kepada rekan2,
saya baru sadar ada perdebatan tentang kasus curitiba yang saya kirim kemarin.

agar tidak salah kaprah, saya hanya ingin menklarifikasi, kalau kasus tersebut 
hanya sekedar contoh best practice.
kenapa saya kirimkan?karena perbincangan tentang hal tersebut sedang hangat di 
sini.
saya pikir sangat menarik jika kita tahu tentang kasus-kasus yang sedang hangat 
sebagai 'kosa kata' urban planners.

Para arsitek, punya kosa kata (salah 1nya case study) seperti nama2 arsitek 
internasional: Frank Gehry, Tadao Ando, Norman Foster dan juga arsitek2 
nasional: andra martin, baskoro tedjo dll.
Para businessman, punya kosa kata lain lagi. (mungkin case study McDonald dan 
propertynya, Bill Gates dll)

Kasus - kasus ini bisa jadi bahan ketika kita bisa membuat planning dan 
mendesain.
meng-quote dari kata google scholar : Stand on the shoulders of giants

case study bisa dipakai, sebagai contoh yang baik, atau contoh yang tidak baik.

Saya setuju kasus - kasus tersebut tidak boleh diaplikasikan secara harafiah / 
"literally" karena ilmu urban planning sangat bersangkutan dengan kontext. 
(sangat kontextual).
Dan case study Curitiba yang saya kirimkan memang bukan untuk dicontoh secara 
harafiah.maaf kalo ada yang salah tangkap.

Di lain pihak,buat saya menarik sekali melihat banyak input hanya dari 1 
kasus,melihat pandangan dari banyak sisi.
terimakasih buat inputnya.

salam

franciska windy


________________________________
From: Eko B K <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, November 30, 2009 1:03:48 PM
Subject: [referensi] Curitiba dan Production of Space (was Re: Kota2 Ideal 
Mereka Disana..

  
Pak Risfan dan rekan2 ysh.,

Melanjutkan diskusi ttg perlunya secara kritis melihat kasus Curitiba dan 
contoh2 pembangunan kota/wilayah di negara2 lain,  kebetulan hari Jumat kemarin 
salah satu rekan di lab saya mempresentasikan progress disertasi dia: 
"Production of residential space in the cross-border metropolis Luxembourg" (La 
production de l'espace résidentiel dans la métropole transfrontaliè re 
luxembourgeoise) ...  sekilas kita akan berpikir apa susahnya melihat pola 
ruang residensial di Luxemburg? what's so important about it anyway? 

Tapi ternyata lebih menarik dari yg saya semula bayangkan, karena dia mampu 
menunjukan bahwa ruang residential yg diproduksi di Luxemburg sangat terkait 
dgn kondisi society Luxemburg yg juga dihuni oleh banyak warga Perancis, 
Belgia, Jerman, selain Lux sendiri terkait dgn posisi Lux diantara negara2 tsb 
dan bagaimana preference utk tinggal di suatu tempat, apakah di Lux atau ke 
tiga negara lainnya terkait dgn regulasi masing2 negara, jarak, fasilitas, 
kultur, dsb... singkat kata, sebuah society memproduksi ruang residensialnya 
sendiri...

Presentasi tsb mengingatkan saya akan term production of space yg diajukan oleh 
Henri Lefabvre tahun 1974...secara singkat, Lefebvre berpendapat bahwa sebuah 
society memproduksi ruangnya sendiri... karena itu kita tidak dgn serta merta 
mampu meniru space yg diproduksi oleh society lain, perlu perubahan thd society 
tsb utk bisa meniru ruang dari society yg lain... sebaliknya sebuah pembangunan 
ruang yg baru belum tentu cocok utk sebuah society...Tentu saja kita juga perlu 
kritikal thd apa yg disampaikan oleh Lefebvre, tetapi kelihatannya kita juga 
bisa melihat kebenaran yg terkandung di dalamnya...

Posisi saya dlm Curitiba dan best practices lainnya, tentu kita perlu belajar 
dari cerita2 sukses negara2 lain, bukankah cara belajar selalu diawali dgn 
meniru/mencontoh? Tetapi kita juga perlu kritikal thd kasus2 tsb. karena yg 
perlu kita temukan adalah bagaimana memproduksi ruang yg cocok bagi society 
kita dan sebaliknya.. .

salam,

Eko.





--- On Mon, 11/30/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:


