Rekans ysh,

Kata Friedman dulu, ada pilihan: Territory vs Function.

Pilihan Territory Closure, isolasi dari pengaruh luar (transaktional, 
fungsional), menarik dan akan melestarikan budaya setempat, tumbuh sesuai 
dengan ritme budaya lokal.
Pilihan sebaliknya, berupaya mempercepat keseimbangan dengan daerah lain, 
dengan risiko karena terlalu cepat kurang bisa diikuti dengan komunitas 
setempat.

Dilema klasik ya. Tapi kalau diikuti perkembangan sesuai phase setempat, maka 
Pemerintah juga punya risiko dianggap "berlambat-lambat", tidak serius 
menciptakan pemerataan antar wilayah. 
Jangan lupa, bahwa masyarakat wilayah setempat juga tidak homogen. Ada 
masyarakat yang masih hidup dalam tradisi asli, tapi ada juga para elite, Pemda 
yang visinya ingin cepat seperti daerah lain.
Adakah pilihan tengah?

Sekali lagi mesti dipertimbangkan: pilihan stakeholders, dan desakan dari 
Pemerintah maupun investor. Faktor-faktor penentu ini riil adanya.

"Orang desa ingin seperti kota, orang kota rindu desa"

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], - ekadj <4ek...@...> wrote:
>
> Pak BTS dan Referensiers ysh. Beberapa tahun terakhir saya memang sering
> singgah ke kota ini, namun ada perbedaan mencolok pada kunjungan kemarin dan
> 2006. Dulu di Biak terdapat industri perikanan terbesar di Indonesia,
> seperti diceritakan Pak
> Rofiq<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4738>.
> Pada tahun 2006 itu kawasan dan bangunan itu masih ada walau sudah kosong,
> lengkap dengan pelabuhan khususnya. Kemarin saya sangat terkejut, karena
> kawasan itu sudah rata dengan tanah, hancur dalam serpihan-serpihan kecil.
> Kemudian juga Hotel Marau (bintang 5?) seperti disampaikan
> Pak<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4702>
> Nuzul <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/6973> dan
> Kandipi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5942>,
> pada tahun 2006 dari udara saya lihat bangunan hotel ini masih ada, namun
> kemarin tinggal serpihan demi serpihan. Mudah-mudahan Mas Reza dan Febry mau
> membagi foto-foto terakhir ke milis ini. Saya hanya prihatin, demikian
> drastisnya nasib investasi jutaan dollar, dan dihancurkan begitu saja dalam
> serpihan-serpihan, lebih jelasnya: serpihan-serpihan kecil.
> 
> Terkait dengan penelitian Danilyn yang bapak tanyakan, sebenarnya mengambil
> set di penghujung Orde Baru. Danilyn mencatat sejak awal Orde Baru, Biak
> sangat dianakemaskan oleh Pemerintah, menjadi hub bagi Papua, serta memiliki
> hubungan langsung dengan Amerika via Garuda. Namun segala fasilitasi dan
> akomodasi itu tidak menjadikan Biak menjadi kian dekat dengan Jakarta.
> Gambaran ini mewakili kondisi Indonesia Timur pada umumnya, kalau boleh saya
> simplifikasi.
> 
> Perbandingan yang ekstrim adalah kasus Timor Timur. Pada tahun 1976 ketika
> negeri ini dianeksasi, panjang jalan aspalnya hanya 17 km, namun ketika
> lepas 1999 jalan aspal kualitas prima sudah lebih 700 km. Milyaran dollar
> sudah kita keluarkan untuk membangun Timtim, dan sebagian besar malah hutang
> luar negeri. Permasalahannya: kenapa? Apakah kita tidak pernah belajar dari
> kesalahan pendekatan kita?
> 
> Untuk kasus Biak, Danilyn menginisiasi budaya amber (alienasi), yang sangat
> cerdik dalam mensiasati keberlangsungan budaya. Pada waktu Danilyn
> fieldwork, terjadi peristiwa pembakaran pasar, hanya karena masalah sepele.
> Termasuk beberapa kasus lain, seperti terakhir tahun lalu ada pendudukan
> bandara Kaisiepo. Dalam perspektif Danilyn, 'uang' tidak bisa menjadi
> instrumen keintiman, sebagaimana didogmakan selama ini oleh masyarakat
> kapital.
> 
> Sebagai contoh adalah penggunaan pasar di Biak, bagi masyarakat kota
> merupakan tempat melakukan transaksi ekonomi serta hubungan-hubungan
> sosio-ekonomi. Namun saya kaget pada waktu malam 2006 itu jalan-jalan
> memutari pasar, ternyata 'aktivitas masyarakat' baru ramai mulai malam hari
> di pasar, justru ketika bangunan-bangunan toko menutup pintunya. Pada waktu
> tersebut 'penduduk asli' melakukan hubungan-hubungan sosial di pasar dalam
> suasana yang dapat mereka pahami sendiri. Bila kita belanja di emperan,
> jangan boleh menawar, karena kalau sudah menawar berarti kita telah
> menempatkan posisi ekonomi pembeli-penjual yang tidak mereka sukai; dan
> setelahnya kita akan dipandang sebagai 'amber' (orang asing). Perdagangan
> adalah 'fenomena sosial' di Papua.
> 
> Amber tidak hanya untuk penduduk pendatang yang tidak paham dengan budaya
> setempat, tetapi juga digolongkan kepada aparat Pemda yang penduduk asli
> sendiri, militer, karyawan, program pemerintah, sekolah, hingga ... uang.
> Demikian Danilyn.
> 
> Saya kira banyak rekan-rekan di milis ini yang bisa menjelaskan lebih baik.
> Ada Pak Reintje, Kandipi, Johand, Ninik, serta ... Sutoto. Sementara
> demikian dulu. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> 2010/4/12 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@...>
> 
> >
> >
> >   Pak Eka, kalau tahun 1990-an saya pernah ke Biak. Secara kasat mata,
> > tidak ada perbedaan mencolok Biak dengan daerah lain. Saya koq nggak percaya
> > pada sekitar tahun itu uang menjadi tidak penting dan tidak berpengaruh, dan
> > belum menjadi 'instrumen keintiman dalam berbangsa'. Justru ketika  di sana
> > saya banyak melakukan transaksi dengan masyarakat Biak dan kenyataannya
> > lebih "mata duitan" daripada di Jawa. Bagaimana mungkin dikatakan uang itu
> > tidak penting?
> >
> > --- Pada *Ming, 11/4/10, - ekadj <4ek...@...>* menulis:
> >
> >
> > Dari: - ekadj <4ek...@...>
> > Judul: [referensi] uang
> > Kepada: [email protected], [email protected]
> > Tanggal: Minggu, 11 April, 2010, 2:55 PM
> >
> >
> >  Referensiers, tidak saya tujukan khusus, hanya sekedar omongan saja, dan
> > abaikan.
> > Saya baru pulang dari Nabire-Biak. Selama perjalanan ada dua artikel Danilyn
> > Rutherford <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10425> yang
> > saya baca, terlepas dari buku sebelumnya: "Intimacy and Alienation: Money
> > and the Foreign in Biak" (2001) dan "the white edge of the margin:
> > textuality and authority in Biak, Irian Jaya, Indonesia" (2000). Sebenarnya
> > isinya seputar penelitian yang telah dituliskan dalam buku terdahulu (1992),
> > dengan beberapa penekanan topik.
> >
> > Saya sedikit tertarik dengan artikel pertama, mengutip Edward Soja yang
> > selalu dirujuk EkoBK itu: "geography, is a historically constituted, spatial
> > and social distribution of wealth, power, and point of view". Kemudian
> > Danilyn menyimpulkan di akhir artikel: "Capitalism generates concrete and
> > imaginary geographies; yet, neither these spaces nor these visions are
> > hermetically sealed. ..... If Biak myth turns awareness of the alienating
> > power of currency into a wishful dream of utopia, 
> > Simmel<http://tech.groups.yahoo.com/group/futurologi/message/420>'s
> > model turns it into a nightmare."
> >
> > Sedikit yang saya tangkap: mata uang telah menjadi 'instrumen pemersatu
> > bangsa', secara geografis, dan juga 'instrumen pembangunan'. Namun Danilyn
> > yang muridnya Turner dan Parsons itu cukup pandai meramu, dalam kasus budaya
> > alienasi (amber) di Biak sekurangnya sampai era 1990an, uang menjadi tidak
