Bu Yati, Irendra, Pak Aby dan Rekans ysh, Iya Bu Yati, minggu lalu saya lihat di Kompas (lembar anak) ada foto kegiatan anak-anak dihadapan billboard besar bertulisan "Kota Kita", disitu anak diajak mengapresiasi lingkungan sekitarnya. Saya jadi ingat dulu Pak Otto Soemarwoto juga sampai menulis cerita anak-anak pula untuk mengenalkan ekologi. Sekarang yang melakukan Prof Johanes Suryo unuk mengenalkan IPA pada anak-anak. Rekan Irendra, saya pikir yang Anda lakukan bersama betul-betul merupakan awal yang menggembirakan. Melihat sustainable city dari sisi "waste management" dan "alternative energy". Dan sudah menggarapnya berbasis governance (dialog public), sehingga melibatkan peran masyarakat. Apa yang ditulis Pak Ibnu Taufan sebelumnya mengenai kampung Banjarsari di Jakarta Selatan juga inisiatif seorang ibu dalam mengolah sampah menjadi kompos, lalu mengembangkan tanaman hias, yang ternyata meluas ke kelurahan lain, dan berbagai bagian dari metropolitan Bodetabek. Suatu hal yang sejauh ini belum berhasil dilakukan Dinas-dinas yang berwenang. Tentu keterbukaan Pemda untuk mereplikasinya amat penting. Saya juga pernah memfasilitasi pengembangan kegiatan sejenis di kota Bukittinggi. Kota wisata itu punya masalah laten dalam pengelolaan sampah. Karena kapasitas Pemda terbatas dan kesulitan lokasi TPA, karena TPA nya di Kabupaten Agam. Seperti kasus kota Tangerang Selatan saat ini. Yang saya fasilitasi inisiatif nagari-nagari untuk mengorganisir warga mengolah sampah sendiri, mengenalkan teknologi kompos, lalu supaya lebih bergairah saya usulkan dikembangkan menjadi kegiatan pengembangan tanaman hias. Ini menyangkut teknologi sederhana, tapi kuncinya ialah mengajak warga, menggunakan social capital yang ada. Replikasi sudah terjadi, mudah-mudahan itu berjalan sustainable. Pak Aby, dengan segala hormat ada baiknya Bapak lebih mengenal berbagai sisi dari dunia PWK dan praktisinya lebih lengkap. Mungkin yang Bapak gauli baru dari sisi "national spatial planning"nya. Ada baiknya Bapak kenalan juga dengan teman2 di Cipta Karya dan Kementerian Perumahan yang sudah lama mengembangkan community based housing atau infrastructure. Ada konsep seperti Tribina "bina lingkungan - bina usaha - bina manusia" yang awalnya dikembangkan planner yang terus mengalami perkembangan dengan berbagai manifestasinya hingga saat ini. Salam, Risfan Munir
--- On Tue, 2/9/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: "referensi" <[email protected]> Date: Tuesday, February 9, 2010, 6:28 PM Iya bener itu pak….. dan gimana kalau sekalian tiap sabtu minggu mereka diajakin pd bawa pengki dan sapu lidi bersihin got dan jalan ….khan biar sekalianan ….bukan hanya hijau saja tapi sekaligus bersih gitu …….hehe …ini ceritanya planner jenuh dan ngajak tukeran lingkup pengabdian sama arsitek lansekap dan ahli lingkungan gitu ya hehe…… iya sih… bener itu, biar mereka ganti sekali2 pd tahu dan ngerasa bhw mikirin lingkungan itu ternyata ‘lbh mewah’ dan ‘lbh asyik’ ketimbang bgmn beratnya mikirin penanggulangan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja ataupun peningkatan kapasitas ekonomi nasional dan memajukan ekonomi sosial kawasan2 tertinggal …. Kalau nanem yg hijau2 gitu khan enak, konkrit dan asyik gitu ya …. Sudah kerjanya gampang, langsung keliatan hasilnya dan bisa langsung dinikmati pula pemandangannya …..yah maklumlah, kerjanya planner itu (supposed) memikirkan yg berat2 (amat sering jg abstrak) dan amat sangat melelahkan (tapi mulia) ttg ekonomi sosial ruang …bahkan tak kurang jg hankam, budaya dsb ……jadi kalau pegel ya sekali2 perlu ‘rekreasi’ batin juga dong ya? :).......…lanjutkan, lbh cepat lbh baik…....:) Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Tuesday, February 9, 2010 1:35 PM From: "Budhy TS Soegijoko" <budh...@gmail. com> Pak, bgm kl mengajak warga menanam di"pekarangan" masing2 dalam pot2 dari kaleng, dari kotak2 bunga kayu. Paling tidak menghijaukan dan membuat lingkungan sekitar kita asri. Ajak anak2, spy dari dini mereka telah 'aware' ttg tanam-menanam. On Feb 9, 2010, at 6:56 AM, Risfan M wrote: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Tuesday, February 9, 2010 1:11 AM From: "Irendra Radjawali" <ra...@hotmail. com> Pak Risfan yang baik, kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang "energi". Akhirnya, kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang politik kota agar warga bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan sampah basah dan kering, kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan "fuel-cell", kemudian kampanye juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), dan kami juga mencoba membuka jaringan pada pengambil keputusan. Salam hormat dan jabat erat, Radja To: refere...@yahoogrou ps.com From: risf...@yahoo. com Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800 Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Rekans ysh, Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi. DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit. Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan. Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan? Salam, Risfan Munir

