Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eko, dan rekan-rekan ysh.

Sebelum menanggapi beberapa hal, saya ingin mengklarifikasi beberapa
hal. Sebelumnya saya sempat bingung juga dengan penggunaan istilah,
apakah lebih tepat keluarga (family) ataukah rumah tangga (household).
Namun sepertinya dominan literatur menggunakan istilah 'rumah tangga',
yang merupakan keluarga inti (the nuclear family). Hal ini katakanlah
seperti dulu Pak Risfan melakukan survai lapangan, lalu mengetuk pintu
sebuah rumah: "selamat sore, ada berapa orang yang tinggal di rumah
ini?" Jadi pengertian rumah tangga adalah beberapa orang yang tinggal
dalam satu rumah, dengan komposisi terstruktur seperti yang saya
tuliskan terdahulu. Namun sistem administrasi kependudukan kita
kelihatannya menggunakan istilah 'keluarga', seperti penggunaan 'kartu
keluarga', kepala keluarga, dst. Dengan kata lain bisa saja di Kaenbaun
sebuah kartu keluarga tertulis 9 orang, padahal yang tinggal di rumah
itu hanya 4 orang. Dari hal ini kita bisa memahami penggunaan istilah
'rumah tangga' justru lebih tepat dan terukur untuk administrasi
pembangunan dan kegiatan penelitian.

Saya nemu lagi nih satu buku, judulnya "Household: Comparative and
Historical Studies of the Domestic Group", editor Robert McC. Netting
dkk. Isinya merupakan kumpulan hasil penelitian terpilih tentang aspek
kerumahtanggaan di seluruh dunia.  Ada beberapa kasus yang mirip dengan
Kaenbaun, serta kasus yang diungkapkan Pak Risfan.

Saya ambil satu artikel "The Urban Household in Dependent Development",
karya Hackenberg dkk. Mengambil lokasi penelitian di Oaxaca City -
Mexico dan Davao City - Filipina. Peneliti menguji konflik kepentingan
antara 3 pihak: pemerintah, rumah tangga, dan individu. Kepentingan
pemerintah adalah mengamankan kebijakannya: membutuhkan tenaga kerja
terdidik dan terampil, menyediakan/memfasilitasi kawasan
industri/komersial untuk kebutuhan ekonomi modern yang formal serta
kepentingan pemodal pada khususnya. Rekrutmen biasanya ditujukan pada
anggota-anggota rumah tangga yang potensial, dan miskin. Di lain pihak,
setiap rumah tangga tentunya menginginkan suatu keutuhan dan
kohesivitas.

Akhirnya kepentingan pemodal selalu menang, sang anggota rumah tangga
memasuki dunia pekerjaan, ada yang di kota yang sama atau di kota lain,
namun mereka menempati rumah yang berbeda, atau membentuk rumah tangga
tersendiri. Dalam hal ini rumah tangga asal telah kehilangan salah satu
benteng pertahanan ekonominya, dan dapat menurunkan kualitas hidup rumah
tangga tersebut.

Namun terkadang ada juga rumah tangga yang menang. Dengan mengabaikan
penawaran ekonomi modern, mereka mempertahankan keutuhan rumah tangga,
apalagi effort ekonomi rumah tangga ini bertambah dengan kian besarnya
anak-anak yang dapat membantu di bidang produksi. Melalui pembentukan
modal bersama maka rumah tangga ini memiliki kemampuan untuk membayar
pendidikan yang baik untuk anggota rumah tangga, yang akhirnya akan
menarik perhatian pemerintah dan pemodal untuk bergabung dengan mereka.
Demikian hal ini berputar terus-menerus, yang menunjukkan kohesivitas
suatu rumah tangga senantiasa diuji. Dari studi kasus, peneliti
menyimpulkan bahwa rumah tangga yang dapat mempertahankan kohesivitasnya
cenderung lebih berhasil secara ekonomi dan kehidupan.

Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak Eko, Pak Djarot,
> Â
> Itu juga saya tanyakan sebelumnya. Ternyata generasi mudanya pada
pindah ke kota? Jadi sebetulnya perdesaan tersebut memang tidak
berkembang. Tidak bisa menghidupi jumlah penduduknya yang meningkat.
Bagaimanakah nsib anggota keluarga yang ke kota? Jangan-jangan Pak
Djarot meng-exclude-kan mereka dari analisisnya?
> Mudah-mudahan tidak lestari di desa tapi mengirim masalah ke tempat
lain?
> Memang tidak harus sih satu desa menghidupi jumlah penduduknya yang
berkembang, migrasi juga boleh, tapi kan harus dipersiapkan dengan baik
sejak dari desanya. Bukan begitu?
> Â
> Pak Djarot, saya hanya ingin balance saja. Kadang apa kita tidak
berfikir terlalu "priyayi", maksudnya "mengharamkan" motif ekonomi, tapi
lupa bahwa "sang istri" (anggota keluarga lain) harus sembunyi-sembunyi
kerja keras untuk menutupi "ongkos kemuliaan" suami yang priyayi
(referensi saya novel Canting oleh Arswendo). Sehingga mungkin yang
layak "dimulyakan" justru sang istri yang harus banting tulang menghidup
anak-anak dan hobi suami.
> D.p.l jangan-jangan warga desa studi Bapak yang begitu mulia,
sesungguhnya bisa hidup karena anak-anak mereka yang di Malaysia,
Singapura, Hongkong dst. (Ini tipical perekonomian desa-desa Jatim, NTB,
NTT kan?)
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
> Â
> Â
> Â
>
>
> --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@... wrote:
>
>
> From: Eko B K ekobu...@...
> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 2:46 AM
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot, apakah mereka tidak pernah berpikir utk menambah tenaga
kerja, modal, mekanisasi pertanian dst. kemudian menjual surplus dan
berorientasi laba? Saya tertarik ingin mengetahui apakah mereka tidak
tertarik pd laba karena keterbatasan (tanah tdk subur, modal tidak ada,
dst) atau karena secara kultur memang tidak tertarik pd laba... apakah
mereka tdk terpikir bahwa dgn kemampuan ekonomi yg meningkat mereka bisa
memperbaiki taraf hidup (pendidikan anak, kenyamanan, sampai naik haji)?
Tks.
>
> Salam.
>
> --- On Tue, 12/15/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Risfan M risf...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 9:37 AM
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot,
> Â
> Sekarang ini banyak kajian anthropo-economy. Saya tidak tahu
kubu-kubunya dimana, tapi publikasinya kayaknya kian banyak. Saya banyak
mengambil manfaat waktu memfasilitasi pengembangan klaster UKM dan
pengembangan ekonomi lokal di beberapa daerah. Kalau di Ekonomi,
biasanya ada dibawah kajian Ekonomi Kelembagaan.
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
> Â
> Â
> Â
> Â
> Â
> Â
>
>
> --- On Mon, 12/14/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, December 14, 2009, 11:54 PM
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Eko, tanahnya sangat luas, sebab tanah adat mereka 1000 ha hanya
untuk sekitar 200 KK. Tanahnya gersang, kurang hujan, dan tenaga kerja
untuk pertanian hanya seluas rumah tangga di tempat itu. Hasilnya hanya
di kebun dalam satu musim tanam hanya untuk keluarga sendiri.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 12:48 PM
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Djarot, apakah hasil pangan yg dinikmati sendiri di Kaenbaun tsb
bukan akibat dari lahan yg sempit sehingga tdk ada surplus (pertanian
subsisten)? Apakah kalau produksi pertaniannya berlimpah dan ada surplus
akan dijual juga?
>
> salam.
>
> --- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 6:38 AM
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Eka, barangkali ada pengalaman yang tidak langsung terkait dengan
topik ekonomi rumah tangga, yaitu tentang ketahanan pangan di Kaenbaun.
Setelah saya telusuri dan sempat dicibiri oleh evaluator laporan
penelitian karena arsitek kok bicara pangan dan petanian, saya mendapat
penguatan dari pandangan Prof Mubyarto soal ekonomi kerakyatan berbasis
Pancasila. Beliau mengritik pandangan seorang penulis artikel, yang
mengatakan bahwa orientasi pertanian adalah pada laba. Kata beliau, ini
sebuah penyempitan masalah karena paradigma yang digunakan hanyalah
agribisnis. Beliau menyarankan, untuk Indonesia tidak bisa hanya dengan
paradigma agribisnis, sebab fenomena agriculture itu lebih luas dan
terkait dengan aspek sosial, politik dan budaya. Saya lega, sebab yang
terjadi di Kaenbaun lebih tepat dipandang dengan paradigma agriculture
yang mengandung aspe sosial, budaya dan politik. Mengapa ? Ya, sebab
hasil-hasil pangan di Kaenbaun tidak banyak yang dijual ke
> luar, melainkan dinikmati sendiri warganya.
>
> Basis pangan orang Kaenbaun ada pada rumah bulat (gudang jagung) dan
lumbung atau lopo (gudang padi, bukan beras). Jika ketahanan ekonomi
nasional adalah merupakan ketahanan yang ditopang oleh unit-unit ekonomi
skala yang lebih kecil hingga skala keluarga, maka persoalan ekonomi
rumah tangga tidak cukup dipandang dengan kacamata ekonomi-bisnis yang
hanya berorientasi laba. Apakah begitu ?
>
> Saya jadi mengerti, perubahan fakultas ekonomi di UGM sekarang yang
menjadi "Fakultas ekonomi dan bisnis" saja tampaknya bertentangan dengan
pandangan Prof Mubyarto, yang melihat fenomena ekonomi dengan kacamata
yang lebih luas (ada aspek sosial, politik dan budaya, dan lainnya),
bukan sekedar persoalan matematis... ...tesis saya tentang perlunya
unsur "sosio" dalam setiap tema diskusi tampaknya mendapat penguatan
dari Prof Mubyarto di tahun 2003. Mungkin pandangan semacam ini juga
sudah ketinggalan jaman ya ?
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Mon, 12/14/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote:
>
>
> From: ffekadj 4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] ekonomi rumah tangga
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, December 14, 2009, 11:26 PM
>
>
> Â
>
>
> Pak Onnos dkk ysh.
>
> Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang
> saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel,
> tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau
> meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di
> koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena
> ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan
> ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya.
>
> Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering
the
> Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila
> bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat
> luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang
berat
> dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang
> menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional
> (Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby) + dkk. Atau kalau ada yang mau
> menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak
> BSP & BTS).
>
> Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota
> dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja,
> aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan
> pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar,
> seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana
> mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang
> memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan
> masalah mereka?
>
> Sementara demikian dulu pak. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo sugiono_r@ ..>
> wrote:
> >
> >
> > Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak
guru
> yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah jam sekolah. Pernah
saya
> ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur.
> Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja
> alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi
> pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih
> sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan'
> terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ?
> >
> > Wassalam,
> >
> > Onnos
> >
> >
> >
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > From: 4ekadj@
> > Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000
> > Subject: [referensi] Re: jalur sepeda?
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu
> > 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah.
Pelakunya
> > bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala
> > sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari
kemiskinan
> > perkotaan? Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" harya.setyaka@
> > wrote:
> > >
> > > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang
> > bercita-cita jadi ojek?
> > > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999..
> > > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi
> > dalam konteks pengangguran. .
> > > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek
dengan
> > solusi transportasi salah obat jadinya..
> > >
> > > Salam,
> > > -K-
>



Kirim email ke