Pak Eka, kalau tahun 1990-an saya pernah ke Biak. Secara kasat mata, tidak ada 
perbedaan mencolok Biak dengan daerah lain. Saya koq nggak percaya pada sekitar 
tahun itu uang menjadi tidak penting dan tidak berpengaruh, dan belum menjadi 
'instrumen keintiman dalam berbangsa'. Justru ketika  di sana saya banyak 
melakukan transaksi dengan masyarakat Biak dan kenyataannya lebih "mata duitan" 
daripada di Jawa. Bagaimana mungkin dikatakan uang itu tidak penting?

--- Pada Ming, 11/4/10, - ekadj <[email protected]> menulis:


Dari: - ekadj <[email protected]>
Judul: [referensi] uang
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Minggu, 11 April, 2010, 2:55 PM


  




Referensiers, tidak saya tujukan khusus, hanya sekedar omongan saja, dan 
abaikan.
Saya baru pulang dari Nabire-Biak. Selama perjalanan ada dua artikel Danilyn 
Rutherford yang saya baca, terlepas dari buku sebelumnya: "Intimacy and 
Alienation: Money and the Foreign in Biak" (2001) dan "the white edge of the 
margin: textuality and authority in Biak, Irian Jaya, Indonesia" (2000). 
Sebenarnya isinya seputar penelitian yang telah dituliskan dalam buku terdahulu 
(1992), dengan beberapa penekanan topik.
 
Saya sedikit tertarik dengan artikel pertama, mengutip Edward Soja yang selalu 
dirujuk EkoBK itu: "geography, is a historically constituted, spatial and 
social distribution of wealth, power, and point of view". Kemudian Danilyn 
menyimpulkan di akhir artikel: "Capitalism generates concrete and imaginary 
geographies; yet, neither these spaces nor these visions are hermetically 
sealed. ..... If Biak myth turns awareness of the alienating power of currency 
into a wishful dream of utopia, Simmel's model turns it into a nightmare."
 
Sedikit yang saya tangkap: mata uang telah menjadi 'instrumen pemersatu 
bangsa', secara geografis, dan juga 'instrumen pembangunan'. Namun Danilyn yang 
muridnya Turner dan Parsons itu cukup pandai meramu, dalam kasus budaya 
alienasi (amber) di Biak sekurangnya sampai era 1990an, uang menjadi tidak 
penting dan tidak berpengaruh, dan belum menjadi 'instrumen keintiman dalam 
berbangsa'. Sehingga perlu kearifan dari 'kekuasaan' untuk merumuskan format 
persatuan dan pembangunan secara lebih bijak. Salam.
 
-ekadj
 
 
2010/4/11 Eko B K <ekobu...@yahoo. com>


  







Pak BTS ysh.,

Kira2 apakah manusia modern bisa terlepas dr sistem perbankan/keuangan 
konvensional? 

Bukan hanya penggunaan jalan tol, mulai dr sisir, jam tangan, pakaian, sepatu, 
sabun, buku, dll termasuk komputer yg kita pakai saat menulis email di milist 
ini adalah produk2 yg perusahaan2nya pasti memanfaatkan perbankan/keuangan 
konvensional. .. Kalaupun se-Indonesia hanya menggunakan sistem 
perbankan/keuangan syariah, tetap saja kita tdk memproduksi sendiri semua 
barang2 kebutuhan kita... 

mungkin memang perlu kita tanyakan kembali ke hati nurani kita yg terdalam...: )

salam..

--- En date de : Dim 11.4.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> a 
écrit :


De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Objet: Re: Bls: [referensi] Re: MASIH JUGA TDK MENGERTI MAKNA FATWA 
-MUHAMADIYAH : SETELAH ROKOK HARAM, KINI BUNGA BANK HARAM
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Dimanche 11 avril 2010, 10h14


  








Bung Kuswanto, terima kasih atas fatwanya. Satu hal  saya tidak sependapat 
dengan Anda bahwa perbankan konvensional dengan sistem bunga dipengaruhi oleh 
kekuasaan sebagaimana dalam alinea terakhir Anda tulis : "Kalo di tanya hampir 
semua negara di dunia menggunakan bank dengan system bunga bukan berarti 
sistemnya baik dan mendatangkan manfaat tetapi lebih kepada pengaruh kekuasaan 
terhadap penerapan system".
 
Sejak dulu, sistem perbankan di dunia ini baik dalam teori dan prakteknya 
bersifat independen dan tidak terpengaruh oleh kekuasaan (baik kekuasaan 
Pemerintah maupun pemilik modal). Bila ada unsur kekuasaan ikut mempengaruhi 
sistem perbankan, maka justru akan menghancurkan sistem perbankan itu sendiri 
(kita punya pengalaman krisis tahun 1997/1998 yang lalu). Jadi tidak benar 
kalau penguasa itu bisa mengambil keuntungan - ekslusif - dari sistem perbankan 
- konvensional. Di Indonesia sendiri sejak berdirinya Bank Indonesia tahun 1953 
memang kurang independen sehingga sering menganggu iklim moneter waktu itu. 
Tapi sejak tahun 1999, Bank Indonesia sudah independen, sama dengan bank-bank 
sentral lainnya di dunia.
 
Juga soal negara itu maju itu menurut saya bukan karena sistem perbankan dengan 
sistem bunganya. Tak da kaitan. Toh yang menerapkan non-bunga (non-riba) juga 
belum menunjukkan sebagai negara berprestasi (maju).
 
Kadang tergelitik juga pemikiran... yang mengharamkan bunga bank apakah juga 
mengharamkan hasilnya, .... misalnya apakah juga mengharamkan pemakaian jalan 
tol karena jelas pembangunan jalan tol itu menggunakan sindikasi bank yang 
sarat menggunakan sistem bunga/kupon konvensional yang riba. ..... Eh... 
tiba-tiba diingatkan oleh Bung Ukon:".. tanyalah pada hati nuranimu..."
 
Thanks. CU. BTS.

 







__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

Kirim email ke