Lagi survai ya pak?

Sebenarnya dalam kuantitatif itu juga menggunakan kualitatif, terutama
dalam penentuan variabel serta penafsiran dan pengujian hasil. Tapi
penelitian kuantitatif sangat signifikan untuk kasus Indonesia, karena
belum nemu penelitian kualitatif yang berkualitas, entah besok.

Untuk tujuan penyusunan kebijakan, perlu basis penelitian kuantitatif
yang mantab. Untuk mengorek struktur laten, perlu penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif disarankan untuk peneliti yang memiliki
theoritical understanding yang baik. Pengaturan subyektivitas (the self
and the other) perlu diajarkan dalam kuliah metodologi penelitian; perlu
revisi materi. Serta perlu ada orang yang sukarela mengajarkannya ke
masyarakat luas.

Di luar dari itu saya bangga kepada Pak Mod Eko, bila UI-ITB-UGM sedang
mencari platform sebagai 'the world class university', ternyata
Referensi sudah mencapai 'the world class multiversity'. Begitu
hendaknya.

-ekadj


--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eka,
>
> Kelompok yg mengagungkan analisa kuantitatif mengatakan bahwa
penelitian kualitatif itu rentan thd bias akibat subyektifitas peneliti
dan sumber data...karenanya less scientific..
>
> Kelompok yg menyukai kualitatif menyatakan bahwa penelitian kualitatif
pun bisa obyektif, bias bisa diminimalisasi, karena toh nantinya
hipothesis yg dihasilkan akan di uji melalui penelitian2 lain dan oleh
peneliti2 lain...
>
> Kelompok lain lagi mengatakan bahwa, baik penelitian yg menggunakan
kuantitatif maupun kualitatif sama2 tidak bisa lepas dari subyektifitas,
terutama subyektifitas si peneliti dlm mengintepretasi hasil
analisis...bahkan hal ini jg berlaku utk ilmu2 hard science..
>
> Kalau boleh tahu kira2 Pak Risfan, Pak Djarot, dan Pak Eka lebih
condong pd pendapat yg mana?
>
> salam..



Kirim email ke