> > penting dan tidak berpengaruh, dan belum menjadi 'instrumen keintiman dalam
> > berbangsa'. Sehingga perlu kearifan dari 'kekuasaan' untuk merumuskan format
> > persatuan dan pembangunan secara lebih bijak. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >  2010/4/11 Eko B K <ekobu...@yahoo. 
> > com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=ekobu...@...>
> > >
> >
> >>
> >>     Pak BTS ysh.,
> >>
> >> Kira2 apakah manusia modern bisa terlepas dr sistem perbankan/keuangan
> >> konvensional?
> >>
> >> Bukan hanya penggunaan jalan tol, mulai dr sisir, jam tangan, pakaian,
> >> sepatu, sabun, buku, dll termasuk komputer yg kita pakai saat menulis email
> >> di milist ini adalah produk2 yg perusahaan2nya pasti memanfaatkan
> >> perbankan/keuangan konvensional. .. Kalaupun se-Indonesia hanya menggunakan
> >> sistem perbankan/keuangan syariah, tetap saja kita tdk memproduksi sendiri
> >> semua barang2 kebutuhan kita...
> >>
> >> mungkin memang perlu kita tanyakan kembali ke hati nurani kita yg
> >> terdalam...: )
> >>
> >> salam..
> >>
> >> --- En date de : *Dim 11.4.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo.
> >> com <http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=btsamia...@...>>*a écrit 
> >> :
> >>
> >>
> >> De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. 
> >> com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=btsamia...@...>
> >> >
> >> Objet: Re: Bls: [referensi] Re: MASIH JUGA TDK MENGERTI MAKNA FATWA
> >> -MUHAMADIYAH : SETELAH ROKOK HARAM, KINI BUNGA BANK HARAM
> >> À: refere...@yahoogrou 
> >> ps.com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >>
> >> Date: Dimanche 11 avril 2010, 10h14
> >>
> >>
> >>     Bung Kuswanto, terima kasih atas fatwanya. Satu hal  saya tidak
> >> sependapat dengan Anda bahwa perbankan konvensional dengan sistem bunga
> >> dipengaruhi oleh kekuasaan sebagaimana dalam alinea terakhir Anda tulis :
> >> "Kalo di tanya hampir semua negara di dunia menggunakan bank dengan system
> >> bunga bukan berarti sistemnya baik dan mendatangkan manfaat tetapi lebih
> >> kepada pengaruh kekuasaan terhadap penerapan system".
> >>
> >> Sejak dulu, sistem perbankan di dunia ini baik dalam teori dan prakteknya
> >> bersifat independen dan tidak terpengaruh oleh kekuasaan (baik kekuasaan
> >> Pemerintah maupun pemilik modal). Bila ada unsur kekuasaan ikut 
> >> mempengaruhi
> >> sistem perbankan, maka justru akan menghancurkan sistem perbankan itu
> >> sendiri (kita punya pengalaman krisis tahun 1997/1998 yang lalu). Jadi 
> >> tidak
> >> benar kalau penguasa itu bisa mengambil keuntungan - ekslusif - dari sistem
> >> perbankan - konvensional. Di Indonesia sendiri sejak berdirinya Bank
> >> Indonesia tahun 1953 memang kurang independen sehingga sering menganggu
> >> iklim moneter waktu itu. Tapi sejak tahun 1999, Bank Indonesia sudah
> >> independen, sama dengan bank-bank sentral lainnya di dunia.
> >>
> >> Juga soal negara itu maju itu menurut saya bukan karena sistem perbankan
> >> dengan sistem bunganya. Tak da kaitan. Toh yang menerapkan non-bunga
> >> (non-riba) juga belum menunjukkan sebagai negara berprestasi (maju).
> >>
> >> Kadang tergelitik juga pemikiran... yang mengharamkan bunga bank apakah
> >> juga mengharamkan hasilnya, .... misalnya apakah juga mengharamkan 
> >> pemakaian
> >> jalan tol karena jelas pembangunan jalan tol itu menggunakan sindikasi bank
> >> yang sarat menggunakan sistem bunga/kupon konvensional yang riba. .....
> >> Eh... tiba-tiba diingatkan oleh Bung Ukon:".. tanyalah pada hati
> >> nuranimu..."
> >>
> >> Thanks. CU. BTS.
> >>
> >>
> >>
> >
>


Kirim email ke