Pak Eka, dongeng tentang sabung ayam di Bali itu menjadi sebuah diskusi hangat 
dan mendalam ketika saya mengambil mk antropologi yang dibimbing oleh DR. PM 
Laksono. Menarik memang, sebab sabung ayam adalah fenomena yang tampak, tetapi 
sebenarnya sabung antar para laki-laki (ayam juga). Itu interpretasi dangkalnya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 11/1/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: fieldwork
To: [email protected]
Date: Sunday, November 1, 2009, 7:21 AM






 




    
                  Baik Pak Risfan, saya sedang mengira-ngira lokasi lapangannya.
Dari kisah bapak dapat dilihat adalah penting untuk immersion, kalau tidak, 
kita akhirnya hanya mengandalkan pandangan etic saja. Saya punya pengalaman 
lain cukup lama berselang. Pernah saya dan seorang rekan diajak untuk 
mengobservasi kota Tolitoli. Dari Palu ke Tolitoli menghabiskan waktu satu 
malam perjalanan. Sesampai di Tolitoli saya sudah merasakan pandangan berbeda 
sejak masuk kamar hotel, selalu diperlakukan istimewa. Termasuk di tempat umum 
seperti restoran, semua mata memandang kepada kami. Rupanya sebelum kami 
datang, masyarakat sudah heboh karena ada berita pejabat-pejabat dari sebuah 
instansi di bilangan Menteng mau datang ke Tolitoli. Kalau sudah begini 
tentunya sulit mendapatkan the deep structure of emic, karena kami sudah 
dipandang sebagai elit.
Ada saran dari Geertz, bahwa pandangan seorang informan "is not one native's 
view, but a delicate amalgamation that represents the whole culture in its full 
complexity". Karena "man is an animal suspended in webs of significance he 
himself has spun. I take culture to be those webs, and the analysis of it to be 
therefore not an experimental science in search of law but an interpretive one 
in search of meaning". (1973)
Ada satu tulisan Geertz yang sangat terkenal di seluruh dunia menyangkut 
interpretasi lapangan ini, yaitu "Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight". 
Sangat sederhana namun sungguh mendalam Geertz menggambarkan kebudayaan Bali 
ini, yaitu cukup digambarkan melalui sabung ayam. Dari fieldwork, Geertz baru 
memperoleh immersion setelah ikutan kabur dikejar polisi. Dan setelah itu, 
dunia lapangan menjadi sangat berbeda.
Demikian pak. Kita perlu juga mendengar pengalaman dan penafsiran lapangan dari 
rekan-rekan lain. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
> 
> Ya, kalau sekarang Anda gak usah ngeplot peta di lapangan, karena ada google 
> earth.
> 
> Tapi saya punya pengalaman lain, waktu studia urban planning, saat ngeplot 
> peta sekaligus household interview secara random, di suatu kawasan di daerah 
> itu. Pertama-tama agak alot mengetuk pintu, minta kesediaan diinterview, tapi 
> makin jauh saya jalan kok makin ramah orang-orangnya, sampai di kampung 
> tertentu malah diundang kami oleh 1-2 gadis yang duduk depan pintu ....dan, 
> ya ampun... kompleks itu. Ngacirlah kami.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Sunday, November 01, 2009 12:08 AM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: [referensi] fieldwork
> 
> 
> Pak Risfan ysh, saya teringat dulu pertama kali kerja profesional merencana 
> di Kuningan, hampir 20 tahun yang lalu. Saya dulu merencanakan akan di 
> lapangan selama 20 hari, namun majikan saya memberikan osa untuk 5 hari, 
> realita pertama yang saya temui setelah lepas bangku sekolah. Kemudian memang 
> datang ke lapangan dengan tangan kosong, sendirian pula. Dalam kesempitan 
> waktu saya akhirnya bisa dapat kopi peta tgl dari kantor BPN, sudah lumayan 
> ada toponya. Sebelum dapat peta itu memang membuat sketsa kasar dari kkn. 
> Sempat risih juga diliatin warga, karena kemana-mana menggenggam clipboard; 
> jadi saya orang asing di tempat itu, tidak ada proses immersion. Tapi saya 
> cukup cermat memperhatikan lokasi kuburan, letak gardu dan tiang listrik, 
> apakah di kanan atau kiri jalan, dst. Pada beberapa titik saya masuk ke rumah 
> warga, dan menaksir kedalaman muka air sumur, karena merasa mampu untuk 
> membuat peta geohidrologi. Dari data monografi beberapa desa saya
 melihat ada beberapa data bolong, terpaksa saya mendatangi rumah-rumah pak RW 
untuk melengkapi. Sungguh waktu tidak cukup.
> Bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan ICT sudah 
> sedemikian rupa, yang berarti kemunduran dalam metode fieldwork; perolehan 
> data dan informasi sudah sangat mudah. Malah fieldwork bisa dilakukan dalam 
> waktu 2 jam. Teknologi mapping telah mereduksi banyak ketelitian. Dan yang 
> terpenting: analisis kualitatif cenderung menjadi kajian normatif.
> Beberapa bulan kemudian saya datang kembali untuk presentasi akhir. Saya 
> mengakhiri dengan kata-kata: "... bapak-ibu sekalian, saya ingin menyampaikan 
> satu senandung rakyat Brazilia: ... bila seseorang sedang bermimpi, maka itu 
> memang mimpi adanya; namun bila beberapa orang bermimpi, maka itu adalah awal 
> dari kenyataan ..." Dalam sesi tanya-jawab, seorang anggota DPRD seakan 
> menjawab seruan saya: "... ya bapak-ibu sekalian, hari ini kita sungguh 
> mendapatkan mimpi-mimpi indah ..."
> Hari itu saya mendapatkan sekurangnya satu orang yang sama-sama bermimpi. 
> Dari perspektif rakyat Brazilia, bukankah itu sudah awal dari kenyataan? 
> Salam.
> -ekadj
> catatan untuk Pak Djarot: disain, peta, cad, pie chart, diagram, dll adalah 
> terkategori kualitatif
> catatan untuk Pak Eko: dalam analisis kualitatif, data kuantitatif bersifat 
> sekunder; demikian sebaliknya.
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M risfano@ wrote:
> >
> > Rekans ysh,
> >  
> > Salah satu hal lagi Pak Djarot, Pak Ekadj, dalam pendekatan kualitatif 
> > murni, ethnografis, fenomenologis murni, kan kita harus "datang dengan peta 
> > kosong", bahkan peta dasar saja disarankan dibuat sendiri oleh komunitas 
> > setempat. Bagaimana dengan RTRW? Yang mana provinsi harus ikut nasional, 
> > kab/kota harus mengacu provinsi, dst?
> >  
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > www.samuraisejati. blogspot. com
>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke