Rekan-rekan Referencier, 

 

Kami dari Arsitektur bidang Perumahan dan Permukiman turut bersyukur bahwa 
rekan-rekan planner telah memulai memikirkan development planning yang sangat 
dibutuhkan ketimbang mekanisma kontrol yang terlalu mendominasi RTRW. 
Mudah-mudahan diskursus ini 

 

Prof. Hasan Poerbo dalam skala kecil di desa Cigaru telah memulai pendekatan 
development planning ala konsultan pembangunan yang mencoba menggiatkan 
masyarakat secara utuh, sosio-ekonomi dan kultural agar mempunyai semangat 
hidup sehingga penghijauan di hulu Citanduy dapat dilakukan melalui daya 
masyarakat. Dalam bidang pembangunan perumahan bagi low income pendekatan 
holistik seperti ini diterapkan dalam tingkat keruangan yang kecil 
(neighborhood), kita kehilangan kepranataan di tingkat ini untuk merespon 
perubahan yang cepat. Peran RT, RW dan Kelurahan tidak jelas dalam kepranataan 
pembangunan perkotaan kita, seingga neighborhood menjadi compang-camping.

 

Di Jepang kepranataan ini digerakkan oleh cho, machi yang mereka sebut 'machi 
zukuri', the making of the city, dari sinilah RT, RW di Indonesia itu berasal 
tetapi diadopsi tidak secara lengkap.

 

Konsep built environment secara utuh sebagai alternative development yang 
merujuk kepada konsep 'ekistiks' Doxiadis tahun 1970an sebenarnya secara 
konsisten dijalankan Pak Hasan Poerbo ketika kita sedang sibuk dengan growth 
approach dalam pembangunan kita, sehingga ruang budidaya yang disebut 'living 
space', permukiman lengkap sebagai ruang hidup menjadi termajinalkan. Ruang 
kota dan wilayah hiterlandnya terbagi-bagi menjadi zoning yang akhirnya menjadi 
large trail of land tanpa konsep mix dengan living space seperti kawasan 
industri Bekasi.

 

Tahun 1994 saya dan tim konsultan membuat Rencana Induk Kawasan Pertambangan 
(South Sumatran basin Spatial Development) dengan harapan wilayah cebakan 
batubara bukanlah sekedar zona penambangan melainkan wilayah yang terintegrasi 
sebagai wilayah ruang hidup (living space) berbasis pembangunan energi berikut 
seluruh mixed use yang saling mengambil manfaat keberadaan satu sama lain 
(internal dan external economy of scale). Kami menamakannya sebagai Spatial 
Development concept dengan pergiliran antara renewable dan non renewable 
resources serta rencana infrastruktur yang dibangun agar dapat digunakan terus 
sampai tambang berakhir. Demikian pula ketika bersama World Bank menyusunkan 
konsep keruangan bagi 'Decentralized Sustainble Natural Resources untuk Bangda 
saya menyelipkan konsep ruang hidup bersama yang sustainable sebagai bagian 
dari Perencanaan Pembangunan Daerah.

 

Dan saya mengamti perubahan ini adalah puncak hasil diskursus yang cukup lama 
di planologi. Mudah-mudahan dengan development planning concept sebagai pemicu 
pembangunan perkotaan dapat memberikan peluang perumahan rakyat tidak 
kehilangan tempatnya di perkotaan di Indonesia, sebagai bagian dari diskursus 
perencanaan pembangunan secara utuh dengan ruang sebagai konsekuensinya.

 

Bravo dan

Wassalam 

 

Indra Budiman Syamwil


 
> To: [email protected]
> From: [email protected]
> Date: Sun, 15 Nov 2009 01:56:03 +0000
> Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
> 
> 
> Pak Risfan dan rekan-rekan ysh.
> 
> Walau belum sempat dapat tanda-tangan, barusan saya pelajari sekilas
> buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati".
> Sepertinya bapak sudah membabarkan sedikit demi sedikit di milis ini
> beberapa jurus, dan mohon pak keberlanjutan pelajarannya.
> 
> Saya hanya mengikuti ujung acara, dan tidak sempat mengikuti pergulatan
> pemikiran yang berlangsung sebelumnya, dan kelihatannya cukup seru.
> Namun sebenarnya sudah bisa saya perhitungkan temuan dan kesimpulannya
> berdasarkan kertas karya dan penulisnya.
> 
> Mungkin ini sedikit menyesak di dalam hati saya dari sedikit observasi
> tadi malam pada beberapa rekan dosen, mahasiswa, dan alumni terkait
> kesimpulan bapak; bahwa memang benar sudah ada pergeseran yang luar
> biasa dalam sudut pandang esensi sains keruangan (istilah Pak Aby, yang
> saya akui), walaupun ini diakui masih debatable di dalam kampus, dan
> mengarah kepada seperti yang bapak simpulkan. Boleh dikatakan 'semua'
> thesis dan disertasi sudah tidak lagi berbicara esensi ruang, dalam
> batasan kongkrit; dan sebenarnya ini sungguh membuat saya takjub. Jadi
> memang ada pergeseran 'qualitative mode' ala Waworoentoe, Watts, dkk
> kepada 'quantitave mode' seperti yang berlangsung saat ini. Dengan kata
> lain kalau boleh saya katakan, sudah tidak ada lagi 'saintis keruangan'
> di dunia akademis. Bila sudah demikian, mungkin saya akan kembali ke
> pertanyaan Pak Djarot tentang ontologi, epistemologi, dan 'aksiologi';
> atau mungkin ini sekarang sudah bergeser ke UGM dll?
> 
> Padahal dalam diskursus akademis yang hingga saat ini terus berkembang,
> telah diakui bila 'ruang' adalah entitas kongkrit dan dijadikan dasar
> dalam melihat berbagai kemungkinan perubahan. Tidak kurang Einstein
> sendiri sudah memulai pendefinisian ruang, diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan
> besar lainnya seperti Bourdieu (habitus), Giddens, Bakhtin (chronotope),
> Djoko Sujarto (dimensi fisik), hingga ATA. Dengan kata lain telah
> tersedia 'alasan metodologis' untuk memulai ortogenesis.
> 
> Bila demikian, maka sains keruangan akan menjadi pekerjaan 'the art of
> government', yang tentu tidak berkompeten mengembangkan pendekatan
> metodologis. Atau malah menjadi tugas Referensiers untuk memikirkannya
> dalam 'the University of Referensi' ini. Alamak, mending kalau dapat
> jatah 'otonomi pendidikan'.
> 
> Saat ini sudah bergabung juga Pak Tatag, yang tadi malam mendiskusikan
> 'ekonomi kerakyatan' kita dulu, dan bagaimana menancapkannya ke dunia
> perdesaan; jadi memang masih mencari platform metodologis.
> 
> Terlebih dari itu saya mengucapkan selamat dan sukses kepada
> penyelenggara Plano50 yang telah berlangsung secara 'seronok' dan meriah
> nian. Sementara demikian dulu. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> 
> --- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
> >
> > Rekans ysh,
> >
> > Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin. Terutama
> dari seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan
> semuanya hanya yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja.
> >
> > Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi" cukup
> terjawab, yaitu:
> > 1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi Prof
> Tommy Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya, bahwa
> PWK pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah salah
> satu manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan dan
> aspek lainnya.
> > 2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" - Dr. Dewi
> Savitri dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang diajarkan di
> PWK-ITB saat ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif, dimana
> kualitatif terkait dengan skala dan jenis rencana atau persoalan yang
> mau ditangani.
> >
> > Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan
> "communication tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam era
> demokratisasi saat ini diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi
> konflik, memahami persepsi dst dalam proses merencana ataupun
> melaksanakan dan mengendalikannya.
> >
> > Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge Management
> PWK" yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu contoh
> upaya knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah
> sukses jadi satu kesimpulan atau agenda perhatian kedepan.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > www.samuraisejati.blogspot.com
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
                                          
_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke