Dear All,
Oleh-oleh ini untuk sahabat referensi semua, hasil dari perpaduan moda pengamatan arsitektural-fenomenologis dengan tekno-biologis. Secara khusus oleh-oleh ini ditujukan kepada Eyang ABY, yang sudah mulai beranjak (dan melupakan ?) tentang tema desa terpencil ke arah Indonesia, yang sebenarnya merupakan jalinan desa-desa atau kampung-kampung. Dari pengamatan yang kami lakukan beberapa hari, ada aspek-aspek yang menarik untuk diceritakan kepada para sahabat referensi sebagai sekedar oleh-oleh. Kaenbaun Desa Mandiri Pangan. Menurut analisis sementara yang kami lakukan, desa Kaenbaun termasuk dalam kategori desa mandiri pangan dengan strategi ketahanan pangan yang unik. Jika setiap saat akan memasuki musim tanam para petani di Jawa harus membeli bibit, orang Kaenbaun tidak perlu panik sebab bibit selalu tersedia di setiap rumah tangga dan di rumah suku. Dalam keadaan sulit seperti apapun, orang Kaenbaun tidak akan pernah memakan jagung dan padi bibit yang mereka warisi dari nenek-moyang. Ini aturan adat yang masih dipatuhi. Para mama bahkan sudah mampu mendeteksi ketersediaan pangan dari dapur mereka, sebab dari simpanan jagung di dapur dapat diperkirakan dan diputuskan kapan harus makan makanan alternatif. Orang Kaenbaun termasuk “pemakan semua”, mulai dari pucuk daun asam hingga musang. Desa Kaenbaun kaya dengan makanan yang berasal dari flora dan faunanya. Perkara yang menarik adalah, jika kini para petani di Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pertanian dan ketahanan pangan mereka diremote-control oleh pihak lain, maka di Kaenbaun tidaklah demikian. Para petani di Jawa tidak lagi berdaulat atas bibit, pupuk, dan terutama atas kepemilikan tanah, maka mereka bukan lagi menjadi petani sejati, melainkan turun menjadi buruh tani saja. Fenomena ini kontras dengan yang ada di Kaenbaun, sebab mereka masih menguasai tanah adat, bibit jagung dan padi dari nenek-moyang, juga sistem pertanian yang alamiah (organik) karena adat Kaenbaun mengatur demikian. Jika para petani di Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pangan karena taat mengikuti program modernisasi pertanian versi pemerintah yang berbasis cara pikir dan ilmu pengetahuana modern, maka orang Kaenbaun masih berdaulat atas pangan dan pertanian mereka karena taat kepada aturan nenek-moyang yang dilandasi pengetahuan tradisional. Jika sistem pertanian modern berbasis pada memperbesar input (pengetahuan, bibit, pupuk dsb) kepada situasi lokal, maka pertanian tradisional justru berusaha memanfaatkan secara efektif dan efisien semua kondisi dan situasi lokal untuk kehidupan lokal. Semakin besar input dari luar artinya semakin besar peluang intervensi luar atas kedaulatan lokal, dan artinya semakin besar pula ancaman atas kedaulatan pertanian dan pangan lokal. Menurut orang Kaenbaun, tidak selalu input dari luar cocok dengan sistem dan strategi pertanian / pangan mereka. Bahkan konon, bibit dari luar yang dianjurkan pemerintah justru mendatangkan hama baru dan pupuk pabrik hanya bermanfaat pada musim tanam pertama, seterusnya malahan mengeraskan dan menguruskan tanah. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

