Pak Djarot ysh, dari cerita yang bapak sampaikan saya menilai bahwa
keterlibatan ilmuwan disitu adalah inisiatif pemberdayaan masyarakat,
jadi belum menjadi tesis ilmiah. Saya justru mengharapkan adanya
pandangan tertulis dari beberapa tokoh yang bapak sebutkan yang dapat
menjelaskan suatu pendekatan bahwa local wisdom adalah alternatif dalam
penjiwaan pembangunan, walaupun bentuknya adalah defensif-empowering.
Sampai saat ini saya mencatat baru dua orang dari Mazhab Yogya yang
dibahas pemikirannya di milis ini, yaitu bapak sendiri dan Pak A.
Djunaedi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/6322> , dan
beberapa orang simpatisan.

Sementara demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Dear Sahabats,
>
> Kearifan lokal sebagai mainstream yang digagas oleh Pak Sudaryono
sebenarnya ada latar belakangnya, yaitu kasus "Mega Proyek Parangtritis"
sekitar tahun 1995. Pada waktu itu di sisi barat pantai Parangkusumo
akan diubah menjadi kawasan rekreasi mirip Ancol. Tampaknya pemda Jogja
tidak berdaya menghadapi tekanan investor (entah backupnya siapa atau
darimana, lupa), padahal Sultan pernah mengatakan pantai kita jangan
menjadi seperti di Bali yang dikapling-kapling hotel dan para nelayan
kehilangan habitatnya.
>
> Melihat rencana itu, rakyat Parangtritis bergerak menolaknya dan
didukung oleh para intelektual kampus, akhirnya mega proyek bisa
digagalkan. Konteksnya menjadi unik karena pada waktu itu orde baru
masih berjaya, sehingga perlawanan rakyat yang didukung para ilmuwan
menjadi peristiwa yang monumental: rakyat Jogja mampu melawan kekuatan
ekspansif orde baru. Pada titik ini terdapat inspirasi bahwa ada
kearifan lokal yang mampu melindungi penataan ruang kehidupan oleh
masyarakat sendiri dan dengan substansi yang mereka miliki. Parangtritis
selama ini memang ditata oleh masyarakat sendiri, sebab selesainya
jembatan Kretek memicu perkembangan Paris (Parangtritis) dengan
akselerasi yang tinggi.
>
> Tema penelitian di Paris adalah menggali kearifan lokal yang muncul
dari sinerji spatial capital dengan social capital. Dari penelitian itu
muncul teori bahwa di Parangtritis terdapat kekuasaan masyarakat atas
ruang dan mereka menatanya sesuai dengan karakter spatial capital dan
social kapital yang mereka miliki. Kekuasaan di Parangtritis bukan
sebuah institusi, melainkan kekuasaan dalam pengertian Focault, yang
menyebar dan tersebar dimana-mana. Kasus Parangtritis menjadi monumental
karena penataan kawasan pantai yang lain tidak berdaya terhadap
kekuasaan (ekonomi-politik) dari luar yang mengintervensinya atas nama
pembangunan. Begitu ceritanya.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Sat, 1/30/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK
> To: [email protected]
> Date: Saturday, January 30, 2010, 1:54 PM
>
> Pak Risfan dan Referensiers ysh.
> Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya
telah meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an
pemikiran.Ă‚  Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh
Barat', hanya berupa fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang
sedang atau telah belajar di tempat munculnya berbagai pandangan itu;
dengan berharap ada umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka
pelajari dan manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+
peserta milis ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab,
sehingga dapat memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya
harapan itu bapak tuliskan dalam komentar di bawah.
> Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith
malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang
fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai
'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan
penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal
ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan,
atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu
berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri
untuk Indonesia!
> Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma,
namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra
yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang
kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi
pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro.
> Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek
yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah
saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah'
bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari
vernacularitas yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada
di tangkai disebut 'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi',
kemudian setelah ditumbuk dan ditampi disebut 'beras', dan setelah
dimasak dinamakan 'nasi', kalau digoreng namanya 'nasi goreng', dan
setelah dimakan dan dikeluarkan namanya 'ampas'. Bendanya itu juga.
> Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada
pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'.
Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang
pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah
mentoq, seperti kutipan  ini. Dalam postingan lain, saya cari ndak
nemu, ada pernyataan bila Yogya berani menolak eksternalitas untuk
mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga, fenomenologi yang menjadi
dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak asli pendekatan Barat,
lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening) yang mencari jejak pada
akar keilmuan modern; karena dalam ilmu fenomenologi aslinya masih mau
menerima eksternalitas. Jadi metodologi ini tipikal in situ. Keempat,
memang ada beberapa orang ahli yang (katanya) bersepakat tentang hal
itu.
> Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap
mazhab ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara
demikian dulu. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote:
> >
> > Uda Ekadj dan Rekans ysh,
> >
> > Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc
apakah juga bukan "Barat menuduh Barat".
> >
> > Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda
paradigma.Sesungguh nya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek
bersamanya), adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu
Budaya.
> >
> > Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault,
dkk (maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara
mereka tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga
'sepakat' memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai
Planner (yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya
"memanfaatkan" hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak
dalam "kutukan" ilmu mereka.
> >
> > Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu
kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an,
40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti
kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara
baru, lalu pembangunan (ekonomi).
> >
> > Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan,
tapi awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut
diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi
makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu
"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu
ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan
misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses
"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era
Reformasi.
> >
> > Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide
reformasi, demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik,
perencanaan, FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak
tipikal Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi"
ini rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana.
> >
> > Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat
tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.
> >
> > Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan"
, jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist),
atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang
ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja.
> >
> > "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik,
kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang
"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu
lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita Planner
sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat
untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas kebanyakan
dibangun dari pengalaman di level community.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
>


Kirim email ke