Pak Iman ysh, saya mohon izin untuk menandai postingan ini. Dari thread yang bapak bawakan sebenarnya mendemonstrasikan pendekatan fenomenologi, yang disebut dengan 'lingkaran hermeneutik Heidegger'. Lingkaran ini menggambarkan suatu unsur struktur ontologis dalam pemahaman (banyak pemahaman), yaitu 'ada' merupakan suatu peristiwa yang menyebabkan beradanya segala yang 'ada-khusus' (dari 3 unsur: faktisitas, eksistensialitas, dan rasa kehilangan); dan 'ada' dimungkinkan oleh 'waktu'. Melalui analisis tentang struktur eksistensi atau ontologi fundamental maka terbuka jalan menuju makna 'ada' atau 'membuat kebenaran "ada" berbicara', siapa tahu hal ini akan dikembangkan Pak Djarot dkk lebih lanjut.
Hanya saya tertarik dengan istilah 'prihatin' yang bapak ungkapkan. Ini fenomenologi sudah tingkat tinggi (tasawwuf). Apakah bapak juga membaca 'Ihya Ulumuddin'-nya Al Ghazali? Memang baru di tahap muhasabah dari metodologi 'muhasabah-muraqobah-mu'aqobah-mujadalah-tawakkal. Kalau sudah di tahap mujadalah, saya ingin ikut mazhab bapak. Terima kasih pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], isoedrad...@... wrote: > > Uda Iben, BTS, Mas Giono, EkoBK dan sohib lainnya. > Posting saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kita terhadap kota kota di Indonesia, pengamatan terutama pd kota2 besar dan menengah semua terdegradasi, mudah2an tdk dikota kota kecil. Degradasi ini akan terus berlanjut, Saya katakan pd saat ini, atau entah mulai kapan kita sdh mencapai kondisi perkotaan yg kritis (urban crisis). > Sebenarnya sdh banyak upaya upaya yg telah dilakukan, tidak juga membuahkan > hasil. Banyak yg mendasar yang perlu diselesaikan tapi tdk dilakukan (pembiaran, kata Mardiansyah). > Powered by Telkomsel BlackBerry®

