Pak Eka dan sahabats,

Hasil nyata dari belajar fenomenologi yang sungguh mendalam adalah 
berkembangnya sikap dan pemahaman tentang pluralisme dalam diri kita. Kita 
menjadi lebih arif memahami realitas kehidupan yan begiru kaya dan beragam, 
maka kebenaran yang diusung adalag kebenaran yang plural, masyarakat yang 
diidealkan adalah masyarakat yang plural. Era otonomi yang dikaitkan dengan 
fenomenologi mungkin akan bagus jika sikap pluralisme ini sungguh dihayati dan 
akan terkendala jika menghadapi cara pikir yang cenderung memandang realitas 
sebagai hal yang monolistik atau generalistik. Tentu maksudnya adalah agar 
mindset para planner dan arsitek tidak melulu rasionalistik atau melulu 
fenomenologi seperti saran Pak Risfan yang mengakui semuanya akan mengalir ke 
arah yang sama. 

Fenomenologi itu sangat bermanfaat jika fokus dan lokusnya berimpit pada obyek 
studi kita, misalnya seperti di Kaenbaun atau Parangtritis. Jika fokusnya 
menyebar dan terjadi di banyak lokus (misalnya masalah heritage di kota), maka 
yang lebih berdaya ungkap dengan baik adalah Case Study Research. CSR biasanya 
akan memandang setiap kasus (multicases) dengan paradigma fenomenologi karena 
setiap kasus yang dipahaami dengan CSR-Fenomenologis ini akan sangat mendalam 
pemahamannya. Biasanya orang CSR akan memangdang fenomenologi seperti di 
Kaenbaun atau Parangtritis sebagai single case, tetapi saya tidak mau dibeli 
seperti itu heheheeee.....jadi, okelah, kayaknya bisa dikembangkan dan kayaknya 
itu yang dikembangkan oleh Prof. Djunaedi sebagai pakar yang mengangkat CSR 
sebagai strategi penelitian dalam disertasi para mahasiswa. .

Jika tidak ada halangan yang berarti, kami di Jogja akan mengadakan seminar 
tentang CSR dalam arsitektur dan perencanaan. Ini sebuah rencana yang tertunda 
dan akan dilaksanakan dalam beberapa bulan di depan. Dari seminar ini 
diharapkan bisa dikembangkan knowledge dan teori perencanaan dan arsitektur 
yang digali dengan CSR.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 2/2/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Wajah Kota Indonesia
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 2, 2010, 10:33 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Iman ysh, saya mohon izin untuk menandai postingan ini. Dari thread

yang bapak bawakan sebenarnya mendemonstrasikan pendekatan fenomenologi,

yang disebut dengan 'lingkaran hermeneutik Heidegger'. Lingkaran ini

menggambarkan suatu unsur struktur ontologis dalam pemahaman (banyak

pemahaman), yaitu 'ada' merupakan suatu peristiwa yang menyebabkan

beradanya segala yang 'ada-khusus' (dari 3 unsur: faktisitas,

eksistensialitas, dan rasa kehilangan); dan 'ada' dimungkinkan oleh

'waktu'. Melalui analisis tentang struktur eksistensi atau ontologi

fundamental maka terbuka jalan menuju makna 'ada' atau 'membuat

kebenaran "ada" berbicara', siapa tahu hal ini akan dikembangkan Pak

Djarot dkk lebih lanjut.



Hanya saya tertarik dengan istilah 'prihatin' yang bapak ungkapkan. Ini

fenomenologi sudah tingkat tinggi (tasawwuf). Apakah bapak juga membaca

'Ihya Ulumuddin'-nya Al Ghazali? Memang baru di tahap muhasabah dari

metodologi 'muhasabah-muraqoba h-mu'aqobah- mujadalah- tawakkal. Kalau

sudah di tahap mujadalah, saya ingin ikut mazhab bapak.



Terima kasih pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote:

>

> Uda Iben, BTS, Mas Giono, EkoBK dan sohib lainnya.

> Posting saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kita

terhadap kota kota di Indonesia, pengamatan terutama pd kota2 besar dan

menengah semua terdegradasi, mudah2an tdk dikota kota kecil. Degradasi

ini akan terus berlanjut, Saya katakan pd saat ini, atau entah mulai

kapan kita sdh mencapai kondisi perkotaan yg kritis (urban crisis).

> Sebenarnya sdh banyak upaya upaya yg telah dilakukan, tidak juga

membuahkan

> hasil. Banyak yg mendasar yang perlu diselesaikan tapi tdk dilakukan

(pembiaran, kata Mardiansyah) .

> Powered by Telkomsel BlackBerry®





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke