Para perencana, arsitek, ahli lingkungan dan bbrp kalangan lain umumnya ber-angan2 dpt menciptakan kota2 milik bangsanya agar menjadi spt apa yg diinginkan dlm UUPR 2007 psl 3 …aman …nyaman …produktif …berkelanjutan …ber Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional …yg lalu dgn itu dihrpkan terwujud harmoni antr lingk. alamiah dan buatan….dst dst….. Arsitek… mungkin jg ahli lingkungan…. yg sptnya tak punya beban utk merasa perlu tahu ttg demografi, ekonomi, kemiskinan, pengangguran, perluasan kesempatan kerja, aglomerasi dan arus urbanisasi …umumnya bisa langsung berangan2 ttg kota2 yg memiliki sungai yg bersih, trotoar atau pedestrian yg lebar dgn permukaan lantai yg halus dan dinaungi oleh pohon2 yg rindang…. Angkutan kota yg bersih dgn frekwensi serta ketepatan waktu perjalanan yg memuaskan ….dan banyak lagi angan2 estetik serta green2 lainnya ……atau singkat kata bicara lsg ttg city planning…. Namun sebaliknya… planner sptnya tak memiliki kelonggaran utopia ‘semewah’ spt itu…… krn sblm sampai kesana planner telah trlbh dulu dihadang berbg beban moral spt hrs trlbh dahulu menengok situasi demografik penduduk, GNP, angka pengangguran, ketimpangan antar wilayah, migrasi, pembenahan sistem hirarkhi dan distribusi kota secara nasional….dekonsentrasi… relokasi atau kalau tak mungkin ya inseminasi industri memimpin dsb….(urban planning factors)…. Karenanya ketika yg lain dpt langsung katakan : hai kawan, cobalah tengok kota mereka disana ‘tu….trotoar nan lebar, taman2 hijau mereka nan luas, sungai2 mereka bersih, angkutan kota merekapun bersih pula… mengapa kita tak segera bikin macem ‘tu disini….. wajar kalau planner akan nyengir atau tergagap2 terpana…..tapi benar ……spt apa kata samurai Risfan Munir…. apapun, kita perlu koleksi best-practice yang menginspirasi ini……..salam, aby From: "franciska windy" <[email protected]> Thursday, November 26, 2009 8:32 AM [referensi] curitiba-brazil-sustainable city halo rekan-rekan, maaf kalo udh repost (ato udh sering denger sebelumnya) akhir2 ini sering denger lecture + discussion tentang curitiba-sustainable city di brazil. menarik karena biasanya banyak kasus development country -->jumlah penduduk meledak tanpa planning, dan tiba2 udh cheos nah di curitiba ini, walikotanya udh liat itu jauh sebelum itu terjadi, jadinya dia beli tanah2 di curitiba kemudian mengembangkan kota tersebut.
from http://www.citiesforpeople.net/cities/curitiba.html Curitiba, Brazil A city for people, not for cars Some statements about Curitiba: Curitiba has the highest recycling rate in the World – 70%. Curitiba has bus system that is so good that car traffic decreased by 30% while the population trebled in a twenty year period. Curitiba has the largest downtown pedestrianised shopping area in the World. Curitiba has built large numbers of beautiful parks to control floods rather than concrete canals. So many that they use sheep to cut the grass as it’s cheaper than lawnmowers. Curitiba is a city where 99% of inhabitants want to live. In comparison, 70% of Sao Paolo’s residents want to live in Curitiba. Curitiba’s average income per person has gone from less than the Brazilian average in the 1970’s to 66% greater than the Brazilian average. Any of these statements on their own would be impressive enough, but together? Can any city, anywhere in the world, at any time in history boast anything that comes anywhere near to this amazing transformation to a city for people? Maybe one – Bogota. They did it by copying Curitiba, but that’s a different story. Jaime Lerner Jaime Lerner first became mayor of Curitiba in the early 1970’s (he has been mayor three times). His leadership was crucial to the changes. Curitiba did a number of things, best described here: Built parks instead of canals to reduce flooding. Also used parks to make the city more liveable. Pedestrianised the downtown area. Invented and built the Bus Rapid Transit (BRT) – a bus system that works like a light rail system but is 10 times cheaper. Gave people