Pak Risfan dan para sohib lainnya, Mungkin saya ketinggalan berpikir dgn teman2 yg lain tapi kadang-kadang heran apakah seorang planner dituntut seberat itu. Seorang Arsitek dalam mengaktualisasikan keinginannya dan tentunya setelah bicara stakeholdernya, dia tuangkan ideanya dlm gambar perencanaan, rencana kerja dan rencana pembangunan, kemudian delivery ideanya ke kontraktor dan supervisinya. Sederhana!!! Planner juga adalah arsitek pembangunan pada skala yg luas (bagian dr kota, kota, kabupaten, propinsi, kawasan), yg sekarang dituntut sbg development planner!. Nah tentunya krn scopenya lebih luas, dimensinya jangka panjang, seorang planner dituntut punya kelebihan dan kemampuan ut mengkonsolidasikan informasi, mengakomodasi berbagaikan kepentingan, mencari treshold antar kepentingan, mengkomunikasikan hsl konsolidasi pikiran, mendelivery kpd pelaku pembangunan hingga idea2nya tertanam pd pelaku pembangunan, mendevelop sistem monitoring dsb. Sungguh komplek dan berat nian!!! Lantas apa yg diajarkan??? Apakah cukup sekolah dijurusan Planologi kendati S2 bahkan S3pun? Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Risfan Munir <[email protected]> Date: Sun, 15 Nov 2009 06:12:38 To: <[email protected]> Subject: [referensi] Ole-ole Bandung Rekans ysh, Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin. Terutama dari seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan semuanya hanya yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja. Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi" cukup terjawab, yaitu: 1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi Prof Tommy Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya, bahwa PWK pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah salah satu manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan dan aspek lainnya. 2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" - Dr. Dewi Savitri dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang diajarkan di PWK-ITB saat ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif, dimana kualitatif terkait dengan skala dan jenis rencana atau persoalan yang mau ditangani. Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan "communication tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam era demokratisasi saat ini diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi konflik, memahami persepsi dst dalam proses merencana ataupun melaksanakan dan mengendalikannya. Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge Management PWK" yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu contoh upaya knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah sukses jadi satu kesimpulan atau agenda perhatian kedepan. Salam, Risfan Munir www.samuraisejati.blogspot.com

