Wah wah sama seperti saya, takut ditugasi mewawancara WTS di Parangkusumo. 
Biasanya ada cara tidak langsung....pakai teknik percakapan, misalnya kita di 
angkringan kemudian ikut minum di tempat itu beberapa gelas air jeruk panas 
(sebagai indikator waktu) dan berkesempatan mendengarkan pembicaraan orang 
tentang orang lain atau situasi di daerah itu. Kita bisa merekam gambaran umum 
dan khususnya. Maaf pak ini nggak menggurui, tetapi itu saya kerjakan.

Strateginya kan mulai dari tidak langsung, baru kemudian langsung menuju ke 
plot-plot, dalam istilah saya sekarang ada yang namanya "momen kunci" atau 
"kejadian kunci" dan ada juga "istilah lokal kunci" yang dahsyat arti dan 
maknanya sehingga bisa memberikan gambaran lengkap melalui jengukan sedikit 
saja. Mengapa ? sebab memang ada fenomena yang berulang-ulang, kemudian unsur 
hakikinya bisa kita peroleh dalam momen yang kebetulan kita temui.

Rebutan langganan mungkin menjadi kejadian yang selalu berulang diantara WTS, 
dan kita bisa menggambarkan fenomena hakikinya dari beberapa kejadian kunci 
yang kita temui, amati dan deskripsikan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 11/1/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] fieldwork
To: [email protected]
Date: Sunday, November 1, 2009, 5:49 AM






 




    
                  Uda Ekadj dan rekans ysh,

Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di lapangan, karena ada google 
earth.

Tapi saya punya pengalaman lain, waktu studia urban planning, saat ngeplot peta 
sekaligus household interview secara random, di suatu kawasan di daerah itu. 
Pertama-tama agak alot mengetuk pintu, minta kesediaan diinterview, tapi makin 
jauh saya jalan kok makin ramah orang-orangnya, sampai di kampung tertentu 
malah diundang kami oleh 1-2 gadis yang duduk depan pintu ....dan, ya ampun... 
kompleks itu. Ngacirlah kami.

Salam,
Risfan Munir







From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] fieldwork

  Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional merencana 
di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan akan di lapangan 
selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk 5 hari, realita pertama 
yang saya temui setelah lepas bangku sekolah. Kemudian memang datang ke 
lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula. Dalam kesempitan waktu saya 
akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari kantor BPN, sudah lumayan ada toponya. 
Sebelum dapat peta itu memang membuat sketsa kasar dari kkn. Sempat risih juga 
diliatin warga, karena kemana-mana menggenggam clipboard; jadi saya orang asing 
di tempat itu, tidak ada proses immersion. Tapi saya cukup cermat memperhatikan 
lokasi kuburan, letak gardu dan tiang listrik, apakah di kanan atau kiri jalan, 
dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah warga, dan menaksir kedalaman muka 
air sumur, karena merasa mampu untuk membuat peta geohidrologi. Dari data 
monografi beberapa desa saya
 melihat ada beberapa data bolong, terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW 
untuk melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup.Bila dibandingkan dengan kondisi 
saat ini, ketika kemajuan ICT sudah sedemikian rupa, yang berarti kemunduran 
dalam metode fieldwork; perolehan data dan informasi sudah sangat mudah. Malah 
fieldwork bisa dilakukan dalam waktu 2 jam. Teknologi mapping telah mereduksi 
banyak ketelitian. Dan yang terpenting: analisis kualitatif cenderung menjadi 
kajian normatif.Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi 
akhir. Saya mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin 
menyampaikan satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang 
bermimpi, maka itu memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang bermimpi, 
maka itu adalah awal dari kenyataan ..." Dalam sesi tanya-jawab, seorang 
anggota DPRD seakan menjawab seruan saya: "... ya bapak-ibu sekalian, hari ini 
kita sungguh mendapatkan mimpi-mimpi indah
 ..."Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama bermimpi. 
Dari perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari kenyataan? 
Salam.-ekadjcatatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, 
dll adalah terkategori kualitatifcatatan untuk Pak Eko: dalam analisis 
kualitatif, data kuantitatif bersifat sekunder; demikian sebaliknya.
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
>  
> Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif murni, 
> ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan peta kosong", 
> bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh komunitas setempat. 
> Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut nasional, kab/kota harus 
> mengacu provinsi, dst?
>  
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati. blogspot. com

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke