Setuju banget pak, tapi saya pribadi tidak tahu di kemendagri siapa  
yang paling 'enak' diajak action/ omong2 perihal kota. Dulu jaman  
IUIDP kita punya kelompok TKPP atau IMG dimana mendagri aktif  
terlibat, bersama2 pak sidabutar/pu,pak saad basaib/bappenas,pak arlen  
pakpahan/keuangan,waktu itu depdagri pak sudarsono. Sekarang generasi  
muda Dagri yg 'care' ttg perkotaan siapa ya?
On Feb 2, 2010, at 8:46 PM, Risfan Munir wrote:

> Bu Yati dan Rekans ysh,
>
> Dalam kaitan dengan MANAJEMEN perkotaan, mungkin dengan otonomi  
> daerah, satu faktor penentu skenario NUDS (kecepatan desentralisasi)  
> menjadi jelas.   Dalam kaitan kelembagaan mungkin Kemdagri,  
> khususnya DJ Otda dan Bangda juga perlu diajak lagi  (bukan hanya PU  
> disamping Bappenas). Karena pada era otonomi daerah ini, terutama  
> Otda termasuk yang masih kuat pengaruhnya. Jangan sampai timbul  
> kesan 'urusan perkotaan' adalah bagian dari urusan ke-PU-an semata  
> (parsial lagi).
> Sementara dari PU sendiri sekarang ada DJPenataan Ruang dan DJ Cipta  
> Karya. Disamping Kementerian Perumahan Rakyat, dimana para  
> pengembang (the real urban developer) bernaung. Nampaknya MANAJEMEN  
> koordinasi di tingkat nasional ini perlu perhatian tersendiri.
>
> Perhatian ke aspek MANAJEMEN ini penting, mengingat instrumen bagi  
> NUDS seperti IUIDP yang mengandalkan loan kemungkinannya tidak  
> sekuat dulu. Sekarang mau tak mau geser ke mengandalkan otonomi  
> kota, yang dana 'pembangunan' nya sudah bergeser 'anggaran  
> pelayanan', selain besarnya juga terbatas.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Budhy TS Soegijoko <[email protected]>
> Sent: Tuesday, February 02, 2010 7:26 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>
>
> Maaf ada yg kehapus. Intinya kita sudah punya banyak strategi  
> kebijakan pembangunan kota, mulai dari NUDS 1 thn 1985, NUDS 2 (son  
> of NUDS), NUDS 3 (grandson of NUDS) sedang dalam proses  
> penyempurnaan dan sosialisasi. Kebijakan dan strategi sudah banyak.  
> Tetapi belum pernah secara konsisten diikuti atau apalagi  
> dilaksanakan. Belum pernah jadi dokumen berkekuatan hukum. Mengapa?  
> Krn orang  atau lembaga tertinggi dinegara ini belum 'ngeh' belum  
> care ttg kota2 kita sebagai suatu entitas, bukan parsial. Bagaimana  
> kita bisa menatik perhatian mereka thd hal ini? Statistik sudah  
> bicara ttg pertumbuhan kota yg begitu pesat. Tunggu apalagi? Salam,  
> ini dari bu Yati, fosil yg pernah ada di planologi. Barangkali ada  
> diantara kalian yg kenal atau masih ingat.
>
> On Feb 2, 2010, at 5:34 AM, Risfan M wrote:
> Rekans ysh,
>
> Dalam situasi dan kondisi permukiman yang runyam seperti sekarang  
> ini maka paling gampang kita mengatakan 'setiap ide adalah salah  
> besar, bahkan biang kerok.
>
> Yang hoby kelautan bilang ini gara2 bias daratan. Yang gemar  
> fenomenologi mengatakan ini gara2 kuantitatif minded. Yang bangga  
> suka desa bilang urban bias lah biangnya.
>
> Menurut saya semua bisa berkontribusi terhadap perbaikan, kalau bisa  
> dilaksanakan secara konsisten.
>
> Satu hal lagi, mungkin perlu ada upaya lebih kuat untuk menarik  
> perhatian Pemerintah, Dunia Usaha, Kelompok Penentu terhadap masalah  
> Perkotaan dan Permukiman.
>
> Ini penting karena di kalangan pemerintah sendiri sangat birokratis  
> dan menghambat. Contohnya, misalnya saat DKI harus mengimpor bus,  
> hambatan datang dari prosedur pelabuhan yang tak mau tahu  
> kepentingan publik dari bus tersebut. Ini contoh yang mungkin salah,  
> banyak masalah MANAJEMEN yang tidak sinkron semacam ini.
>
> Sulitnya kerjasama Jabodetabek, masalah TPA sampah Tangerang  
> Selatan, menunjukkan MANAJEMEN Pemda tidak beres, masih belum bisa  
> berfikir tentang kerjasama.
>
> Jadi menurut saya semua ide bisa berkontribusi, termasuk tinjauan  
> aspek perbaikan MANAJEMEN (pemerintahan, pembangunan) dan bagimana  
> mengajak stakeholders, termasuk yang pengaruhnya besar.
> Kata ahli "kegagalan demokrasi" sudah didepan mata, maka ada baiknya  
> kita tumbuhkan saling percaya (trust) dan kerjasama.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Pada Sen, 01 Feb 2010 10:34 CST nita menulis:
>
>> Referensier,
>> Pendeknya, kita sudah mengalami proses urbanisasi.... Berubah  
>> menjadi kota.. Baik dari desa menjadi kota, maupun kota yg  
>> "membengkak"...
>>
>> Mengutip sedikit kalimat pak BTS, ... Kembali ke desa... Bukan lagi  
>> salah besar, tapi jadi aneh... Sepertinya peng-kota-an itu salah...  
>> Yg salah, kenapa tidak dipersiapkan agar kota tidak menjadi buruk  
>> akibat proses itu..
>>
>> Tapi juga jgn lagi mengurusi "kenapa tidak siap"... Melainkan,  
>> harus segera bertindak "bagaimana selanjutnya"... Bagaimana  
>> menyiapkan calon2 kota, bagaimana menyiapkan kota yg tadinya kecil  
>> akan tumbuh dewasa....
>>
>> Bagaimana.... Maaf saya baru bisa bertanya...
>>
>> Salam,
>> Nita
>>
>> Sent from my BlackBerry®
>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
>> Date: Mon, 1 Feb 2010 07:42:57
>> To: <[email protected]>
>> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>>
>> dear all
>>
>> Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat  
>> dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan.
>>
>> Berdasarkan data statistik :
>>
>> Tahun 1970, jumlah penduduk  119 juta, kota : desa = 17% : 83% =    
>> 20,23 jt :   98,77 jt
>> Tahun 1980, jumlah penduduk  147 juta, kota : desa = 23% : 77% =    
>> 33,81 jt : 113,19 jt
>> Tahun 1990, jumlah penduduk  179 juta, kota : desa = 30% : 70% =    
>> 53,70 jt : 125,30 jt
>> Tahun 2000, jumlah penduduk  205 juta, kota : desa = 43% : 57% =  
>> 116,85 jt :   88,15 jt
>> Tahun 2010, jml pddk (proy)     233 juta, kota : desa = 55% : 45% =  
>> 104,85 jt : 128,15 jt
>>
>> Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke  
>> tahun, tetapi jumlah nominalnya  tidak mengalami banyak  
>> pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga  
>> proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas.
>>
>> Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan  bukan  
>> hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota,  
>> tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah  
>> perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk  
>> perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin  
>> berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat.
>>
>> Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali  ke desa.
>>
>> Thanks. CU. BTS.
>>
>>
>> --- On Mon, 2/1/10, [email protected] <[email protected]>  
>> wrote:
>>
>>
>> From: [email protected] <[email protected]>
>> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>> To: [email protected]
>> Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM
>>
>>
>> Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
>> Nanti,  20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
>> Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah  
>> udah macet.
>> Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah  
>> diklakson

Kirim email ke