Pak Indra ysh, sungguh uraian bapak sangat mendalam dan mendasar, dan menjadi pembelajaran yang berharga dalam diskusi kita. Mohon pak bila berkesempatan untuk dikembangkan lebih lanjut. Saya ingin menanggapi tanpa maksud mereduksi pemikiran bapak dalam beberapa hal: Pertama masalah evolusi masyarakat ekonomi yang bapak sebutkan, ada tulisan menarik dari Claude Meillassoux: 'From reproduction to production' (1974), didahului dengan paragraf: "Liberal economics was an historical and political attempt by the rising bourgeoisie to demonstrate that economics is ruled by 'natural' and 'universal' laws to which even the princes had to comply. The demonstration was supported by a fairly accurate criticism of the feudal economy, which prevented the free circulation of goods, money and labour to the detriment of general prosperity, and by an abstract and more disputable description of what would happen in a state of free circulation and competition". Sampai disini kita menangkap bila transformasi 'pre-capitalist societies' selalu menghadapi masalah, walaupun berjalan dan didukung 'hukum-hukum alam dan universal'. Permasalahannya, menurut Terray, adalah dalam 'domination of a mode of production within a social formation'. Transformasi, selalu membawa efek kompetisi dan class consciousness. Kedua, menyangkut 'value' maka kita akan berbicara dalam tatanan suprastruktur, seperti etika, moral, norma, dsb; dan kalau berbicara suprastruktur maka kita akan berbicara tentang ideologi; seperti diskusi kita tentang ekonomi bejo dulu. Permasalahan yang kita rasakan adalah 'contested places vs values'; dan kesudahannya adalah 'scales of legal validity'. Ketiga, penjelasan tentang relasi uang dan kekuasaan yang bapak sampaikan sungguh sangat indah dan runtut, dan terima kasih untuk itu. Salam.
-ekadj 2010/4/14 Indra Budiman Syamwil <[email protected]> > > > Pak Eka dan rekan referesier Ysh, > > Ilmu ekonomi yang asli tidak membicarakan uang, bisa dibaca dari tulisan > Sir Arthur Lewis, Joan Robinson (Cambridge School of Economics), Nursk > dllsb. Bahkan Adam Smith dan Marx berbicara soal ''value'' bukan uang. > Bisa juga dibaca buku Charles Lindblom berjudul 'Market'', yang berbicara > pada dasarnya market adalah forum social exchange baik informasi > (knowledge) dan barang. Transaksi dengan uang datang belakangan. > Misalnya disertasi Pak Emil Salim tentang Transmigrasi, jadi menyatu > antara sosial dan ekonomi. > Perkembangan sistem ekonomi feudal, merchantilist sampai sekarang yang > dominan adalah kaum monetarist. Kaum monetaris adalah gejala baru sejak > diperkenalkannya uang sebagai representasi emas sebagai alat tukar utama > (New Economic Order). Mungkin bisa disimak buku-buku Arturo Escobar, > memperlihatkan politik uang ini merajai perekonomian dunia sesudah Perang > Dunia II. Disini juga letak perbedaan pandangan Hernando de Soto dan > pendekatan Muhammad Yunus dengan grameen bank nya. > Dulu orang Yahudi dan orang kaya dunia menyimpan kekayaannya dalam bentuk > lukisan-lukisan, benda seni bukan uang atau tanah. Sekarang orang > menyimpan kekayaan lewat uang, surat-surat tanah, obligasi. > Kalaulah uang telah mencabut network sosial dan menggantikannya dengan > kekuasaan perbankan dan pemusatan kekuasaan itulah realita yang terjadi di > dunia perekonomian kontemporer. > Pada tataran di perdesaan saya melihat sendiri bagaimana perubahan > perekonomian social exchange ini berubah menjadi ''pecuniar' economy yang > mencerabutkan fungsi pasar sebagai social exchange (ajang interaksi > sosial). Dan uang menjadi modus kekuasaan yang baru. > Konflik nyata saya lihat ketika suatu kabupaten baru membangun ibukotanya. > Tetua adat Dayak memberikan tanah ulayat mereka untuk ibukota (tidak > dijual dengan uang). Transmigran menjual tanah sertifikat mereka kepada > pemerintah. Tetua adat heran karena mereka tidak pernah memperdagangkan > tanah (dengan uang) bagi mereka penyerahan tanah adalah suatu exchange > sosial sebagai rasa persaudaraan mereka dengan para transmigran, bukan > menyerahkan secara monetari value. Mereka anggap penyerahan tanah ulayat > kepada kaum transmigran adalah merupakan bentuk penggunaan bersama atas > dasar rasa persaudaraan (collective use). Disini terjadi pertentangan > nilai monetarist dan kultural terhadap suatu resource. Monetaris > menganggap tanah sebagai aset yang bisa di ''uang'' kan, sedangkan secara > tradisional resources adalah ''common pool'' kepemilikan publik. Bahkan > ''labor'' yang dimonetise oleh kaum kapitalis di masyarakat Dayak > merupakan ''common pool'' sehingga gotong royong itu suatu exchange yang > tidak bisa dinilai dengan uang. > > Mungkin disini letak penjelasan bagaimana uang telah menjadi alat > kekuasaan dengan sistim kelembagaan ekonomi saat ini. > > Salam hangat, > Indra B Syamwil > > > > Pak Risfan dan Pak Reitje ysh. Terima kasih atas tanggapan dan > > komentarnya. Dari perspektif saya sendiri adalah memandang persoalan > > dalam kerangka masyarakat kota, sebagai masyarakat madani yang > > berpotensi mandiri; namun sejujurnya saya lebih senang masuk dalam > > ukuran household, karena perubahan lokal dan global akan lebih terasa. > > Standar kebijakan dan treatment pembangunan sebagaimana pandangan Pak > > Risfan adalah perlu dalam konteks tertentu, termasuk leverage. Adapun > > dari Pak Reintje mengenai kondisi internal, hal ini memang disadari > > sendiri oleh masyarakat, bahwa untuk maju mereka harus menjadi amber, > > karena menjadi orang asing akan mudah bagi mereka untuk menerima dan > > memanfaatkan hal-hal yang asing; sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan > > ambivalensi (abstrak) dalam sistem budaya setempat, dan telah banyak > > yang bergerak ke arah itu. > > > > Saya menemukan terjemahan tidak sempurna dari satu sumber, pada bagian > > akhir (konklusi) dari artikel pertama Danilyn, saya sampaikan di bawah; > > namun sebaiknya merujuk pada teks asli yang banyak tersebar di internet. > > Sementara demikian dulu. Salam. > > > > -ekadj >

