Dear Sahabats,

Kearifan lokal sebagai mainstream yang digagas oleh Pak Sudaryono sebenarnya 
ada latar belakangnya, yaitu kasus "Mega Proyek Parangtritis" sekitar tahun 
1995. Pada waktu itu di sisi barat pantai Parangkusumo akan diubah menjadi 
kawasan rekreasi mirip Ancol. Tampaknya pemda Jogja tidak berdaya menghadapi 
tekanan investor (entah backupnya siapa atau darimana, lupa), padahal Sultan 
pernah mengatakan pantai kita jangan menjadi seperti di Bali yang 
dikapling-kapling hotel dan para nelayan kehilangan habitatnya. 

Melihat rencana itu, rakyat Parangtritis bergerak menolaknya dan didukung oleh 
para intelektual kampus, akhirnya mega proyek bisa digagalkan. Konteksnya 
menjadi unik karena pada waktu itu orde baru masih berjaya, sehingga perlawanan 
rakyat yang didukung para ilmuwan menjadi peristiwa yang monumental: rakyat 
Jogja mampu melawan kekuatan ekspansif orde baru. Pada titik ini terdapat 
inspirasi bahwa ada kearifan lokal yang mampu melindungi penataan ruang 
kehidupan oleh masyarakat sendiri dan dengan substansi yang mereka miliki. 
Parangtritis selama ini memang ditata oleh masyarakat sendiri, sebab selesainya 
jembatan Kretek memicu perkembangan Paris (Parangtritis) dengan akselerasi yang 
tinggi. 

Tema penelitian di Paris adalah menggali kearifan lokal yang muncul dari 
sinerji spatial capital dengan social capital. Dari penelitian itu muncul teori 
bahwa di Parangtritis terdapat kekuasaan masyarakat atas ruang dan mereka 
menatanya sesuai dengan karakter spatial capital dan social kapital yang mereka 
miliki. Kekuasaan di Parangtritis bukan sebuah institusi, melainkan kekuasaan 
dalam pengertian Focault, yang menyebar dan tersebar dimana-mana. Kasus 
Parangtritis menjadi monumental karena penataan kawasan pantai yang lain tidak 
berdaya terhadap kekuasaan (ekonomi-politik) dari luar yang mengintervensinya 
atas nama pembangunan. Begitu ceritanya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 1/30/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK
To: [email protected]
Date: Saturday, January 30, 2010, 1:54 PM







 



  


    
      
      
      Pak Risfan dan Referensiers ysh.
Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah 
meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran.  Sebelumnya 
saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa fasilitasi 
pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar di tempat 
munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada umpan-balik yang 
signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan manfaatnya bagi bangsa 
Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis ini. Tidak semuanya gayung 
bersambut kata berjawab, sehingga dapat memunculkan banyak pertanyaan lain, 
seperti misalnya harapan itu bapak tuliskan dalam komentar di bawah.
Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith malah 
didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang fenomena sosial 
dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai 'dewa kota', dst. Dengan 
kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan penting dalam mengembangkan dan 
menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini sebagaimana yang bapak maksudkan: 
bersekutu, melakukan perlawanan, atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah 
caranya dinamika itu berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat 
teori sendiri untuk Indonesia!
Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma, namun 
sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra yang selama 
ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang kompeten mengatakan, 
bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi pada pembentukan mazhab, 
rujukan saya Pak Hendro.
Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek yang 
menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah saya intip, 
belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah' bisa digunakan 
bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas yang saya temukan 
seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut 'bulir', namun ketika 
dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk dan ditampi disebut 'beras', 
dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau digoreng namanya 'nasi goreng', dan 
setelah dimakan dan dikeluarkan namanya 'ampas'. Bendanya itu juga.
Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada pengumuman 
tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'. Kedua, adalah hal 
ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang pada tahun lalu. Ada 
konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah mentoq, seperti kutipan  ini. 
Dalam postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya berani 
menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga, 
fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak asli 
pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening) yang mencari 
jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu fenomenologi aslinya masih 
mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi ini tipikal in situ. Keempat, 
memang ada beberapa orang ahli yang (katanya) bersepakat tentang hal itu.
Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab ini. 
Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian dulu. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
> 
> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc apakah 
> juga bukan "Barat menuduh Barat". 
> 
> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda 
> paradigma.Sesungguh nya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek 
> bersamanya), adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu Budaya.
> 
> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk (maaf 
> sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka tidak ribut, 
> karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat' memahami "ilmuku is 
> ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner (yang belajar ekonomi, budaya 
> setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan" hasil-hasil pemikiran mereka, jangan 
> justru terjebak dalam "kutukan" ilmu mereka.
> 
> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu kata 
> syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an, 40an) Dunia 
> Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti kapitalis. 
> Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara baru, lalu 
> pembangunan (ekonomi). 
> 
> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi awal 
> 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut diganjal gombal 
> (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi makan 180 juta 
> penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu "visi, misi yang pasti, 
> persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu ancaman sparatis masih laten bisa 
> terjadi. Era pembangunan menjalankan misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" 
> yang terlalu kuat menimbulkan ekses "KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk 
> bangkitnya era baru, Era Reformasi.
> 
> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi, 
> demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan, 
> FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal Indonesia. 
> Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini rupanya juga gejala 
> global. Buktinya terjadi dimana-mana.
> 
> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat tinggal 
> layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.
> 
> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan" , jangan 
> kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist), atau 
> sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang ilmunya 
> jelas bertentangan rukun-rukun saja.
> 
> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik, kuantitatif, 
> deterministik gantinya diharap ganti dengan yang "partisipatif, berbudaya, 
> mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu lah. Masing-masing punya ruang 
> geraknya masing-masing. Kita Planner sebaiknya bisa menggunakan keduanya 
> sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat untuk skala luas, pendekatan partisipatif 
> berbasis komunitas kebanyakan dibangun dari pengalaman di level community.
> 
> Salam,
> Risfan Munir



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke