Pak Risfan ysh, Sesuai zamannya atau masanya dan dasar lbh berlatar belakang arsitektur ….saya kira pak Wawo tidak salah ……. Beliau lbh mengajarkan ttg city planning sbg barang baru di Indonesia pd sekitar 1960-an dimana proporsi penduduk urban kita barangkali masih kurang dari 10% atau artinya jumlah penduduk Indonesia yg tinggal diperkotaan baru kurang dari angka 10%an dan 90%an masih tinggal di perdesaan ….atau artinya arus urbanisasi hampir2 saja belum memiliki arti penting dlm kehidupan perkotaan ……Jakarta mungkin baru berpenduduk sekitar angka 2 juta jiwa….… Sekarang sudah tahun 2010 atau 50 tahun tlah berlalu….. kala itu yg namanya studio televisi dan pesawat tv dirumah penduduk juga belum ada …..namanya kamera dan foto juga masih baru mengenal yg B&W….. pesawat telpon masih banyak yg model diputar dulu lalu pelanggan minta per lisan kekantor telpon utk dihubungkan dgn nomor lain …. Interlokal minta dari Jkt ke Puncak pagi ini minta ke operator siang nanti mungkin baru tersambung krn ngantre…… Satu dekade kemudian yg namanya tv masih B&W dan baru hanya ada 1 channel yaituTVRI, mulai siaran sekitar jam 4.30 sore berakhir pkl 11.00 malam (jd remote control belum perlu) ….sistem fotografi mengenal foto color yg masih pake film dan perlu 3 hr utk cuci cetak krn prosesnya masih di Singapura ……sampai Juli 1981 kantor saya dulu perusahaan PMA jg masih belum pake secuil perangkat komputerpun ….. Tapi kini ……proporsi penduduk urban kita sudah melewati angka 50% .....semua perangkat kehidupan modern planners yg harus serba diimpor dan harus ditukar dgn ekspor kita berupa apa saja sejak dari ekspor gas, kayu gelondongan smpai ekspor pesawat dan teaga PRT ……city planning sejak lama sdh diwarnai dgn bentrokan antara satpol PP dan pedagang kakilima yg digusur …..angka pengangguran 9 juta pekerja ….jalan tol sdh hampir selalu macet ….pc komputer sdh hinggap hampir ditiap rumah penduduk perkotaan ….tak lagi kapasitas 265 mhz namun 100GB ….hampir setiap orang tlh memiliki telpon genggam ……pertanyaan ini mungkin bukan semata tertuju ke pak Risfan…. masihkah dunia pendidikan dan otoritas planning mau bergeming dgn city planning kelas pot tanaman dirumah2 penduduk dan pemilah2an sampah kering dan basah?...........salam, aby
--- On Tue, 2/9/10, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: [email protected] Date: Tuesday, February 9, 2010, 8:22 PM Pak Aby dan Rekans ysh, Hi..hi..hi.. .Ya begitulah Pak Aby, sekali lagi silahkan main-main ke Cipta Karya, Tri-Bina itu asli konsep dari situ kok, dulu untuk KIP tapi filosofi atau prinsipnya dikembangkan terus sampai sekarang, sebagian tentu dibawa ke KemPerumahan oleh teman-teman yang migrasi kesana. Atau Bapak lebih mengenal lagi lah pemikiran dan karya Pak Wawo. Yang ngajari saya menggarap yang appropriate (small is beautiful) juga beliau kok. Malah Pak Wawo setahu saya jarang bicara soal skala regional, nasional. Atau Pak ATA, Ekadj, Djarot dengan fenomenologi dan kearifan lokalnya yang tiap hari muncul disini. Jangan dilihat kecilnya, tapi replikasinya yang meluas. Dan, ada proses menfasilitasi partisipasi komunitas nya. Apalagi di era sekarang ini. Seperti posting sdr Pandhu kemarin.Yang mengisi ruang itu masyarakat (investor, swasta, swadaya warga). Swasta a.l. pengembang dari yang membangun new town, sampai rumah tinggal, ruko-ruko. Investor jalan tol. Di sisi lain ada Swadaya masyarakat (insentif KIP, fasilitasi model PNPM (PPK, P2KP)yang juga Tribina itu). Sekali lagi peran pemerintah (nasional, daerah) dalam memfasilitasi, mendorong replikasi, membuat panduan, termasuk yang teknis (tata ruang. tata lingkungan, tata bangunan, sistem drainase, pembuangan sampah dst) Sekolah PWK juga belajar siteplan dan tata-desa atau community development lho Pak. Sedih ya .. tidak sesuai bayangan Bapak. Tapi, ya itulah dunia PWK ada yang nasional, regional, kota, kampung, site. Jadi ada yang membuat kerangka ruang, ada juga dikembangkan model fasilitasi kegiatan untuk mengisinya. Dengan begitu, bukan aspek perencanaan saja, aspek pemanfaatan, dan nanti pengendaliannya juga tersentuh. Istilah sdr. Pandhu tidak nyusun kitab saja. Salam, Risfan Munir --- On Tue, 2/9/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, February 9, 2010, 9:40 PM From: "Risfan M" <risf...@yahoo. com : “…….Pak Aby, dengan segala hormat ada baiknya Bapak lebih mengenal berbagai sisi dari dunia PWK dan praktisinya lebih lengkap. Mungkin yang Bapak gauli baru dari sisi "national spatial planning"nya. Ada baiknya Bapak kenalan juga dengan teman2 di Cipta Karya dan Kementerian Perumahan yang sudah lama mengembangkan community based housing atau infrastructure. Ada konsep seperti Tribina "bina lingkungan - bina usaha - bina manusia" yang awalnya dikembangkan planner yang terus mengalami perkembangan dengan berbagai manifestasinya hingga saat ini……”. Pak Risfan ysh, Terimakasih utk nasehatnya ….dengan segala maaf dan dengan segala hormat saya juga, saya tentu saja serba sedikit telah mencoba mengenali bbrp sisi dunia PWK (saya lihat ada “W”nya juga selain ada “K”nya) dan coba kenali satu dua praktisinya …..bhw saya terlihat lbh banyak menggauli sisi “national spatial planning’ ….juga sisi national urban planning lbh daripd sisi city planning atau plgi community planning …..krn saya berpikir bhw sisi city planning atau aplg community planning msh banyak disiplin ilmiah lain yg bisa bantu dan mau dgn senang hati bantu lakukan ……spt arsitek, ahli lingkungan, sosiolog dsb …termasuk jg contoh kasus desa Banjarsari Cilandak, JktSel yg tlh anda singgung ….kita dpt lihat disana bhw seorang Ibu Harini B Wahono (70thn) yg mungkin tak pernah belajar city planningpun (jg Niniek Nuryanto dari Kp, Rawajati dsb yg jg mperoleh penghargaan lingkungan) ternyata mampu menggerakkan lingkungannya utk sadar lingkungan hijau dan sadar budaya daur ulang (waste management) ……aplg arsitek dan ahli lingkungan…… Demikian jg dgn tribina….. selain Bina Lingkungan spt contoh diatas menunjukkan dpt ditangani oleh nonplanners ….rasanya yg namanya Bina Usaha jg dgn telaknya dpt ditangani oleh KemUKM bahkan jg Ditjen Industri Kecil …Bina Manusia jg kiranya bisa oleh yayasan rohaniah misalnya….. Bhw sy berpendpt masyarakat planning perlulbh menambah bobot perhatiannya ke urban planning serta lbh memperhatikan kepentingan skala nasional berkait ekonomi dan sosial, demografik, hankam dsb … itu krn pd bidang2 itu rasanya orang2 spt Ibu Harini dan ibu Niniek diatas kiranya tak akan lagi mampu membantu masyarakat planners walau mereka2 tentu ingin ……banyak sekali agenda national urban planning yg strategis dan masih tercecer blm tertangani/ terjamah …..dan blm tentu itu dpt menjadi fokus pemikiran disiplin2 ilmiah lain selain drpd planning ……salam, aby --- On Tue, 2/9/10, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, February 9, 2010, 5:23 PM Bu Yati, Irendra, Pak Aby dan Rekans ysh, Iya Bu Yati, minggu lalu saya lihat di Kompas (lembar anak) ada foto kegiatan anak-anak dihadapan billboard besar bertulisan "Kota Kita", disitu anak diajak mengapresiasi lingkungan sekitarnya. Saya jadi ingat dulu Pak Otto Soemarwoto juga sampai menulis cerita anak-anak pula untuk mengenalkan ekologi. Sekarang yang melakukan Prof Johanes Suryo unuk mengenalkan IPA pada anak-anak. Rekan Irendra, saya pikir yang Anda lakukan bersama betul-betul merupakan awal yang menggembirakan. Melihat sustainable city dari sisi "waste management" dan "alternative energy". Dan sudah menggarapnya berbasis governance (dialog public), sehingga melibatkan peran masyarakat. Apa yang ditulis Pak Ibnu Taufan sebelumnya mengenai kampung Banjarsari di Jakarta Selatan juga inisiatif seorang ibu dalam mengolah sampah menjadi kompos, lalu mengembangkan tanaman hias, yang ternyata meluas ke kelurahan lain, dan berbagai bagian dari metropolitan Bodetabek. Suatu hal yang sejauh ini belum berhasil dilakukan Dinas-dinas yang berwenang. Tentu keterbukaan Pemda untuk mereplikasinya amat penting. Saya juga pernah memfasilitasi pengembangan kegiatan sejenis di kota Bukittinggi. Kota wisata itu punya masalah laten dalam pengelolaan sampah. Karena kapasitas Pemda terbatas dan kesulitan lokasi TPA, karena TPA nya di Kabupaten Agam. Seperti kasus kota Tangerang Selatan saat ini. Yang saya fasilitasi inisiatif nagari-nagari untuk mengorganisir warga mengolah sampah sendiri, mengenalkan teknologi kompos, lalu supaya lebih bergairah saya usulkan dikembangkan menjadi kegiatan pengembangan tanaman hias. Ini menyangkut teknologi sederhana, tapi kuncinya ialah mengajak warga, menggunakan social capital yang ada. Replikasi sudah terjadi, mudah-mudahan itu berjalan sustainable. Pak Aby, dengan segala hormat ada baiknya Bapak lebih mengenal berbagai sisi dari dunia PWK dan praktisinya lebih lengkap. Mungkin yang Bapak gauli baru dari sisi "national spatial planning"nya. Ada baiknya Bapak kenalan juga dengan teman2 di Cipta Karya dan Kementerian Perumahan yang sudah lama mengembangkan community based housing atau infrastructure. Ada konsep seperti Tribina "bina lingkungan - bina usaha - bina manusia" yang awalnya dikembangkan planner yang terus mengalami perkembangan dengan berbagai manifestasinya hingga saat ini. Salam, Risfan Munir --- On Tue, 2/9/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Tuesday, February 9, 2010, 6:28 PM Iya bener itu pak….. dan gimana kalau sekalian tiap sabtu minggu mereka diajakin pd bawa pengki dan sapu lidi bersihin got dan jalan ….khan biar sekalianan ….bukan hanya hijau saja tapi sekaligus bersih gitu …….hehe …ini ceritanya planner jenuh dan ngajak tukeran lingkup pengabdian sama arsitek lansekap dan ahli lingkungan gitu ya hehe…… iya sih… bener itu, biar mereka ganti sekali2 pd tahu dan ngerasa bhw mikirin lingkungan itu ternyata ‘lbh mewah’ dan ‘lbh asyik’ ketimbang bgmn beratnya mikirin penanggulangan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja ataupun peningkatan kapasitas ekonomi nasional dan memajukan ekonomi sosial kawasan2 tertinggal …. Kalau nanem yg hijau2 gitu khan enak, konkrit dan asyik gitu ya …. Sudah kerjanya gampang, langsung keliatan hasilnya dan bisa langsung dinikmati pula pemandangannya …..yah maklumlah, kerjanya planner itu (supposed) memikirkan yg berat2 (amat sering jg abstrak) dan amat sangat melelahkan (tapi mulia) ttg ekonomi sosial ruang …bahkan tak kurang jg hankam, budaya dsb ……jadi kalau pegel ya sekali2 perlu ‘rekreasi’ batin juga dong ya? :).......…lanjutkan, lbh cepat lbh baik…....:) Re: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Tuesday, February 9, 2010 1:35 PM From: "Budhy TS Soegijoko" <budh...@gmail. com> Pak, bgm kl mengajak warga menanam di"pekarangan" masing2 dalam pot2 dari kaleng, dari kotak2 bunga kayu. Paling tidak menghijaukan dan membuat lingkungan sekitar kita asri. Ajak anak2, spy dari dini mereka telah 'aware' ttg tanam-menanam. On Feb 9, 2010, at 6:56 AM, Risfan M wrote: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Tuesday, February 9, 2010 1:11 AM From: "Irendra Radjawali" <ra...@hotmail. com> Pak Risfan yang baik, kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang "energi". Akhirnya, kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang politik kota agar warga bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan sampah basah dan kering, kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan "fuel-cell", kemudian kampanye juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), dan kami juga mencoba membuka jaringan pada pengambil keputusan. Salam hormat dan jabat erat, Radja To: refere...@yahoogrou ps.com From: risf...@yahoo. com Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800 Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Rekans ysh, Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi. DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit. Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan. Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan? Salam, Risfan Munir

