Terima kasih Pak Wilmar atas pencerahannya. Kira-kira dimana pak lokasi
ibukota barunya? Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:
>
>
>
> Salam sejahtera,
>
> Kalau boleh ikut nimbrung dalam diskusi akhir tahun ini, khususnya
tentang pemindahan ibukota, saya pikir wajar kalau kita perlu belajar
dari pengalaman bangsa lain mengenai keberhasilan atau kegagalan mereka
agar kalau kita jadi membangun ibukota baru kita bisa membangun lebih
baik. Tetapi sebaiknya kita tidak terjebak dalam rational empiricism
untuk menentukan apakah kita mmerlukan ibukota baru atau tidak. Tiap
bangsa yang memutuskan membangun ibukota baru punya alasan, tujuan dan
proses yang berbeda-beda, dan banyak variasinya.
>
> Dari segi alasan saja bisa ada beberapa sub aspek seperti alasan
mengapa dan alasan ke mana. Alasan mengapa bisa dilandasi oleh
kebutuhan, bisa juga oleh keinginan, atau malah kepercayaan. Sedangkan
alasan ke mana bisa didasari oleh lebih banyak hal, baik fisik,
geografis, historis, logis, metafisik, ketersediaan, dlsbnya. Apalagi
kalau mau melihat tujuan dan proses yang terjadi. Sebaiknya kita tidak
menyatakan kalau kita tidak bisa mengikuti negara A dengan ibukota
barunya karena tidak berhasil, atau kita mau mengikuti negara B karena
berhasil, karena tiap negara berbeda. Selain itu tingkat keberhasilan
itu kan relatif, tergantung tolok ukurnya.
>
> Contoh: Beberapa ibukota baru dibangun dengan alasan melepaskan diri
dari sejarah kolonialisme. Brasilia, Islamabad dan Palangkaraya muncul
dari idealisme ini. Tapi nasib ketiganya berbeda, Brasilia dan Islamabad
tetap menjadi ibukota negara baru, sementara Palangkaraya tidak
(beberapa alasan tidak jadinya Palangkaraya sudah dituliskan Wijanarka
(2006), silakan baca footnote 1 artikel saya di City, 13:1, pp.120-128,
2009). Selanjutnya, meskipun mulai dibangun di era yang sama Brasilia
sudah menyelesaikan tahapan pembangunannya, sementara Islamabad masih
dalam tahap pembangunan karena apa yang terjadi di kedua negara berbeda.
>
> Untuk mencoba menjawab pertanyaan di poin no. 10 mas Koko di bawah,
saya termasuk orang yang melihat bahwa Indonesia memerlukan ibukota
baru. Dulu saat reformasi mulai saya menganalogikan peristiwa Hijrah
sebagai sesuatu yang diperlukan bangsa Indonesia untuk menata ulang peri
kehidupan berbangsa dari tempat yang baru. Sekarang saya percaya
pembangunan ibukota baru akan memberikan sebuah peluang untuk
menyelesaikan persoalan kota Jakarta, tanpa harus merugikan negara.
Namun kita memang perlu menghitung secara cermat biaya-biaya yang
ditimbulkan. Selain itu kita juga perlu melihat peluang-peluang yang
tersedia untuk menutup biaya-biaya tersebut.
>
> Jadi pertanyaannya bukan semata apa urgensinya sebuah ibukota baru,
tapi untuk Indonesia di masa depan, maukah kita mempunyai ibukota baru?
>
> Selamat tahun baru,
>
> Wilmar
>
>
> --- In [email protected], Harya Setyaka harya.setyaka@ wrote:
> >
> > Halo,
> > Saya mau tanggapi secara keseluruhan diskusi, bukan specific pada
regional
> > equalities.
> >
> > 1. Mengenai Brasilia:
> > Refrensi megnenai Brasilia yg cukup komprehensif bisa ditemukan di
text-book
> > yg sangat umum di dunia planning; yaitu Cities of Tomorrow oleh
Peter Hall.
> > di Bab 7, The City of Towers, satu sub-bab khusus membahas Brasilia:
the
> > Quasi-Corbusian City (kalau punya edisi 3, hal 230-235).
> > (Peter Hall sendiri memang tidak banyak menulis mengenai kota-2
non-Bule).
> > Brasilia, dalam batas kota yg direncanakan, memang baik.. tapi
kegagalannya
> > adalah banyak kota-2 lain tumbuh berjamur dipinggirannya, secara
kurang
> > terencana dengan baik.
> > Biaya yg dikeluarkan untuk pembangunan juga sangat besar. Mungkin
ini bisa
> > dianggap sebagai bentuk 'ketegasan kebijakan', tapi disisi lain,
mengapa
> > tidak pernah ada ketegasan kebijakan yg berpihak pada kaum miskin.
> > Hall menyoroti pembiayaan.. bagaimana kaum pekerja disedot duit
pajaknya
> > untuk membangun kota tsb, tapi agenda-2 sosial lainnya terbengkalai.
> >
> > Sejarah Brazil mencatat 2 kali perpindahan ibukota.. dari Salvador,
lalu ke
> > Rio, lalu ke Brasilia ..
> > dan proses nya memang lama.. sudah dari 1823 pertama kali
dicetuskan, baru
> > 1960 ter-realisasi..
> >
> > 2. Mengenai Canberra.
> > Juga ada di buku nya Peter Hall sebagi sub-bab, tapi di Bab lain,
yaitu bab
> > 6; The City of Monuments. Planner nya Canberra adalah mantan
asistennya
> > Frank Lloyd Wright.
> > Prosesnya juga tidak singkat, dan memang secara sengaja lokasinya
dipilih
> > tidak bejarak lebih dari 100 mil dari Sydney.
> >
> > 3. Washington DC.
> > Sebenarnya juga 'pindahan' dari Philadelphia tahun 1800an.
> > Tujuannya supaya aman secara militer. Tapi toh akhirnya pernah juga
diserang
> > oleh tentara kerajaan Inggris.
> > Lalu Civil War, jamannya Abraham Lincoln, kota tumbuh pesat.. banyak
> > penduduk afro-american yg di-merdekakan dari perbudakan.
> > Seterusnya hingga 1870 sudah kembali menemui masalah kembali,
kelayak-hunian
> > memburuk.. sehingga Congress mengusulkan pindah lagi.
> > Tapi ternyata hingga sekarang masih tetap dengan terus membenahi
diri dengan
> > kiat-kiat rancang bangun dan teknologi konstruksi mutakhir., antara
lain ya
> > mengaspal jalan dan membangun sanitasi dan drainase.. sebagaimana
tantangan
> > perkotaan yg umum masa itu.
> >
> > sistem pemerintahan USA unik.. pemerintah pusat (Federal) dibangun
bottom up
> > oleh negara-bagian (States) yg sudah berdiri otonom sebelumnya.
(mereka
> > membentuk Federasi awalnya dari pakta militer untuk menghadapi
tentara
> > Kerajaan Inggris).
> > Kewenangan pemerintah Federal tidak melebihi yang diberikan States
(kebalik
> > sama Indonesia saat ini...)
> > Begitu pula ketika ingin membenahi Washington DC pada masa itu; ya
untuk
> > pendanaan perlu 'direstui' states-2 nya..
> >
> > Baik Brazil, Australia, USA, semuanya adalah negara produk
perambahan benua
> > oleh bangsa Eropa yang diamini sejarah.
> >
> > Ada contoh lain; yaitu New Delhi.. yg merupakan ibukota bentukan
pemerintah
> > Kolonial Inggris.. sedangkan sebelumnya ibukota ada di Calcutta.
> > Tapi sejarah tidak mengamini perambahan benua oleh kerajaan Inggris
ini.
> >
> > Contoh lain; masih di benua Amerika adalah Mexico City; yg merupakan
kota
> > kuno bangsa Aztec sejak 1325 yang lalu diteruskan oleh pemerintah
kolonial
> > Spanyol.
> > Ketika Mexico (bule nya, bukan Aztec nya) merdeka dari Raja Spanyol,
tahun
> > 1821, ibukota tetap di Mexico City..
> > dan hingga kini jadi kota yg sangat kurang layak huni pun tidak
pindah
> > ibukotanya.
> >
> > 4. Indonesia.
> > Yang pertama kali menjadikan ibukota di muara sungai Ciliwung adalah
VOC,
> > yang lalu diteruskan oleh Hindia Belanda. Oleh Kerajaan Pajajaran,
Sunda
> > Kelapa tidak dianggap penting.
> > sesuai khittahnya; VOC adalah entitas dagang bersenjata.
> > VOC pula lah yg pertama kali menjadikan Jakarta sebagai simpul
perdagangan.
> > VOC adalah Pemerintahan yang memiliki kewenangan militer, namun
konstituen
> > nya adalah 17 komisaris yg berkantor di Amsterdam. Kota hanya
memiliki 2
> > fungsi: Pelabuhan dagang dan benteng militer.
> > Pemukiman sipil diluar tembok benteng, tanpa rencana, pembiayaan
swadaya..
> > Lalu mulai ada 'pergeseran' (karena gak pindah jauh) yaitu mengarah
ke
> > pedalaman..
> > dan ditandai oleh jatuh-bangunnya rezim militer.
> > Daendels memindahkan ke Gambir.. masih di tepi Ciliwung.
> > Lalu Daendels pun memerintahkan pembangunan Bandung di tepi
Cikapundung,
> > sekaligus memindahkan pusat Kabupaten Bandung.
> >
> > Raffles membangun pusat pemerintahan di Bogor.
> > Lalu pada masa Hindia Belanda, investasi pembangunan fungsi-2
pemerintahan
> > di Bandung cukup gencar.. termasuk membangun lapangan udara militer
> > (penerbangan sipil masih sangat jarang saat itu) dan juga pusat
militer di
> > Cimahi.
> >
> > Hindia Belanda juga membangun kota baru Jatinegara, lengkap dengan
> > infrastruktur rel yg sangat memadai saat itu (Manggarai), dan juga
fungsi-2
> > militer.
> >
> > Apapun rencana pemerintah Hindia Belanda saat itu (yg saya ketahui
ingin
> > pindah ke Bandung yg lebih sejuk dari Gambir), tidak sempat
terlaksana..
> >
> > Dari sudut pandang pembangunan kota: Pemerintah Hindia Belanda
sangat banyak
> > melakukan program-2 sosial bagi kaum pribumi yg dipayungi politik
etis
> > (1900), tapi tidak banyak menyentuh perbaikan permukiman (housing
> > improvement).. Baru tahun 1925-7 mulai disetujui bantuan dana
pemerintah
> > pusat kepada kota-praja yg cukup otonom dalam memperbaiki
permukiman.
> > pemerintah kota-praja kurang tertarik memperbaiki permukiman karena
masalah
> > kesejahteraan pribumi-jelata memang tanggung jawab pemerintah pusat,
dan
> > dewan kota juga enggan menyetujui anggaran untuk kaum pribumi juga
karena
> > kaum pribumi under-represented dan ya karena miskin gak bayar pajak
> > (non-taxable).
> >
> > Soekarno memang sempat memikirkan pindahan.. tapi tahun 1962 malah
> > berbalik..
> > Pembangunan fokus ke Jakarta.. antara lain proyek-2 mercu suar yg
> > difasilitasi pendanaan Soviet.
> >
> > Rencana pemindahan jamannya Soeharto, sebagaimana kebijakan-2 dan
proyek-2
> > lainnya, di-bajak oleh nafsu riba kroni-kroni tengik nya..
> >
> > Lessons learned bagi Indonesia saat ini: kalau Jakarta terasa makin
sesak,
> > makin tidak layak huni.. solusinya bukan pindahan.. tapi planning yg
lebih
> > baik lagi.. di semua lini baik di lini analisis, prediksi, dan
mengambil
> > tindakan (policy, implementation, enforcement).
> >
> >
> >
> > 5. Malaysia
> > sepertinya kisah sukses yg agaknya bikin pengen.
> > Kita selalu merasa tercambuk apabila ada prestasi Malaysia yg belum
mampu
> > kita samai. Tapi KL juga menjadi lebih layak huni karena investasi
di sektor
> > transportasi.. ya dengan ngutang juga .. nombok juga ..
> >
> >
> > 6. Regional equalities..
> > saya perlu garisbawahi (sorry kalao tidak berbau 'tata ruang', tapi
lebih
> > tata uang): perlu kita reformasi perimbangan keuangan daerah...
> > Pajak atas industri ekstraktif yg mendominasi perekonomian Indonesia
Timur,
> > tidak perlu 'mampir' dulu di Jakarta..
> > Perlu efisiensi dan rasionalisasi perimbangan keuangan daerah.
> > Jadi, untuk tujuan yg mulia ini; mungkin federalisasi lebih
efektif.. kalao
> > federalisasi bisa mengefisiensikan administrasi pembangunan..
mengapa
> > tidak..
> >
> >
> > 7. Jarak dan tekonologi transportasi.
> > Ya, memang jarak cartesian / euclidean tidak akan berubah..
> > tapi teknologi & regulasi transportasi memang justru mengatasi
'jarak'
> > tersebut..
> > Kita cukup membandingkan waktu tempuh dan ongkos saja dari tahun ke
tahun..
> > Masih ingat jaman dulu 15-20 tahun lalu.. bagaimana
Jakarta-Surabaya,
> > Jakarta-Semarang by train? Jakarta-Medan, Jakarta-Menado, dlsb?
> > berapa ongkos nya dulu ketika cuma ada Garuda?
> > Jadi memang betul bahwa teknologi dan regulasi transportasi mampu
mengatasi
> > jarak.
> > Teknologi menyingkat jarak tempuh. Regulasi (persaingan usaha yg
sehat)
> > menurunkan ongkos. (contoh yg paling shahih adalah di bidang
> > telekomunikasi).
> >
> > 8. Separtisme..
> > kembali muncul mitos-2 ala pemerintahan kolonial mengenai
separatisme yang
> > mempercayai bahwa separatisme akan hilang apabila kesenjangan
kesejahteraan
> > antar wilayah kepulauan diminimalisir..
> > Canada, negara yg sejahtera namun tetap ada separatisme.
> > Separatisme juga terjadi di negara kontinental (non-kepulauan).
> >
> > Memindahkan ibukota meredam separatisme? Salah obat lagi..
> >
> > 9. Pemindahan Ibukota sebagai keputusan rasional:
> > Memang UK adalah Monarki.. tapi monarki konstitusional..
> > hukum tetap dijunjung tinggi dan keluarga kerajaan pun tunduk pada
hukum.
> > tidak seperti sabda pandito ratu ala kerajaan nusantara.. dimana
lidah raja
> > adalah hukum.
> > kaitannya dengan memindahkan ibukota:
> > ini masalah motif dan metode..
> > perencanaan modern motifnya adalah (kalau demokrasi berjalan baik)
> > kemaslahatan rakyat banyak, bukan hanya sebagian yg itu-itu saja
(elite)..
> > dan metode nya adalah rasional empiric..
> > Jaman kerajaan dulu, pindahan ibukota basically adalh si Raja dan
keluarga
> > pindah rumah.. Motif nya? ya mempertahankan status quo dinastinya
dari
> > ancaman expansi kerajaan lain maupun pemberontakan..
> > Raja Thailand juga sempat pindah rumah beberapa kali sampai akhirnya
di
> > Bangkok sekarang ini.
> >
> >
> >
> > 10. Saya sepakat dengan Pak BTS.. intinya; apa urgensi nya
memindahkan
> > ibukota?
> > Kalau Jakarta menjadi semakin tidak layak huni; seluruh alternatif
solusi
> > perlu ditampilkan diatas meja..
> >
> > Seluruh penjelasan dan sumber refrensi juga perlu disajikan diatas
meja dan
> > dinilai secara objective dan subtantial. Yg perlu kita ingat adalah
blog
> > maupun suatu paper yg ditulis sudah cukup lama tidak akan bisa
menjadi
> > refrensi yg lengkap. Apalagi Blog itu tidak termasuk refrensi yg
shahih
> > secara ilmiah.. un-refereed.
> > Sedangkan kalao journal paper, ya perlu dipelajari juga yg terbaru.
> > Juga tidak bijak mengambil kesimpulan yg terlalu jauh dari olah-data
> > statistik yg sederhana..
> >
> > kalao diagnosa nya bukan masalah teruknya Jakarta, tapi masalah-2
keutuhan
> > negara kesatuan atau masalah lain yg sudah dibahas secara
superficial
> > lainnya; sama juga; seluruh solusi perlu disajikan diatas meja..
> >
> > Bukan malah terbalik; bias kepada suatu solusi, lalu problem
statement -nya
> > yg bolak-balik direvisi..
> >
> >
> > Salam hangat,
> > -K-
> >
>



Kirim email ke