Pak Risfan dan rekan-rekan ysh.

Walau belum sempat dapat tanda-tangan, barusan saya pelajari sekilas
buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati".
Sepertinya bapak sudah membabarkan sedikit demi sedikit di milis ini
beberapa jurus, dan mohon pak keberlanjutan pelajarannya.

Saya hanya mengikuti ujung acara, dan tidak sempat mengikuti pergulatan
pemikiran yang berlangsung sebelumnya, dan kelihatannya cukup seru.
Namun sebenarnya sudah bisa saya perhitungkan temuan dan kesimpulannya
berdasarkan kertas karya dan penulisnya.

Mungkin ini sedikit menyesak di dalam hati saya dari sedikit observasi
tadi malam pada beberapa rekan dosen, mahasiswa, dan alumni terkait
kesimpulan bapak; bahwa memang benar sudah ada pergeseran yang luar
biasa dalam sudut pandang esensi sains keruangan (istilah Pak Aby, yang
saya akui), walaupun ini diakui masih debatable di dalam kampus, dan
mengarah kepada seperti yang bapak simpulkan. Boleh dikatakan 'semua'
thesis dan disertasi sudah tidak lagi berbicara esensi ruang, dalam
batasan kongkrit; dan sebenarnya ini sungguh membuat saya takjub. Jadi
memang ada pergeseran 'qualitative mode' ala Waworoentoe, Watts, dkk
kepada 'quantitave mode'  seperti yang berlangsung saat ini. Dengan kata
lain kalau boleh saya katakan, sudah tidak ada lagi 'saintis keruangan'
di dunia akademis. Bila sudah demikian, mungkin saya akan kembali ke
pertanyaan Pak Djarot tentang ontologi, epistemologi, dan 'aksiologi';
atau mungkin ini sekarang sudah bergeser ke UGM dll?

Padahal dalam diskursus akademis yang hingga saat ini terus berkembang,
telah diakui bila 'ruang' adalah entitas kongkrit dan dijadikan dasar
dalam melihat berbagai kemungkinan perubahan. Tidak kurang Einstein
sendiri sudah memulai pendefinisian ruang, diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan
besar lainnya seperti Bourdieu (habitus), Giddens, Bakhtin (chronotope),
Djoko Sujarto (dimensi fisik), hingga ATA. Dengan kata lain telah
tersedia 'alasan metodologis' untuk memulai ortogenesis.

Bila demikian, maka sains keruangan akan menjadi pekerjaan 'the art of
government', yang tentu tidak berkompeten mengembangkan pendekatan
metodologis. Atau malah menjadi tugas Referensiers untuk memikirkannya
dalam 'the University of Referensi' ini. Alamak, mending kalau dapat
jatah 'otonomi pendidikan'.

Saat ini sudah bergabung juga Pak Tatag, yang tadi malam mendiskusikan
'ekonomi kerakyatan' kita dulu, dan bagaimana menancapkannya ke dunia
perdesaan; jadi memang masih mencari platform metodologis.

Terlebih dari itu saya mengucapkan selamat dan sukses kepada
penyelenggara Plano50 yang telah berlangsung secara 'seronok' dan meriah
nian. Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj



--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
>
> Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin. Terutama
dari seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan
semuanya hanya yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja.
>
> Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi" cukup
terjawab, yaitu:
> 1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi Prof
Tommy Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya, bahwa
PWK pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah salah
satu manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan dan
aspek lainnya.
> 2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" - Dr. Dewi
Savitri dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang diajarkan di
PWK-ITB saat ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif, dimana
kualitatif terkait dengan skala dan jenis rencana atau persoalan yang
mau ditangani.
>
> Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan
"communication tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam era
demokratisasi saat ini diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi
konflik, memahami persepsi dst dalam proses merencana ataupun
melaksanakan dan mengendalikannya.
>
> Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge Management
PWK" yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu contoh
upaya knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah
sukses jadi satu kesimpulan atau agenda perhatian kedepan.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> www.samuraisejati.blogspot.com



Kirim email ke