>From: Eko B K
> <ekobu...@yahoo. com>
>Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita 
>Disini
>To: refere...@yahoogrou ps.com
>Date: Monday, November 30, 2009, 11:27 AM
>
>
>>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 
>  >
>
> 
>>      
> 
>Pak Risfan ysh.,
>
>saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain tanpa membuat perbandingan 
>dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya perbedaan kultur, kondisi 
>geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan dicontoh... prinsipnya kita 
>kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri dulu baru kemudian kita lihat 
>kelemahan dan kekuatan orang lain agar kita bisa belajar dr mereka... best 
>practices yg ditelan bulat2 dan mentah2 hanya menghasilkan rencana2 yg tidak 
>dapat diaplikasikan karena situasi yg ada berbeda.. dan ini sudah banyak 
>terjadi bukan? bahkan kadang memakan korban jiwa... kasus pembangunan kanal2 
>di batavia utk mencontoh kota2 belanda dgn tujuan nostalgia kampung asal 
>ternyata menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg menjadi sarang nyamuk 
>malaria...
>
>
>dlm konteks Curitiba saya tidak melihat
> bahwa kita
> tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali 
> perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah 
> proses pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa 
> mencontoh membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu dipelajari 
> apakah walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn walikota Curitiba? 
> budget yg proporsional? kultur masyarakat? tingkat edukasi masyarakat? 
> tingkat kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui perbedaan tentunya kita 
> jadi tahu apa yg harus dilakukan... wise men say "seringkali inti 
> permasalahan bukan apa yg tampak di permukaan".. . karenanya kita perlu 
> perdalam apa yg tidak nampak di permukaan tsb... ini hemat saya, bukan 
> judgement...
>
>
>
>saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari wonogiri atau 
>sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar dari wonogiri 
>atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan
> kondisi spesifik masing2...
>
>
>
>salam.
>
>
>
>
>
>--- On Mon, 11/30/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:
>
>
>>From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
>>Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita 
>>Disini
>>To: "ekobu...@yahoo. com" <ekobu...@yahoo. com>
>>Cc: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
>>Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM
>>
>>
>>>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> 
>>  >>
>>
>> 
>>>>      
>> 
>>Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh. Dari dulu 
>>kita belajar Medival cities,  Chandigar, North American Cities, semua juga 
>>melihat kota2 Eropa.
>>>>Yang penting apa yang kita pelajari. What&#39;s the point. kan Francisca 
>>>>juga menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur lainnya sbg 
>>>>&quot;key success factors&quot; nya. Itu yang kita ambil pelajaran.
>>
>>>>Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan Boyolali 
>>>>saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya nggak ada 
>>>>yang sama. 
>>
>>>>Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan 
>>>>REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi daerah 
>>>>ini Panduan dari pusat ala &quot;fit for all&quot; sudah sulit diterapkan, 
>>>>jadi kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa jadi sumber 
>>>>inspirasi.
>>>>Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya. 
>>>>Sejauh mana bisa diadopsi/replikasi.
>>>>Intinya, jangan terlalu pagi di-judge &quot;oh negara kita beda...&quot; Ya 
>>>>kapan belajarnya. 
>>
>>>>Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini, karena 
>>>>di era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing pengalaman.
>>
>>>>Salam,
>>>>Risfan Munir
>>
>>>>Eko B K wrote: 
>>>>>    
>>>>>       Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini 
>>>>> saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg 
>>>>> baik, tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit 
>>>>> lebih bijak sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga 
>>>>> bisa lebih proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu 
>>>>> juga melihat dr sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil 
>>>>> memang bukan negara kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas 
>>>>> kita Pak Risfan ($12,105 dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya 
>>>>> juga melihat ini bukan faktor utama... Mari kita lihat komposisi penduduk 
>>>>> Curitiba yg sebagian besar dihuni oleh keturunan Eropa (White)... Konteks 
>>>>> Amerika Latin memang sulit dibandingkan dgn konteks negara berkembang 
>>>>> lainnya karena sebagian penduduk Amerika Latin adalah keturunan Eropa
>>>>>  (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara genetik 
>>>>> superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya, network 
>>>>> dgn negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang ilmu 
>>>>> pengetahuan, misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh berbeda 
>>>>> dgn saudara2nya di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa 
>>>>> perekonomian modern di Amerika Latin didominasi oleh kulit putih... 
>>>>> terjadi kesenjangan yg umumnya sangat tinggi antara kelompok white yg 
>>>>> mendominasi ekonomi dan politik dgn ras lain, khususnya native Indian dan 
>>>>> keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn dominasi kulit putih dapat 
>>>>> dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain dari negara tsb... ini 
>>>>> saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat cukup tertata dgn 
>>>>> baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar sesuatu yg baik 
>>>>> dr negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu jauh dibanding 
>>>>> negara
>>>>>  kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. 
>>>>> com> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: 
>>>>> [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini 
>>>>> To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 1:16 AM 
>>>>> Pak Aby, Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua pada Tabel 
>>>>> yang saya posting dalam judul "Strategi Pengembangan Wilayah". Kita tak 
>>>>> perlu menunggu satu "grand strategi for all". Di era otonomi ini semua 
>>>>> jalur, model bisa dilakukan, baik: pembangunan kota, desa, sistem 
>>>>> wilayah, dst. Kalau ada yang dikerjakan swasta, ya pemerintah ngurusi 
>>>>> yang publik. Curitiba juga bukan di negara kaya, Brazil kan cuma 
>>>>> sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit nya 
>>>>>  kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu  seperti BSD, 
>>>>> Kota Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a jadi 
>>>>> inspirasi bagi kota menengah di baberapa daerah 
>>>>> 
>>
>> 
> 

 


      

Kirim email ke