Pak moderator yb.,

Ada yang berminat gabung lagi nih. 1. Lailan Khairani (alumni IT), dan 2.
Kara Devona Siahaan (yang lagi stusi urban development di TUD Jerman dan IUG
Prancis). Trims atas perkenannya.

 

Salam,

ryz

 

From: R. Yando Zakaria [mailto:[email protected]] 
Sent: 09 Maret 2010 17:12
To: '[email protected]'
Cc: 'Mangara Silalahi'
Subject: Ingin gabung

 

Pak Moderatr yb.,

Ada seorang teman yang berminat ikutan di forum ini.  Jika diperkenankan,
sila add alamat ini:  Mangara Silalahi [[email protected]]

 

Salam,

ryz

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of ffekadj
Sent: 30 Januari 2010 13:54
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK

 

  

Pak Risfan dan Referensiers ysh.

Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah
meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran.
Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa
fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar di
tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada umpan-balik
yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan manfaatnya bagi bangsa
Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis ini. Tidak semuanya gayung
bersambut kata berjawab, sehingga dapat memunculkan banyak pertanyaan lain,
seperti misalnya harapan itu bapak tuliskan dalam komentar di bawah.

Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith malah
didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang fenomena
sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai 'dewa kota',
dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan penting dalam
mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini sebagaimana
yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan, atau berjalan
sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu berjalan. Pak ATA sudah
beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri untuk Indonesia!

Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma, namun
sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra yang selama
ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang kompeten mengatakan,
bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi pada pembentukan mazhab,
rujukan saya Pak <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2306>
Hendro.

Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek yang
menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah saya intip,
belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah' bisa digunakan
bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas yang saya temukan
seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut 'bulir', namun ketika
dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk dan ditampi disebut
'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau digoreng namanya 'nasi
goreng', dan setelah dimakan dan dikeluarkan namanya 'ampas'. Bendanya itu
juga.

Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada
pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'.
Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang pada
tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah mentoq,
seperti kutipan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9026>
ini. Dalam postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya
berani menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga,
fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak asli
pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening) yang
mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu fenomenologi
aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi ini tipikal in
situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang (katanya) bersepakat
tentang hal itu.

Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab
ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian dulu.
Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
> 
> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc
apakah juga bukan "Barat menuduh Barat". 
> 
> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda
paradigma.Sesungguhnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek
bersamanya), adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu Budaya.
> 
> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk
(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka tidak
ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat' memahami
"ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner (yang belajar
ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan" hasil-hasil
pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam "kutukan" ilmu mereka.
> 
> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu kata
syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an, 40an) Dunia
Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti kapitalis.
Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara baru, lalu
pembangunan (ekonomi). 
> 
> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi
awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut diganjal
gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi makan 180
juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu "visi, misi yang
pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu ancaman sparatis masih
laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan misinya. Dan selanjutnya
"kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses "KKN". Maka kondisi menjadi
matang untuk bangkitnya era baru, Era Reformasi.
> 
> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi,
demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan,
FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal Indonesia.
Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini rupanya juga gejala
global. Buktinya terjadi dimana-mana.
> 
> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat tinggal
layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.
> 
> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan",
jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist), atau
sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang ilmunya
jelas bertentangan rukun-rukun saja.
> 
> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik, kuantitatif,
deterministik gantinya diharap ganti dengan yang "partisipatif, berbudaya,
mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu lah. Masing-masing punya
ruang geraknya masing-masing. Kita Planner sebaiknya bisa menggunakan
keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat untuk skala luas, pendekatan
partisipatif berbasis komunitas kebanyakan dibangun dari pengalaman di level
community.
> 
> Salam,
> Risfan Munir



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke