Baik Pak Risfan, saya sedang mengira-ngira lokasi lapangannya.

Dari kisah bapak dapat dilihat adalah penting untuk immersion, kalau
tidak, kita akhirnya hanya mengandalkan pandangan etic saja. Saya punya
pengalaman lain cukup lama berselang. Pernah saya dan seorang rekan
diajak untuk mengobservasi kota Tolitoli. Dari Palu ke Tolitoli
menghabiskan waktu satu malam perjalanan. Sesampai di Tolitoli saya
sudah merasakan pandangan berbeda sejak masuk kamar hotel, selalu
diperlakukan istimewa. Termasuk di tempat umum seperti restoran, semua
mata memandang kepada kami. Rupanya sebelum kami datang, masyarakat
sudah heboh karena ada berita pejabat-pejabat dari sebuah instansi di
bilangan Menteng mau datang ke Tolitoli. Kalau sudah begini tentunya
sulit mendapatkan the deep structure of emic, karena kami sudah
dipandang sebagai elit.

Ada saran dari Geertz, bahwa pandangan seorang informan "is not one
native's view, but a delicate amalgamation that represents the whole
culture in its full complexity". Karena "man is an animal suspended in
webs of significance he himself has spun. I take culture to be those
webs, and the analysis of it to be therefore not an experimental science
in search of law but an interpretive one in search of meaning". (1973)

Ada satu tulisan Geertz yang sangat terkenal di seluruh dunia menyangkut
interpretasi lapangan ini, yaitu "Deep Play: Notes on the Balinese
Cockfight <http://webhome.idirect.com/~boweevil/BaliCockGeertz.html> ".
Sangat sederhana namun sungguh mendalam Geertz menggambarkan kebudayaan
Bali ini, yaitu cukup digambarkan melalui sabung ayam. Dari fieldwork,
Geertz baru memperoleh immersion setelah ikutan kabur dikejar polisi.
Dan setelah itu, dunia lapangan menjadi sangat berbeda.

Demikian pak. Kita perlu juga mendengar pengalaman dan penafsiran
lapangan dari rekan-rekan lain. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
>
> Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di lapangan, karena ada
google earth.
>
> Tapi saya punya pengalaman lain, waktu studia urban planning, saat
ngeplot peta sekaligus household interview secara random, di suatu
kawasan di daerah itu. Pertama-tama agak alot mengetuk pintu, minta
kesediaan diinterview, tapi makin jauh saya jalan kok makin ramah
orang-orangnya, sampai di kampung tertentu malah diundang kami oleh 1-2
gadis yang duduk depan pintu ....dan, ya ampun... kompleks itu.
Ngacirlah kami.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] fieldwork
>
>
> Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional
merencana di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan
akan di lapangan selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk
5 hari, realita pertama yang saya temui setelah lepas bangku sekolah.
Kemudian memang datang ke lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula.
Dalam kesempitan waktu saya akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari
kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. Sebelum dapat peta itu memang
membuat sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga diliatin warga, karena
kemana-mana menggenggam clipboard; jadi saya orang asing di tempat itu,
tidak ada proses immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan lokasi
kuburan, letak gardu dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan,
dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah warga, dan menaksir
kedalaman muka air sumur, karena merasa mampu untuk membuat peta
geohidrologi. Dari data monografi beberapa desa saya melihat ada
beberapa data bolong, terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW untuk
melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup.
> Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT sudah
sedemikian rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork;
perolehan data dan informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa
dilakukan dalam waktu 2 jam. Teknologi mapping telah mereduksi banyak
ketelitian. Dan yang terpenting: analisis kualitatif cenderung menjadi
kajian normatif.
> Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi akhir.
Saya mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin
menyampaikan satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang
bermimpi, maka itu memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang
bermimpi, maka itu adalah awal dari kenyataan ..." Dalam sesi
tanya-jawab, seorang anggota DPRD seakan menjawab seruan saya: "... ya
bapak-ibu sekalian, hari ini kita sungguh mendapatkan mimpi-mimpi indah
..."
> Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama
bermimpi. Dari perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari
kenyataan? Salam.
> -ekadj
> catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll
adalah terkategori kualitatif
> catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif, data kuantitatif
bersifat sekunder; demikian sebaliknya.
>
> --- In [email protected], Risfan M risfano@ wrote:
> >
> > Rekans ysh,
> > Â
> > Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan
kualitatif murni, ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus
"datang dengan peta kosong", bahkan peta dasar saja disarankan dibuat
sendiri oleh komunitas setempat. Bagaimana dengan RTRW? Yang mana
provinsi harus ikut nasional, kab/kota harus mengacu provinsi, dst?
> > Â
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > www.samuraisejati.blogspot.com
>


Kirim email ke