bus tokens in return for waste. Started a massive recycling scheme – all initiated by children. From: Risfan M <[email protected]> Sent: Fri, November 27, 2009 8:32:23 AM Subject: Re: [referensi] curitiba-brazil-sustainable city Francisca ysh, Terima kasih atas kiriman best-practice nya, saya kira kota-kota/daerah kita perlu banyak contoh apa yang sudah 'berjalan' seperti ini. Juga best practices partials seperti Tarakan yang mengatasi krisis listrik, Solo yang menangani PKL secara berbudaya, dst. Tapi tentang Curitiba ini saya ingin tanya. Ini kota biasa (dengan orang miskin dst) atau New Town yang dirancang khusus untuk kalangan khusus. D Indonesia enclave kota minyak/tambang/petrokimia biasanya kotanya juga bagus, teratur dan lengkap. Atau kalau BSD, Lippo Cikarang, Kota Legenda dst, atau bahkan (new) Kuala Lumpur dianggap "kota" tentu juga bagus, tapi sorrundingya? Tapi apapun, kita perlu koleksi best-practice yang menginspirasi ini. Salam, From: "franciska windy" <[email protected]> Friday, November 27, 2009 1:17 AM Re: [referensi] curitiba-brazil-sustainable city Halo Risfan, Menarik sekali pertanyaannya. Maaf saya masih agak bingung dengan definisi kota biasa dan new town yang ditulis di sini.(karena dari definisinya beberapa hal overlap,definisi tentang kata 'kota' sendiri juga terkadang rancu) Tapi saya akan coba jawab Apakah ini new town? dalam hal ini kriteria paling jelas umur kota tersebut.Sebenarnya kalau dari segi umur, Curitiba ditemukan pada tahun 1693 tapi seperti banyak kota2 di development country, kota2 tersebut mengalami perkembangan penduduk. Banyak dari kota2 tersebut tidak 'siap' dan menjadi cheos. Untuk Curitiba,tahun 1970 walikotanya membuat perencanaan yang significant bagi kota tersebut -->mempersiapkan kotanya sebelum populasi meledak 2 kali dalam 30 tahun dari cerita ini, saya asumsikan, sebelum curitiba sebelum 1970 lebih merupakan village dari pada city (dalam kontext jumlah penduduk) Apakah ini kota yang dirancang untuk kalangan khusus? setiap perancangan kota idealnya kontekstual,termasuk kontekstual dalam hal tipe penduduknya. Yang menarik dan 'pintar' dari perancangan kota Curitiba di sini, pada waktu merancang mereka tidak hanya merancang pada konteks saat itu (pada saat curitiba masih sedikit penduduknya). Akan tetapi mereka melihat jauh ke depan dan mempertimbangkan saat curitiba meledak populasinya. contoh:salah 1 intervention yang sangat vital bagi kota tersebut: BRT-->Bus System.bekerja seperti light rail system tapi 10 kali lebih murah Banyak warga miskin Curititiba benar-benar terbantu dengan sistem ini. Studi kasus Indonesia soal kota minyak/tambang. Dalam hal ini saya tidak bisa berkomentar banyak karena saya tidak melakukan studi mendalam soal itu. tapi saya bisa cerita berdasar pengalaman saya di soroako,sulawesi (tambang nikel). Kota tambang soroako sendiri memang terlihat bagus.kota tersebut dibangun oleh perusahaan Canada untuk para karyawan yang bekerja di perusahann tersebut. Untuk para karyawan di sana memang menyenangkan.infrastrukturnya baik, dapat fasilitas hunian yang bagus dan fasilitas lainnya.Di danaunya para karyawan bisa menggunakan segala fasilitas gratis (snorkling,kapal layar, kayak,baju selam dll) contoh hunian karyawan (di sana rumah panggung karena banyak gempa) tapi apakah itu perancangan yang bagus? belum tentu. buat karyawan inco itu seperti 'heaven on earth' punya fasilitas bagus,di saat yang sama ada nature yang wah... sebenarnya soroako sudah ada penduduk lokalnya. dan dalam perancangan mereka seperti terabaikan.(dalam hal ini saya setuju dengan risfan karena memang surrondingnya tidak terurus) kondisi rumah penduduk lokal dalam perancangan yang ideal, seharusnya bukan hanya memikirkan kota bagi karyawan inco tersebut, tetapi bagaimana integrasi dengan penduduk lokal. bagaimana pembangunan kawasan pertambangan ini tidak hanya menguntungkan bagi developer, tetapi juga menaikan taraf hidup penduduk lokal. wah jadi panjang. semoga jawabannya membantu franciska windy

