Pak Djarot, Koko, Mewah bukan hanya dalam arti ongkos, tapi juga keterlibatan. Bukan cuma uang, waktu, tapi juga soal pengahayatan itu kan lama. Jangan bayangkan kita sendiri saja. Itu hoby namanya. Tapi harus dibayangkan kalau melibatkan orang lain, yang ada biayanya.
Contoh tukang mie depan rumah terlalu ekstrem karena selama ini cerita desa Kaenbuen di NTT, sedang penelitinya dari Jogja. Kalau ada grant yang yang targetnya open ya bagus. Tapi itu kan langka. Penyandang dana, pemberi kerja umumnya ya minta TOR yang jelas target, waktu, orang, transpor, meeting, yang semua jelas biayanya toh. Ini soal logis-logis saja. Sekali lagi itu terbawa gambaran penelitian induktif Pak Djarot. Yang sifatnya hampir "riset untuk riset." Kalau buku bisnis yang saya baca, etnografi dipakai untuk menganalisis: preferensi konsumen thd "minuman mineral", "pertimbangan konsumen memilih merek motor", dst. Dalam kasus seperti ini tentu tak beda soal "biaya" antara kuantitatif atau kualitatif. Apalagi kalau itu dilakukan oleh lembaga riset pasar yang profesional, sudah pengalaman. Tapi diluar kesan "kesakralan" yang saya tangkap dari dialog Djarot-Eko ttg riset induktif ini, menurut saya aplikasi riset induktif ini penting. Sebagai misal: walau pengambilan keputusan dalam perencanaan, pemanfaatan atau pengendalian itu ada prosedurnya (deduktif). Kiranya akan menarik kalau diteliti juga, bagaimana proses "yang sesungguhnya terjadi" (induktif). Ambil kasus Bopunjur. Siapa saja aktor yang terlibat, resmi tak resmi (riil), bagaimana prosesnya, pertimbangan / interest tiap aktor, dst hingga ganti 5 pemerintahan kok gak ada kemajuan berarti. Sehingga Planning tidak terjebak dalam siklus: survai - rencana - perda/pp - sulit dilaksanakan - revisi - perda/pp - sulit laksanakan - revisi - dst. Kalau kita tahu fenomena sesungguhnya yang terjadi, mungkin intervensinya tidak mengulang itu-itu lagi yang terbukti tidak efektif. D.p.l mungkin kian banyak riset induktif bisa mengurangi dominasi pemikiran yang normatif. Karena makin disadari pengaruh aspek kelembagaan dan relasi aktor ternyata yang pengaruhnya besar atas efektifitas rencana, bukan hanya kualitas rencananya. Salam, Risfan Munir Pada Sab, 19 Des 2009 10:13 CST Harya Setyaka menulis: > >CMIIW; >Mungkin lama nya waktu penelitian itu yg 'mewah'. >Kalau penelitian tsb bersifat proyek, maka 'mewah' sekali kalau jangka waktu >pengerjaannya lama dan para penelitinya melakukan penelitian dengan santai, >bahkan semi-plesir seperti pada contoh kasus Mie Jowo. >Kalau sudah terbiasa jadi konsultan kan artinya sudah sehari-2 jadi peneliti >proyekan; mengerjakan penelitian dgn berbasis proyek. > >Salam, >-K- > > > > > > >Pedal Powered BikeBerry > > >-----Original Message----- >From: Djarot Purbadi <[email protected]> >Date: Sat, 19 Dec 2009 07:56:22 >To: <[email protected]> >Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot > >Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko, > >Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait dengan >manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang terkait dalam >penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang bilang, toh bisa >diturunkan kadar subyektivitasnya sampai mencapai pengetahuan inter-subyektif. >Mungkin ya bisa begitu, saya belum mencoba, sebab dalam konteks lain isinya >bisa menjadi negatif. > >Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami Pak >Risfan, mohon penjelasan. > >Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual mi jowo >di Yogyakarta dengan langkah santai, maksudnya dikerjakan sedikit-demi-sedikit >dengan target pencapaian dalam waktu yang panjang, cara pengerjaannya bisa >sangat menarik dan murah (tidak mewah). Saya bisa santai mewawancara penjual >mi di perumahan saya sebagai awal (entry point) (lihat di >http://eloknogotirto,wordpress.com tentang Agus Mie atau di >http://penghunikota.wordpress.com tentang Kang Parjono), kemudian satu per >satu seminggu dua kali jajan mie yang dituntun informasi sebelumnya >mewawancara penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan dan sebaran spasial >penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas dan mendalam. > >Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga makanan tidak >mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3 - 4 gelas air jeruk >yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama wawancaranya, menjadi jam >seperti jam pasir). Memang satu penjual mie bisa kita datangi lebih dari >sekali (skenario grand-tour dan mini-tour) untuk melakukan validasi dsb. >Akhirnya informasi akan terkumpul secara induktif. Pengamatan awal saya masih >memperkuat tesis sebelumnya, bahwa kekerabatan ada kaitan dengan jaringan dan >sebaran spasial penjual mie jowo di Jogjakarta. > >Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori kekerabatan >sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab indikasi dapat >diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat kuesionernya...mungkin >bisa lebih cepat dikerjakan....waktunya pendek (beayanya sedikit; saya ke >Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga nggak sampai ratusan juta untuk >kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali lagi, saya belum mengerti mewahnya >dimana Pak ? > >Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis >disertasi atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing menentukan, >bagaimana sebuah proposal mengarah kepada penulisan disertasi ataukah tidak. > >Salam, > > > >Djarot Purbadi > > > >http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > >http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > >http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > >--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <[email protected]> wrote: > >From: Risfan M <[email protected]> >Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot >To: [email protected] >Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Eko dan temans ysh, > > > >Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. >Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. > >Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang >terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif. > > > >Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya >bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. >Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan >ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau >intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan >lingkungan, kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana. > >Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin >peraturan jelas selama ini gak efektif. > > > >Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif >itu sesuatu yg "mewah" ya. > > > >Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. >Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis >kualitatif. > > > >Pendapat yang agak campur-campur ya. > > > >Salam, > >Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >

