan 
perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia maritim dan kelautan 
yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita berniat  untuk meningkatkan 
kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang berkualitas, berdaya saing 
dan kreatif. Semoga. 


 
  


 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke