Pak Risfan dan Pak Harya, terima kasih atas tanggapannya.

Fenomena di sekitar saya barangkali ada kaitan dengan: mengapa peneliti Jogja 
meneliti di Kaenbaun (Timor). Selain alasan keilmuan, mengangkat arsitektur 
vernakular skala lingkungan permukiman, ada alasan yang pernah saya sadari dan 
menjadi guyonan bagi saya tetapi tidak dicerna dengan baik oleh teman-teman 
saya.

Jika di lingkungan Pak Eko teman-teman beliau sekolah di luar negeri dan 
meneliti di luar negeri, maka di lingkungan saya sekolah di luar negeri dan 
menelitinya di rumah sendiri. Lha saya, kayaknya ingin tampil beda: sekolah di 
rumah sendiri tetapi menelitinya di luar pulau, yang jika dihitung jarak sudah 
melebihi luar negeri (Jogja-Singapor lebih dekat daripada Jogja-Kaenbaun), 
bahkan nyaris di tapal batas dengan Timor Leste. Itu konteksnya yang saya 
ingat. 

Jadi sekolahnya sederhana, penelitiannya "mewah" ngiras plesiran ke Timor, 
padahal di Timor adanya bukan toko-toko barang mewah seperti di Paris (cerita 
Pak Eko), yang mudah mendapatkan sepatu-sepatu mahal. Jika kita ke Kaenbaun, 
yang ditemui adalah ritual adat dengan berdoa mengelilingi batu, menyembelih 
babi, memakan dagingnya dan darahnya (sop darah babi), juga mabuk sopi 
hehehe... ini soal pilihan, tetapi di dalamnya barangkali terkandung kemewahan 
juga ya.

Tidak ada salahnya sekolah di luar negeri kemudian meneliti di Jogja, ngiras 
pulang kampung. Bukan menelitinya yang sinambi piknik, melainkan sekolahnya 
yang sinambi piknik. Keuntungannya banyak, minimal bahasa Inggris jadi lancar 
dan fenomena negeri sendiri terangkat ke permukaan sehingga bisa tampil di 
cakrawala ilmu pengetahuan. Tetapi, kayaknya saya memang ingin tampil beda 
dibandingkan teman-teman. Memang ada juga yang seperti saya, rekan fakultas 
hukum sangat terikat tempat: sekolah di Jogja meneliti di Jogja juga, atau 
paling jauh sekolah di Surabaya meneliti di Jogja.

Jika dilihat dari "penghayatan" memahami fenomena, saya merasa kok tidak ada 
kemewahannya ya Pak Risfan ? Bagaimana nih ? Kalau penghayatan memang menjadi 
syarat pokoknya, supaya pemahaman (understand, verstehen) terhadap fenomena 
bisa "mentog".

Soal kesan riset induktif adalah "riset untuk riset", ada sedikit benarnya, 
sebab yang saya ceritakan sangat terkait dengan penelitian untuk disertasi, 
yang ujungnya memang berusaha mengungkapkan teori baru. Tetapi sebenarnya, 
tidak selalu demikian. Beberapa "proyek perancangan" saya kerjakan dengan 
proses induksi di bagian awal (menemukan model of) kemudian seterusnya ke arah 
rancangannya (merumuskan model for). 

Jadi gagasan Pak Risfan tentang kaitan riset induktif dengan penerapan sangat 
tepat, dan ini sama dengan riset-riset yang lain juga demikian, selalu ada 
kaitan dengan dunia praksis. Jika kita diskusi tentang riset induksi ya artinya 
"naik gunung" dan itu memang sedang menjalani proses "riset untuk riset", maka 
perlu ada langkah lanjutan untuk mengaitkannya dengan dunia nyata yang 
tujuannya memecahkan masalah. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 12/20/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Bls: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: [email protected]
Date: Sunday, December 20, 2009, 12:57 AM







 



  


    
      
      
      Pak Djarot, Koko,



Mewah bukan hanya dalam arti ongkos, tapi juga keterlibatan. Bukan cuma uang, 
waktu, tapi juga soal pengahayatan itu kan lama. Jangan bayangkan kita sendiri 
saja. Itu hoby namanya. Tapi harus dibayangkan kalau melibatkan orang lain, 
yang ada biayanya.



Contoh tukang mie depan rumah terlalu ekstrem karena selama ini cerita desa 
Kaenbuen di NTT, sedang penelitinya dari Jogja.



Kalau ada grant yang yang targetnya open ya bagus. Tapi itu kan langka. 
Penyandang dana, pemberi kerja umumnya ya minta TOR yang jelas target, waktu, 
orang, transpor, meeting, yang semua jelas biayanya toh. Ini soal logis-logis 
saja.



Sekali lagi itu terbawa gambaran penelitian induktif Pak Djarot. Yang sifatnya 
hampir "riset untuk riset."



Kalau buku bisnis yang saya baca, etnografi dipakai untuk menganalisis: 
preferensi konsumen thd "minuman mineral", "pertimbangan konsumen memilih merek 
motor", dst. Dalam kasus seperti ini tentu tak beda soal "biaya" antara 
kuantitatif atau kualitatif. Apalagi kalau itu dilakukan oleh lembaga riset 
pasar yang profesional, sudah pengalaman.



Tapi diluar kesan "kesakralan" yang saya tangkap dari dialog Djarot-Eko ttg 
riset induktif ini, menurut saya aplikasi riset induktif ini penting.



Sebagai misal: walau pengambilan keputusan dalam perencanaan, pemanfaatan atau 
pengendalian itu ada prosedurnya (deduktif). Kiranya akan menarik kalau 
diteliti juga, bagaimana proses "yang sesungguhnya terjadi" (induktif). Ambil 
kasus Bopunjur. Siapa saja aktor yang terlibat, resmi tak resmi (riil), 
bagaimana prosesnya, pertimbangan / interest tiap aktor, dst hingga ganti 5 
pemerintahan kok gak ada kemajuan berarti.

Sehingga Planning tidak terjebak dalam siklus: survai - rencana - perda/pp - 
sulit dilaksanakan - revisi - perda/pp - sulit laksanakan - revisi - dst. 

Kalau kita tahu fenomena sesungguhnya yang terjadi, mungkin intervensinya tidak 
mengulang itu-itu lagi yang terbukti tidak efektif.



D.p.l mungkin kian banyak riset induktif bisa mengurangi dominasi pemikiran 
yang normatif. Karena makin disadari pengaruh aspek kelembagaan dan relasi 
aktor ternyata yang pengaruhnya besar atas efektifitas rencana, bukan hanya 
kualitas rencananya.



Salam,

Risfan Munir



Pada Sab, 19 Des 2009 10:13 CST Harya Setyaka menulis:



>

>CMIIW;

>Mungkin lama nya waktu penelitian itu yg 'mewah'.

>Kalau penelitian tsb bersifat proyek, maka 'mewah' sekali kalau jangka waktu 
>pengerjaannya lama dan para penelitinya melakukan penelitian dengan santai, 
>bahkan semi-plesir seperti pada contoh kasus Mie Jowo.

>Kalau sudah terbiasa jadi konsultan kan artinya sudah sehari-2 jadi peneliti 
>proyekan; mengerjakan penelitian dgn berbasis proyek.

>

>Salam,

>-K-

>

>

>

>

>

>

>Pedal Powered BikeBerry

>

>

>-----Original Message-----

>From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>

>Date: Sat, 19 Dec 2009 07:56:22 

>To: <refere...@yahoogrou ps.com>

>Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot

>

>Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko,

>

>Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait dengan 
>manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang terkait dalam 
>penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang bilang, toh bisa 
>diturunkan kadar subyektivitasnya sampai mencapai pengetahuan inter-subyektif. 
>Mungkin ya bisa begitu, saya belum mencoba, sebab dalam konteks lain isinya 
>bisa menjadi negatif.

>

>Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami Pak 
>Risfan, mohon penjelasan. 

>

>Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual mi jowo 
>di Yogyakarta dengan langkah santai, maksudnya dikerjakan sedikit-demi- 
>sedikit dengan target pencapaian dalam waktu yang panjang, cara pengerjaannya 
>bisa sangat menarik dan murah (tidak mewah). Saya bisa santai mewawancara 
>penjual mi di perumahan saya sebagai awal (entry point) (lihat di 
>http://eloknogotirt o,wordpress. com tentang Agus Mie atau di 
>http://penghunikota .wordpress. com tentang Kang Parjono), kemudian satu per 
>satu seminggu dua kali jajan mie yang dituntun informasi sebelumnya 
>mewawancara penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan dan sebaran spasial 
>penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas dan mendalam. 

>

>Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga makanan tidak 
>mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3 - 4 gelas air jeruk 
>yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama wawancaranya, menjadi jam 
>seperti jam pasir). Memang satu penjual mie bisa kita datangi lebih dari 
>sekali (skenario grand-tour dan mini-tour) untuk melakukan validasi dsb. 
>Akhirnya informasi akan terkumpul secara induktif. Pengamatan awal saya masih 
>memperkuat tesis sebelumnya, bahwa kekerabatan ada kaitan dengan jaringan dan 
>sebaran spasial penjual mie jowo di Jogjakarta. 

>

>Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori kekerabatan 
>sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab indikasi dapat 
>diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat kuesionernya. ..mungkin 
>bisa lebih cepat dikerjakan.. ..waktunya pendek (beayanya sedikit; saya ke 
>Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga nggak sampai ratusan juta untuk 
>kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali lagi, saya belum mengerti mewahnya 
>dimana Pak ?

>

>Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis 
>disertasi atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing menentukan, 
>bagaimana sebuah proposal mengarah kepada penulisan disertasi ataukah tidak.

>

>Salam,

>

>

>

>Djarot Purbadi

>

>

>

>http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

>http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

>http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

>--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

>

>From: Risfan M <risf...@yahoo. com>

>Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot

>To: refere...@yahoogrou ps.com

>Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM

>

>

>

>

>

>

>

> 

>

>

>

>  

>

>

>    

>      

>      

>      Pak Eko dan temans ysh,

>

>

>

>Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. 
>Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. 

>

>Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang 
>terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.

>

>

>

>Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya 
>bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. 
>Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan 
>ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau 
>intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan 
>lingkungan, kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.

>

>Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin 
>peraturan jelas selama ini gak efektif.

>

>

>

>Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif 
>itu sesuatu yg "mewah" ya. 

>

>

>

>Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. 
>Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis 
>kualitatif.

>

>

>

>Pendapat yang agak campur-campur ya.

>

>

>

>Salam,

>

>Risfan Munir

>

>

>

>

>

>    

>     

>

>    

>    

>

>

> 

>

>

>

>  

>

>

>

>

>

>

>      





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke