Pak Eko, Pak Aby, Bu Francisca dan rekans ysh,
Sekali lagi kalau ada posting apapun yang sifatnya informatif bagi
urban/reginal planning (range nya spt tabel saya)sebaiknya dibahas. Pro-con
sebaiknya terjadi dalam pada isi bahasan, unsur-unsurnya +/- nya apa. Secara
terbuka.
tapi jangan tidak mempelajari komponennya pagi2 mengexclude kan dengan kontek
yang sangat makro. atau filtering, atau kasarnya "ngusir" dengan
mengatakan itu bukan untuk planner disini.
Pak Aby, maaf, sering mengatakan, "oh itu pedesaan" you posting di
IPB aja, di UI aja, di UGM aja.
Bahkan saat Nuzul memposting literatur yg sangat bermanfaat, dia bilang lalau
kayak gitu dikampus aja, gak praktis.
Semangat ilmu adalah keterbukaan. jangan anti info dari luar, sumber ilmu dari
seluruh dunia.
Kalau Orla mencap lawannya dgn "kontra revolusioner", orba suka
mencap "terlibat g-30-s. maka Pak Aby gemar kali mencap tulisan
"tidak nasionalis" di milist ini.
Lebih baik kita kembali ke teknik diskusi yg proporsional. Kalau ada opini
atau case, kita bahas conten, unsur2, metode2, jangan pagi2 sudah mencap
"itu out of our context".
Milist kan seperti majalah dinding. Asal sopan, sesuai scope. Ya oke. Kalo gak
setuju, gak usah baca. Mungkin orang lain suka. Gak usah dicap tidak nasionalis
segala.
Lagipula pengertian nasionalisme Pak Aby itu versi nya sendiri kayaknya. Perlu
diuji dengan pengertian setelah UU Otonomi Daerah, UU Penanaman Modal,dst. Saya
tidak tahu, tapi bagi saya atau teman yang sudah kena "kartu kuning"
nasionalisme oleh McCarthy eh Pak Aby, malah heran dgn penegrtian dia. Kok
kayaknya dia gak patuh pada konstitusi spt UU 32/2004, dst. Orang proklamator
saja pakai referensi negara maju kok dia anti.
Kembali ke soal penggunaan BEST PRACTICE, CASE STUDY, sebaiknya metodenya
melihat komponen yang dianggap best itu apa: leadership, pengelolaan anggaran,
investasi (kota/kab Kaltim, Riau sangat kaya), desain fisik, metode
partisipasi, engagement, transportasi, cara promosi, manajemen pelayanan
publik, dst. Jadi aspeknya luas. Audience bisa dpt inspirasi walau parsial.
Baru bicara konteks, mana persamaan, mana perbedaan. Orang bisa mikir sendiri.
Bukan kita yg pagi2 filtering. Saya punya pengalaman betapa sulit mengajak
orang nulis kasus, good practice (saya tdk pakai best krn sering penulisnya
dihabisi duluan). Sulit sekali. Sehingga sebaiknya jangan terlalu cepat
mendiscourage. Spy referensi makin bervariasi informasinya. Terutama kita perlu
mengundang mengencaurage lebih banyak penulis, diluar 5-6 orang kita-kita ini.
Salam,
Risfan Munir
Eko B K wrote:
>
> Mbak Windy dan rekan2 ysh. Mbak Windy jangan kapok2 posting best
> practices lho, terutama yg sedang hangat jadi pembahasan di sana,
> bagaimanapun kita semua senang utk bisa belajar dr cerita sukses di tempat
> lain.. yg saya uraikan sebelumnya hanya mengingatkan saja bahwa kita perlu
> kritis thd cerita akan sebuah keberhasilan tetapi tentu bukan penolakan thd
> itu.. Adapun dlm ilmu pembangunan sendiri telah lama diketahui utk tidak
> serta merta menyamakan negara2 berkembang yg origin penduduknya dr Eropa dgn
> yg tidak.. south africa adalah contoh yg bagus selain brazil, argentina, dan
> venezuela... ini teraplikasi juga dlm masalah urbanisme... ketika masih dlm
> rezim apartheid kota2 kulit putih di south africa berbentuk enclave, modern,
> sementara disekitarnya permukiman kumuh kulit hitam... tentu saja akan
> mislead kalau
> mengambil contoh kota2 kulit putih south africa saat itu sebagai kota2
> terbaik dr negara berkembang walaupun gdp/cap mereka sama dgn brazil...
> demikian pula kota2 venezuela yg berpenduduk mayoritas keturunan eropa
> terutama jerman sangat berbeda dgn kota2 negara berkembang umumnya... ttg
> Curitiba sendiri, beberapa tahun yg lalu Dirjen Tata Ruang berkunjung ke
> Curitiba dan terkesan dgn pembangunan sistem transportasi di sana (busway
> nya), dan berulang kali disampaikan dlm presentasi.. . tetapi bagaimanapun
> juga kita perlu melihat bagaimana space Curitiba diproduksi dgn mempelajari
> antara lain society nya... selain itu faktor historik juga berperan, sebagai
> ibu kota propinsi berpenduduk 500 rb an jiwa tahun 40-50 an mereka sudah
> menyiapkan rencana kota... sementara kita masih perang sampai tahun 49,
> professor2 belanda di usir tahun 50 an, dan jurusan Planologi baru berdiri
> tahun 59... ada kekosongan,
> ada keterlambatan. .. ini bukan mencari excuse, hanya sejarah dan society
> nya memang berbeda... sekrg tinggal bagaimana caranya kita bisa memiliki dan
> mengaplikasikan rencana kota yg sebaik Curitiba... salam. --- On Mon,
> 11/30/09, franciska windy <franciska_windy@ yahoo.com> wrote: From: franciska
> windy <franciska_windy@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Curitiba dan
> Production of Space (was Re: Kota2 Ideal Mereka Disana.. To:
> refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 1:45 PM
>
> kepada rekan2, saya baru sadar ada perdebatan tentang kasus curitiba
> yang saya kirim kemarin. agar tidak salah kaprah, saya hanya ingin
> menklarifikasi, kalau kasus tersebut hanya sekedar contoh best practice.
> kenapa saya kirimkan?karena perbincangan tentang hal tersebut sedang hangat
> di sini. saya pikir sangat menarik jika kita tahu tentang kasus-kasus yang
> sedang hangat sebagai 'kosa kata' urban planners. Para arsitek, punya kosa
> kata (salah 1nya case study) seperti nama2 arsitek internasional: Frank
> Gehry, Tadao Ando, Norman Foster dan juga arsitek2 nasional: andra martin,
> baskoro tedjo dll. Para businessman, punya kosa kata lain lagi. (mungkin case
> study McDonald dan propertynya, Bill Gates dll) Kasus - kasus ini bisa jadi
> bahan ketika kita bisa membuat planning dan mendesain. meng-quote dari kata
> google scholar : Stand on the shoulders of giants case study bisa dipakai,
> sebagai contoh yang baik, atau contoh yang tidak baik. Saya setuju kasus -
> kasus tersebut tidak boleh diaplikasikan secara harafiah / "literally" karena
> ilmu urban planning sangat bersangkutan dengan kontext. (sangat kontextual).
> Dan case study Curitiba yang saya kirimkan memang bukan untuk dicontoh secara
> harafiah.maaf kalo ada yang salah tangkap. Di lain pihak,buat saya menarik
> sekali melihat banyak input hanya dari 1 kasus,melihat pandangan dari banyak
> sisi. terimakasih buat inputnya. salam franciska windy From: Eko B K
> <ekobu...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Mon, November 30,
> 2009 1:03:48 PM Subject: [referensi] Curitiba dan Production of Space (was
> Re: Kota2 Ideal Mereka Disana..
>
> Pak Risfan dan rekan2 ysh., Melanjutkan diskusi ttg perlunya secara
> kritis melihat kasus Curitiba dan contoh2 pembangunan kota/wilayah di negara2
> lain, kebetulan hari Jumat kemarin salah satu rekan di lab saya
> mempresentasikan progress disertasi dia: "P roduction of residential space in
> the cross-border metropolis Luxembourg" (La production de l'espace
> résidentiel dans la métropole transfrontaliè re luxembourgeoise) ... sekilas
> kita akan berpikir apa susahnya
> melihat pola ruang residensial di Luxemburg? what's so important about it
> anyway? Tapi ternyata lebih menarik dari yg saya semula bayangkan, karena
> dia mampu menunjukan bahwa ruang residential yg diproduksi di Luxemburg
> sangat terkait dgn kondisi society Luxemburg yg juga dihuni oleh banyak warga
> Perancis, Belgia, Jerman, selain Lux sendiri terkait dgn posisi Lux diantara
> negara2 tsb dan bagaimana preference utk tinggal di suatu tempat, apakah di
> Lux atau ke tiga negara lainnya terkait dgn regulasi masing2 negara, jarak,
> fasilitas, kultur, dsb... singkat kata, sebuah society memproduksi ruang
> residensialnya sendiri... Presentasi tsb mengingatkan saya akan term
> production of space yg diajukan oleh Henri Lefabvre tahun 1974...secara
> singkat, Lefebvre berpendapat bahwa sebuah society memproduksi ruangnya
> sendiri... karena itu kita tidak dgn serta merta mampu meniru space yg
> diproduksi oleh society lain, perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru
> ruang dari society yg lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru
> belum tentu cocok utk sebuah society...Tentu saja kita juga perlu kritikal
> thd apa yg disampaikan oleh Lefebvre, tetapi kelihatannya kita juga bisa
> melihat kebenaran yg terkandung di dalamnya... Posisi saya dlm Curitiba dan
> best practices lainnya, tentu kita perlu belajar dari cerita2 sukses negara2
> lain, bukankah cara belajar selalu diawali dgn meniru/mencontoh? Tetapi kita
> juga perlu kritikal thd kasus2 tsb. karena yg perlu kita temukan adalah
> bagaimana memproduksi ruang yg cocok bagi society kita dan sebaliknya.. .
> salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote: From:
> Eko B K
> <ekobu...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan
> Kondisi Sebal Kita Disini To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday,
> November 30, 2009, 11:27 AM
>
> Pak Risfan ysh., saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain
> tanpa membuat perbandingan dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya
> perbedaan kultur, kondisi geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan
> dicontoh... prinsipnya kita kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri dulu
> baru kemudian kita lihat kelemahan dan kekuatan orang lain agar kita bisa
> belajar dr mereka... best practices yg ditelan bulat2 dan mentah2 hanya
> menghasilkan rencana2 yg tidak dapat diaplikasikan karena situasi yg ada
> berbeda.. dan ini sudah banyak terjadi bukan? bahkan kadang memakan korban
> jiwa... kasus pembangunan kanal2 di batavia utk mencontoh kota2 belanda dgn
> tujuan
> nostalgia kampung asal ternyata menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg
> menjadi sarang nyamuk malaria... dlm konteks Curitiba saya tidak melihat
> bahwa kita
> tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali
> perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah
> proses pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa
> mencontoh membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu dipelajari
> apakah walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn walikota Curitiba?
> budget yg proporsional? kultur masyarakat? tingkat edukasi masyarakat?
> tingkat kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui perbedaan tentunya kita
> jadi tahu apa yg harus dilakukan... wise men say "seringkali inti
> permasalahan bukan apa yg tampak di permukaan".. . karenanya kita perlu
> perdalam apa yg tidak nampak di permukaan tsb... ini hemat saya, bukan
> judgement... saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari
> wonogiri atau sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar
> dari wonogiri atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan
> kondisi spesifik masing2... salam. --- On Mon, 11/30/09, Risfan M
> <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: RE:
> [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To:
> "ekobu...@yahoo. com" <ekobu...@yahoo. com> Cc: "refere...@yahoogro ups.com"
> <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM
>
> Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh.
> Dari dulu kita belajar Medival cities, Chandigar, North American Cities,
> semua juga melihat kota2 Eropa.
> Yang penting apa yang kita pelajari. What's the point. kan Francisca juga
> menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur lainnya sbg "key
> success factors" nya. Itu yang kita ambil pelajaran.
> Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan Boyolali
> saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya nggak ada yang
> sama.
> Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan
> REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi daerah
> ini Panduan dari pusat ala "fit for all" sudah sulit diterapkan,
> jadi kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa jadi sumber
> inspirasi.
> Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya. Sejauh
> mana bisa diadopsi/replikasi.
> Intinya, jangan terlalu pagi di-judge "oh negara kita beda..." Ya
> kapan belajarnya.
> Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini, karena di
> era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing pengalaman.
> Salam,
> Risfan Munir
> Eko B K wrote:
>>
>> Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini
>> saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg baik,
>> tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit lebih bijak
>> sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga bisa lebih
>> proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu juga melihat dr
>> sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil memang bukan negara
>> kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas kita Pak Risfan ($12,105
>> dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya juga melihat ini bukan faktor
>> utama... Mari kita lihat komposisi penduduk Curitiba yg sebagian besar
>> dihuni oleh keturunan Eropa (White)... Konteks Amerika Latin memang sulit
>> dibandingkan dgn konteks negara berkembang lainnya karena sebagian penduduk
>> Amerika Latin adalah keturunan Eropa
>> (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara genetik
>> superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya, network dgn
>> negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang ilmu pengetahuan,
>> misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh berbeda dgn saudara2nya
>> di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa perekonomian modern di Amerika
>> Latin didominasi oleh kulit putih... terjadi kesenjangan yg umumnya sangat
>> tinggi antara kelompok white yg mendominasi ekonomi dan politik dgn ras
>> lain, khususnya native Indian dan keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn
>> dominasi kulit putih dapat dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain
>> dari negara tsb... ini saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat
>> cukup tertata dgn baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar
>> sesuatu yg baik dr negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu
>> jauh dibanding negara
>> kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
>> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re:
>> Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To:
>> refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 1:16 AM Pak Aby,
>> Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua pada Tabel yang saya
>> posting dalam judul "Strategi Pengembangan Wilayah". Kita tak perlu menunggu
>> satu "grand strategi for all". Di era otonomi ini semua jalur, model bisa
>> dilakukan, baik: pembangunan kota, desa, sistem wilayah, dst. Kalau ada yang
>> dikerjakan swasta, ya pemerintah ngurusi yang publik. Curitiba juga bukan di
>> negara kaya, Brazil kan cuma sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit
>> nya
>> kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu seperti BSD, Kota
>> Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a jadi inspirasi
>> bagi kota menengah di baberapa daerah
>>
>