Pak Risfan dan Pak Eko serta sahabat semua,

Terima kasih atas pertanyaannya yang inspiratif. Studi saya memang unik Pak, 
yaitu tentang tata spasial desa Kaenbaun dalam pandangan seorang arsitek 
semi-planologi (heheee). Kebetulan saja informan saya harus orang yang 
mengetahui benar-benar fenomena masa lalu dan masa kini tentang tata 
elemen-elemen desa Kaenbaun, maka benar jika saya meng-eksklude para 
perantauan. Tentu ada alasannya, yaitu umumnya para perantau ini kurang 
memahami budaya Kaenbaun (sulit ditemui juga sih), kecuali Willem Foni yang 
memang menulis khusus tesis S2 tentang "Ritual Pertanian di Tunbaba". Orang 
seperti Willem Foni ini jarang ada di Kaenbaun, sebab para perantau ini umumnya 
berprofesi tukang bangunan. Orang yang masih mengetahui informasi budaya 
Kaenbaun sering pulang ke desa dan memotivasi supaya budaya mereka lestari. Ada 
dua orang yang intens seperti itu, setiap minggu sengaja datang ke desa 
mengikuti Misa lalu ikut terlibat rapat di halaman gereja membicarakan kemajuan
 desa mereka berbasis budaya lokal. Jadi saya hanya mempraktekkan konsep 
informan yang digagas Spradley, bahwa ia harus orang yang intens di dunianya, 
bukan sekedar orang yang pernah ada di dunia yang sedang saya teliti. Mantan 
tukang pukul (gali) yang setahun sudah tidak menjadi gali lagi, konon sudah 
nggak valid lagi sebagai informan yang baik.

Mereka umumnya pekerja keras, laki-laki di kebun yang medannya sulit, sementara 
para perempuan bekerja di rumah (menenun, memasak, mengasuh anak dst). Orang 
yang bekerja sebagai komuter jalan kaki sangat sedikit, misalnya ada guru yang 
tinggal di Kaenbaun setiap hari jalan kaki pergi-pulang mengajar di Jak (desa 
tetangga). Dia masih bisa menjadi informan yang baik dalam studi saya dan saya 
akomodasi informasinya. Umumnya yang bekerja di luar Kaenbaun tinggal di tempat 
yang dekat dengan tempat kerja (misalnya menjadi guru di Bitefa tinggal di 
Bitefa), meskipun agak dekat. Sesekali orang seperti ini juga ikut upacara adat 
di kampung karena kadang menjadi Atoin Amaf (laki-laki yang punya kewenangan 
adat).

Kayaknya suami-istri seimbang dalam hal pekerjaan dan lain-lain sebab agama 
asli (lokal) menggariskan gagasan bahwa laki-laki merupakan partner perempuan, 
meskipun secara tangible culture kayaknya patrilineal tetapi substansi 
intangiblenya sangat menghormati perempuan. Rumah bulat (gudang jagung) 
merupakan rumah suci sekaligus domain perempuan, dan doa-doa keluarga selalu 
dilakukan di dalam rumah bulat (perempuan) bukan di lopo (domain laki-laki).

Para perantau yang jauh, misalnya di Kalimantan, kayaknya kurang punya hubungan 
ekonomi dengan mereka yang tinggal di desa. Pater John pernah berceritera 
menemui kantong permukiman orang Kaenbaun di Kalimantan Barat mengatakan bahwa 
di Pontianak (???) ada banyak orang Kaenbaun tetapi hubungan dengan kampung 
asli "terputus". Sekarang baru akan dilakukan usaha menjahit hubungan dengan 
mereka yang dirantau. Saya tidak melihat, Kaenbaun menjadi desa pemasok tenaga 
kerja seperti desa-desa di NTT lainnya, yang terkenal menjadi pemasok TKI gelap 
di Malaysia dll. Selama sekian waktu (sejak 2004-2009) saya tidak mendengar 
cerita di lapangan tentang siapa merantau di Malaysia (misal) kemudian membawa 
berkah ekonomi bagi keluarganya di desa. Tampaknya desa ini memang agak 
"terpencil" dari keramaian kehidupan modern, meskipun mereka punya antena 
parabola yang bisa melihat acara heboh KPK, atau Silet yang tajam mengupas 
peristiwa !

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 12/15/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 15, 2009, 4:00 PM







 



  


    
      
      
      Pak Eko, Pak Djarot,
 
Itu juga saya tanyakan sebelumnya. Ternyata generasi mudanya pada pindah ke 
kota? Jadi sebetulnya perdesaan tersebut memang tidak berkembang. Tidak bisa 
menghidupi jumlah penduduknya yang meningkat. Bagaimanakah nsib anggota 
keluarga yang ke kota? Jangan-jangan Pak Djarot meng-exclude- kan mereka dari 
analisisnya?
Mudah-mudahan tidak lestari di desa tapi mengirim masalah ke tempat lain?
Memang tidak harus sih satu desa menghidupi jumlah penduduknya yang berkembang, 
migrasi juga boleh, tapi kan harus dipersiapkan dengan baik sejak dari desanya. 
Bukan begitu?
 
Pak Djarot, saya hanya ingin balance saja. Kadang apa kita tidak berfikir 
terlalu "priyayi", maksudnya "mengharamkan" motif ekonomi, tapi lupa bahwa 
"sang istri" (anggota keluarga lain) harus sembunyi-sembunyi kerja keras untuk 
menutupi "ongkos kemuliaan" suami yang priyayi (referensi saya novel Canting 
oleh Arswendo). Sehingga mungkin yang layak "dimulyakan" justru sang istri yang 
harus banting tulang menghidup anak-anak dan hobi suami. 
D.p.l jangan-jangan warga desa studi Bapak yang begitu mulia, sesungguhnya bisa 
hidup karena anak-anak mereka yang di Malaysia, Singapura, Hongkong dst. (Ini 
tipical perekonomian desa-desa Jatim, NTB, NTT kan?)
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 


--- On Tue, 12/15/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:


From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 2:46 AM


  





Pak Djarot, apakah mereka tidak pernah berpikir utk menambah tenaga kerja, 
modal, mekanisasi pertanian dst. kemudian menjual surplus dan berorientasi 
laba? Saya tertarik ingin mengetahui apakah mereka tidak tertarik pd laba 
karena keterbatasan (tanah tdk subur, modal tidak ada, dst) atau karena secara 
kultur memang tidak tertarik pd laba... apakah mereka tdk terpikir bahwa dgn 
kemampuan ekonomi yg meningkat mereka bisa memperbaiki taraf hidup (pendidikan 
anak, kenyamanan, sampai naik haji)? Tks.

Salam.

--- On Tue, 12/15/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 9:37 AM


  






Pak Djarot,
 
Sekarang ini banyak kajian anthropo-economy. Saya tidak tahu kubu-kubunya 
dimana, tapi publikasinya kayaknya kian banyak. Saya banyak mengambil manfaat 
waktu memfasilitasi pengembangan klaster UKM dan pengembangan ekonomi lokal di 
beberapa daerah. Kalau di Ekonomi, biasanya ada dibawah kajian Ekonomi 
Kelembagaan.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 
 


--- On Mon, 12/14/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, December 14, 2009, 11:54 PM


  





Pak Eko, tanahnya sangat luas, sebab tanah adat mereka 1000 ha hanya untuk 
sekitar 200 KK. Tanahnya gersang, kurang hujan, dan tenaga kerja untuk 
pertanian hanya seluas rumah tangga di tempat itu. Hasilnya hanya di kebun 
dalam satu musim tanam hanya untuk keluarga sendiri. 

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 12/15/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:


From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 12:48 PM


  





Pak Djarot, apakah hasil pangan yg dinikmati sendiri di Kaenbaun tsb bukan 
akibat dari lahan yg sempit sehingga tdk ada surplus (pertanian subsisten)? 
Apakah kalau produksi pertaniannya berlimpah dan ada surplus akan dijual juga?

salam.

--- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 6:38 AM


  





Pak Eka, barangkali ada pengalaman yang tidak langsung terkait dengan topik 
ekonomi rumah tangga, yaitu tentang ketahanan pangan di Kaenbaun. Setelah saya 
telusuri dan sempat dicibiri oleh evaluator laporan penelitian karena arsitek 
kok bicara pangan dan petanian, saya mendapat penguatan dari pandangan Prof 
Mubyarto soal ekonomi kerakyatan berbasis Pancasila. Beliau mengritik pandangan 
seorang penulis artikel, yang mengatakan bahwa orientasi pertanian adalah pada 
laba. Kata beliau, ini sebuah penyempitan masalah karena paradigma yang 
digunakan hanyalah agribisnis. Beliau menyarankan, untuk Indonesia tidak bisa 
hanya dengan paradigma agribisnis, sebab fenomena agriculture itu lebih luas 
dan terkait dengan aspek sosial, politik dan budaya. Saya lega, sebab yang 
terjadi di Kaenbaun lebih tepat dipandang dengan paradigma agriculture yang 
mengandung aspe sosial,
 budaya dan politik. Mengapa ? Ya, sebab hasil-hasil pangan di Kaenbaun tidak 
banyak yang dijual ke luar, melainkan dinikmati sendiri warganya.

Basis pangan orang Kaenbaun ada pada rumah bulat (gudang jagung) dan lumbung 
atau lopo (gudang padi, bukan beras). Jika ketahanan ekonomi nasional adalah 
merupakan ketahanan yang ditopang oleh unit-unit ekonomi skala yang lebih kecil 
hingga skala keluarga, maka persoalan ekonomi rumah tangga tidak cukup 
dipandang dengan kacamata ekonomi-bisnis yang hanya berorientasi laba. Apakah 
begitu ?

Saya jadi mengerti, perubahan fakultas ekonomi di UGM sekarang yang menjadi 
"Fakultas ekonomi dan bisnis" saja tampaknya bertentangan dengan pandangan Prof 
Mubyarto, yang melihat fenomena ekonomi dengan kacamata yang lebih luas (ada 
aspek sosial, politik dan budaya, dan lainnya), bukan sekedar persoalan 
matematis... ...tesis saya tentang perlunya unsur "sosio" dalam setiap tema 
diskusi tampaknya mendapat penguatan
 dari Prof Mubyarto di tahun 2003. Mungkin pandangan semacam ini juga sudah 
ketinggalan jaman ya ?

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 12/14/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] ekonomi rumah tangga
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, December 14, 2009, 11:26 PM


  


Pak Onnos dkk ysh.

Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang
saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel,
tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau
meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di
koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena
ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan
ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya.

Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering the
Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila
bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat
luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang berat
dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang
menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional
(Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby)
 + dkk. Atau kalau ada yang mau
menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak
BSP & BTS).

Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota
dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja,
aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan
pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar,
seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana
mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang
memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan
masalah mereka?

Sementara demikian dulu pak. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..>
wrote:
>
>
> Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak guru
yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah
 jam sekolah. Pernah saya
ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur.
Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja
alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi
pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih
sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan'
terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ?
>
> Wassalam,
>
> Onnos
>
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: 4ek...@...
> Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000
> Subject: [referensi] Re: jalur sepeda?
>
>
>
>
>
>
> Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu
> 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah. Pelakunya
> bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala
>
 sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari kemiskinan
> perkotaan? Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" harya.setyaka@
> wrote:
> >
> > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang
> bercita-cita jadi ojek?
> > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999..
> > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi
> dalam konteks pengangguran. .
> > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek dengan
> solusi transportasi salah obat jadinya..
> >
> > Salam,
> >
 -K-









      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke