Dear all,

Saya sependapat dgn Koko dan Pak BTS, pemindahan masalah ibu kota kita lihat 
urgensinya dulu...

Memecahkan masalah Jakarta, masalah apa? 

Masalah transportasi? apakah harus dgn memindahkan ibu kota? Tidak bisakah dgn 
pembangunan public transport yg lebih baik (subway, monorail, tramway, dll)? 
Kalau ibu kota dipindahkan apakah dgn demikian Jakarta dibiarkan sendirian dgn 
masalahnya? Kalau Jakarta ditangani dan ibu kota dipindahkan, punya uangkah 
kita? 

Masalah banjir? Tidak bisakah ditangani dgn pembangunan infrastruktur banjir yg 
memadai? Kalau ibu kota dipindahkan apakah Jakarta lalu dibiarkan? Kalau 
ditangani keduanya, adakah uangnya?

Masalah gempa, meledaknya krakatau, ibu kota kalau begitu harus jauh dr 
Jakarta, tidak bisa di Tangerang, Jonggol, dst... Tapi lalu apakah ibu kotanya 
dipindah dan Jakarta dibiarkan saja dgn resiko seperti itu? yah kalau penduduk 
Jakarta banyak yg mati itu salah sendiri kenapa tdk mau pindah, begitukah?...

Masalah Jawa sudah padat penduduknya. Mengapa ibu kotanya yg dipindah? Mengapa 
bukan manusianya yg dipindah dgn transmigrasi?

Belajar dr pengalaman negara lain dan sejarah bangsa sendiri perlu, tetapi 
masalah kita yg spesifik lah yg perlu didalami sebelum memutuskan...

Sekali lagi saya tdk anti ide pemindahan ibu kota, tapi saya kok menangkap 
kesan kita putus asa dgn masalah Jakarta lalu hendak melarikan diri (maaf kalau 
kesan saya salah)... Kenapa masalahnya tdk kita hadapi head on? Apakah dgn 
memindahkan ibu kota lalu Jakarta kita biarkan? Kalau tdk kita biarkan artinya 
kita punya 2 pengeluaran negara yg besar: (1) mengatasi masalah Jakarta dan (2) 
memindahkan ibu kota... 

ini masalah keterbatasan anggaran dan opportunity cost... ketika angka kematian 
ibu dan bayi di beberapa propinsi masih tinggi, kemiskinan dan pengangguran yg 
signifikan, tingkat persaingan dgn China dan Vietnam yg menajam, krisis ekonomi 
yg belum sepenuhnya pulih, dst... tentu kalau anggaran pemerintah kita tdk 
terbatas tidak ada masalah...

salam.





--- On Tue, 12/29/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Ibukota baru
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 29, 2009, 12:35 PM







 



  


    
      
      
      

Terima kasih Pak Wilmar atas pencerahannya. Kira-kira dimana pak lokasi

ibukota barunya? Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:

>

>

>

> Salam sejahtera,

>

> Kalau boleh ikut nimbrung dalam diskusi akhir tahun ini, khususnya

tentang pemindahan ibukota, saya pikir wajar kalau kita perlu belajar

dari pengalaman bangsa lain mengenai keberhasilan atau kegagalan mereka

agar kalau kita jadi membangun ibukota baru kita bisa membangun lebih

baik. Tetapi sebaiknya kita tidak terjebak dalam rational empiricism

untuk menentukan apakah kita mmerlukan ibukota baru atau tidak. Tiap

bangsa yang memutuskan membangun ibukota baru punya alasan, tujuan dan

proses yang berbeda-beda, dan banyak variasinya.

>

> Dari segi alasan saja bisa ada beberapa sub aspek seperti alasan

mengapa dan alasan ke mana. Alasan mengapa bisa dilandasi oleh

kebutuhan, bisa juga oleh keinginan, atau malah kepercayaan. Sedangkan

alasan ke mana bisa didasari oleh lebih banyak hal, baik fisik,

geografis, historis, logis, metafisik, ketersediaan, dlsbnya. Apalagi

kalau mau melihat tujuan dan proses yang terjadi. Sebaiknya kita tidak

menyatakan kalau kita tidak bisa mengikuti negara A dengan ibukota

barunya karena tidak berhasil, atau kita mau mengikuti negara B karena

berhasil, karena tiap negara berbeda. Selain itu tingkat keberhasilan

itu kan relatif, tergantung tolok ukurnya.

>

> Contoh: Beberapa ibukota baru dibangun dengan alasan melepaskan diri

dari sejarah kolonialisme. Brasilia, Islamabad dan Palangkaraya muncul

dari idealisme ini. Tapi nasib ketiganya berbeda, Brasilia dan Islamabad

tetap menjadi ibukota negara baru, sementara Palangkaraya tidak

(beberapa alasan tidak jadinya Palangkaraya sudah dituliskan Wijanarka

(2006), silakan baca footnote 1 artikel saya di City, 13:1, pp.120-128,

2009). Selanjutnya, meskipun mulai dibangun di era yang sama Brasilia

sudah menyelesaikan tahapan pembangunannya, sementara Islamabad masih

dalam tahap pembangunan karena apa yang terjadi di kedua negara berbeda.

>

> Untuk mencoba menjawab pertanyaan di poin no. 10 mas Koko di bawah,

saya termasuk orang yang melihat bahwa Indonesia memerlukan ibukota

baru. Dulu saat reformasi mulai saya menganalogikan peristiwa Hijrah

sebagai sesuatu yang diperlukan bangsa Indonesia untuk menata ulang peri

kehidupan berbangsa dari tempat yang baru. Sekarang saya percaya

pembangunan ibukota baru akan memberikan sebuah peluang untuk

menyelesaikan persoalan kota Jakarta, tanpa harus merugikan negara.

Namun kita memang perlu menghitung secara cermat biaya-biaya yang

ditimbulkan. Selain itu kita juga perlu melihat peluang-peluang yang

tersedia untuk menutup biaya-biaya tersebut.

>

> Jadi pertanyaannya bukan semata apa urgensinya sebuah ibukota baru,

tapi untuk Indonesia di masa depan, maukah kita mempunyai ibukota baru?

>

> Selamat tahun baru,

>

> Wilmar

>

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Harya Setyaka harya.setyaka@ wrote:

> >

> > Halo,

> > Saya mau tanggapi secara keseluruhan diskusi, bukan specific pada

regional

> > equalities.

> >

> > 1. Mengenai Brasilia:

> > Refrensi megnenai Brasilia yg cukup komprehensif bisa ditemukan di

text-book

> > yg sangat umum di dunia planning; yaitu Cities of Tomorrow oleh

Peter Hall.

> > di Bab 7, The City of Towers, satu sub-bab khusus membahas Brasilia:

the

> > Quasi-Corbusian City (kalau punya edisi 3, hal 230-235).

> > (Peter Hall sendiri memang tidak banyak menulis mengenai kota-2

non-Bule).

> > Brasilia, dalam batas kota yg direncanakan, memang baik.. tapi

kegagalannya

> > adalah banyak kota-2 lain tumbuh berjamur dipinggirannya, secara

kurang

> > terencana dengan baik.

> > Biaya yg dikeluarkan untuk pembangunan juga sangat besar. Mungkin

ini bisa

> > dianggap sebagai bentuk 'ketegasan kebijakan', tapi disisi lain,

mengapa

> > tidak pernah ada ketegasan kebijakan yg berpihak pada kaum miskin.

> > Hall menyoroti pembiayaan.. bagaimana kaum pekerja disedot duit

pajaknya

> > untuk membangun kota tsb, tapi agenda-2 sosial lainnya terbengkalai.

> >

> > Sejarah Brazil mencatat 2 kali perpindahan ibukota.. dari Salvador,

lalu ke

> > Rio, lalu ke Brasilia ..

> > dan proses nya memang lama.. sudah dari 1823 pertama kali

dicetuskan, baru

> > 1960 ter-realisasi. .

> >

> > 2. Mengenai Canberra.

> > Juga ada di buku nya Peter Hall sebagi sub-bab, tapi di Bab lain,

yaitu bab

> > 6; The City of Monuments. Planner nya Canberra adalah mantan

asistennya

> > Frank Lloyd Wright.

> > Prosesnya juga tidak singkat, dan memang secara sengaja lokasinya

dipilih

> > tidak bejarak lebih dari 100 mil dari Sydney.

> >

> > 3. Washington DC.

> > Sebenarnya juga 'pindahan' dari Philadelphia tahun 1800an.

> > Tujuannya supaya aman secara militer. Tapi toh akhirnya pernah juga

diserang

> > oleh tentara kerajaan Inggris.

> > Lalu Civil War, jamannya Abraham Lincoln, kota tumbuh pesat.. banyak

> > penduduk afro-american yg di-merdekakan dari perbudakan.

> > Seterusnya hingga 1870 sudah kembali menemui masalah kembali,

kelayak-hunian

> > memburuk.. sehingga Congress mengusulkan pindah lagi.

> > Tapi ternyata hingga sekarang masih tetap dengan terus membenahi

diri dengan

> > kiat-kiat rancang bangun dan teknologi konstruksi mutakhir., antara

lain ya

> > mengaspal jalan dan membangun sanitasi dan drainase.. sebagaimana

tantangan

> > perkotaan yg umum masa itu.

> >

> > sistem pemerintahan USA unik.. pemerintah pusat (Federal) dibangun

bottom up

> > oleh negara-bagian (States) yg sudah berdiri otonom sebelumnya.

(mereka

> > membentuk Federasi awalnya dari pakta militer untuk menghadapi

tentara

> > Kerajaan Inggris).

> > Kewenangan pemerintah Federal tidak melebihi yang diberikan States

(kebalik

> > sama Indonesia saat ini...)

> > Begitu pula ketika ingin membenahi Washington DC pada masa itu; ya

untuk

> > pendanaan perlu 'direstui' states-2 nya..

> >

> > Baik Brazil, Australia, USA, semuanya adalah negara produk

perambahan benua

> > oleh bangsa Eropa yang diamini sejarah.

> >

> > Ada contoh lain; yaitu New Delhi.. yg merupakan ibukota bentukan

pemerintah

> > Kolonial Inggris.. sedangkan sebelumnya ibukota ada di Calcutta.

> > Tapi sejarah tidak mengamini perambahan benua oleh kerajaan Inggris

ini.

> >

> > Contoh lain; masih di benua Amerika adalah Mexico City; yg merupakan

kota

> > kuno bangsa Aztec sejak 1325 yang lalu diteruskan oleh pemerintah

kolonial

> > Spanyol.

> > Ketika Mexico (bule nya, bukan Aztec nya) merdeka dari Raja Spanyol,

tahun

> > 1821, ibukota tetap di Mexico City..

> > dan hingga kini jadi kota yg sangat kurang layak huni pun tidak

pindah

> > ibukotanya.

> >

> > 4. Indonesia.

> > Yang pertama kali menjadikan ibukota di muara sungai Ciliwung adalah

VOC,

> > yang lalu diteruskan oleh Hindia Belanda. Oleh Kerajaan Pajajaran,

Sunda

> > Kelapa tidak dianggap penting.

> > sesuai khittahnya; VOC adalah entitas dagang bersenjata.

> > VOC pula lah yg pertama kali menjadikan Jakarta sebagai simpul

perdagangan.

> > VOC adalah Pemerintahan yang memiliki kewenangan militer, namun

konstituen

> > nya adalah 17 komisaris yg berkantor di Amsterdam. Kota hanya

memiliki 2

> > fungsi: Pelabuhan dagang dan benteng militer.

> > Pemukiman sipil diluar tembok benteng, tanpa rencana, pembiayaan

swadaya..

> > Lalu mulai ada 'pergeseran' (karena gak pindah jauh) yaitu mengarah

ke

> > pedalaman..

> > dan ditandai oleh jatuh-bangunnya rezim militer.

> > Daendels memindahkan ke Gambir.. masih di tepi Ciliwung.

> > Lalu Daendels pun memerintahkan pembangunan Bandung di tepi

Cikapundung,

> > sekaligus memindahkan pusat Kabupaten Bandung.

> >

> > Raffles membangun pusat pemerintahan di Bogor.

> > Lalu pada masa Hindia Belanda, investasi pembangunan fungsi-2

pemerintahan

> > di Bandung cukup gencar.. termasuk membangun lapangan udara militer

> > (penerbangan sipil masih sangat jarang saat itu) dan juga pusat

militer di

> > Cimahi.

> >

> > Hindia Belanda juga membangun kota baru Jatinegara, lengkap dengan

> > infrastruktur rel yg sangat memadai saat itu (Manggarai), dan juga

fungsi-2

> > militer.

> >

> > Apapun rencana pemerintah Hindia Belanda saat itu (yg saya ketahui

ingin

> > pindah ke Bandung yg lebih sejuk dari Gambir), tidak sempat

terlaksana..

> >

> > Dari sudut pandang pembangunan kota: Pemerintah Hindia Belanda

sangat banyak

> > melakukan program-2 sosial bagi kaum pribumi yg dipayungi politik

etis

> > (1900), tapi tidak banyak menyentuh perbaikan permukiman (housing

> > improvement) .. Baru tahun 1925-7 mulai disetujui bantuan dana

pemerintah

> > pusat kepada kota-praja yg cukup otonom dalam memperbaiki

permukiman.

> > pemerintah kota-praja kurang tertarik memperbaiki permukiman karena

masalah

> > kesejahteraan pribumi-jelata memang tanggung jawab pemerintah pusat,

dan

> > dewan kota juga enggan menyetujui anggaran untuk kaum pribumi juga

karena

> > kaum pribumi under-represented dan ya karena miskin gak bayar pajak

> > (non-taxable) .

> >

> > Soekarno memang sempat memikirkan pindahan.. tapi tahun 1962 malah

> > berbalik..

> > Pembangunan fokus ke Jakarta.. antara lain proyek-2 mercu suar yg

> > difasilitasi pendanaan Soviet.

> >

> > Rencana pemindahan jamannya Soeharto, sebagaimana kebijakan-2 dan

proyek-2

> > lainnya, di-bajak oleh nafsu riba kroni-kroni tengik nya..

> >

> > Lessons learned bagi Indonesia saat ini: kalau Jakarta terasa makin

sesak,

> > makin tidak layak huni.. solusinya bukan pindahan.. tapi planning yg

lebih

> > baik lagi.. di semua lini baik di lini analisis, prediksi, dan

mengambil

> > tindakan (policy, implementation, enforcement) .

> >

> >

> >

> > 5. Malaysia

> > sepertinya kisah sukses yg agaknya bikin pengen.

> > Kita selalu merasa tercambuk apabila ada prestasi Malaysia yg belum

mampu

> > kita samai. Tapi KL juga menjadi lebih layak huni karena investasi

di sektor

> > transportasi. . ya dengan ngutang juga .. nombok juga ..

> >

> >

> > 6. Regional equalities..

> > saya perlu garisbawahi (sorry kalao tidak berbau 'tata ruang', tapi

lebih

> > tata uang): perlu kita reformasi perimbangan keuangan daerah...

> > Pajak atas industri ekstraktif yg mendominasi perekonomian Indonesia

Timur,

> > tidak perlu 'mampir' dulu di Jakarta..

> > Perlu efisiensi dan rasionalisasi perimbangan keuangan daerah.

> > Jadi, untuk tujuan yg mulia ini; mungkin federalisasi lebih

efektif.. kalao

> > federalisasi bisa mengefisiensikan administrasi pembangunan. .

mengapa

> > tidak..

> >

> >

> > 7. Jarak dan tekonologi transportasi.

> > Ya, memang jarak cartesian / euclidean tidak akan berubah..

> > tapi teknologi & regulasi transportasi memang justru mengatasi

'jarak'

> > tersebut..

> > Kita cukup membandingkan waktu tempuh dan ongkos saja dari tahun ke

tahun..

> > Masih ingat jaman dulu 15-20 tahun lalu.. bagaimana

Jakarta-Surabaya,

> > Jakarta-Semarang by train? Jakarta-Medan, Jakarta-Menado, dlsb?

> > berapa ongkos nya dulu ketika cuma ada Garuda?

> > Jadi memang betul bahwa teknologi dan regulasi transportasi mampu

mengatasi

> > jarak.

> > Teknologi menyingkat jarak tempuh. Regulasi (persaingan usaha yg

sehat)

> > menurunkan ongkos. (contoh yg paling shahih adalah di bidang

> > telekomunikasi) .

> >

> > 8. Separtisme..

> > kembali muncul mitos-2 ala pemerintahan kolonial mengenai

separatisme yang

> > mempercayai bahwa separatisme akan hilang apabila kesenjangan

kesejahteraan

> > antar wilayah kepulauan diminimalisir. .

> > Canada, negara yg sejahtera namun tetap ada separatisme.

> > Separatisme juga terjadi di negara kontinental (non-kepulauan) .

> >

> > Memindahkan ibukota meredam separatisme? Salah obat lagi..

> >

> > 9. Pemindahan Ibukota sebagai keputusan rasional:

> > Memang UK adalah Monarki.. tapi monarki konstitusional. .

> > hukum tetap dijunjung tinggi dan keluarga kerajaan pun tunduk pada

hukum.

> > tidak seperti sabda pandito ratu ala kerajaan nusantara.. dimana

lidah raja

> > adalah hukum.

> > kaitannya dengan memindahkan ibukota:

> > ini masalah motif dan metode..

> > perencanaan modern motifnya adalah (kalau demokrasi berjalan baik)

> > kemaslahatan rakyat banyak, bukan hanya sebagian yg itu-itu saja

(elite)..

> > dan metode nya adalah rasional empiric..

> > Jaman kerajaan dulu, pindahan ibukota basically adalh si Raja dan

keluarga

> > pindah rumah.. Motif nya? ya mempertahankan status quo dinastinya

dari

> > ancaman expansi kerajaan lain maupun pemberontakan. .

> > Raja Thailand juga sempat pindah rumah beberapa kali sampai akhirnya

di

> > Bangkok sekarang ini.

> >

> >

> >

> > 10. Saya sepakat dengan Pak BTS.. intinya; apa urgensi nya

memindahkan

> > ibukota?

> > Kalau Jakarta menjadi semakin tidak layak huni; seluruh alternatif

solusi

> > perlu ditampilkan diatas meja..

> >

> > Seluruh penjelasan dan sumber refrensi juga perlu disajikan diatas

meja dan

> > dinilai secara objective dan subtantial. Yg perlu kita ingat adalah

blog

> > maupun suatu paper yg ditulis sudah cukup lama tidak akan bisa

menjadi

> > refrensi yg lengkap. Apalagi Blog itu tidak termasuk refrensi yg

shahih

> > secara ilmiah.. un-refereed.

> > Sedangkan kalao journal paper, ya perlu dipelajari juga yg terbaru.

> > Juga tidak bijak mengambil kesimpulan yg terlalu jauh dari olah-data

> > statistik yg sederhana..

> >

> > kalao diagnosa nya bukan masalah teruknya Jakarta, tapi masalah-2

keutuhan

> > negara kesatuan atau masalah lain yg sudah dibahas secara

superficial

> > lainnya; sama juga; seluruh solusi perlu disajikan diatas meja..

> >

> > Bukan malah terbalik; bias kepada suatu solusi, lalu problem

statement -nya

> > yg bolak-balik direvisi..

> >

> >

> > Salam hangat,

> > -K-

> >

>





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke