Pak Risfan, saya kira panjenengan benar. Kadang kita kurang menyadari kekuatan 
dan kelemahan persepsi. Uraian panjenengan saya kira menyadarkan kita bahwa 
setiap orang itu unik dan memiliki persepsi yang sangat beragam. Rahasianya, 
persepsilah yang menuntun setiap tindakan kita, untuk berbuat baik atau berbuat 
jahat (tergantung sudut pandang juga ya). 

"Pendidikan persepsi" yang cerdas untuk bangsa ini rasanya penting, sebab 
setiap hari bahkan setiap detik kita mendapat "pendidikan persepsi" dari 
berbagai sumber. Kita setiap hari membangun peta-peta persepsi milik sendiri 
dan itu menuntun langkah kita sehari-hari. Kenneth Boulding (1956) dengan teori 
kunonya mengatakan bahwa image (persepsi, maksudnya) membangun "plan" dalam 
kognisi kita dan akhirnya mengarahkan action atau tindakan kita.

Charon (1989) lebih suka menggunakan istilah "perspective" (paradigma) sebab, 
kayanya, perspektif bukanlah persepsi namun menuntun perilaku kita. Setiap 
orang memiliki perspektif masing-masing, maka perspektif setiap orang 
berbeda-beda, sehingga dihasilkan realitas yang beragam. Artinya, realitas pada 
dirinya sendiri memang "obyektif" tetapi dalam perspektif setiap orang ada 
"realitas subyektif" yang berbeda-beda.

Lanjutnya, perspektif tidak dapat memahami seluruh aspek realitas, dan 
perspektif kita berubah dari situasi ke situasi, maka dengan perspektif baru 
akan dihasilkan realitas (subyektif) yang baru juga. Rahasianya, perspektif 
yang bagus memberikan kepada kita suatu insight, yang mendiskripsikan realitas 
secara jernih, membantu kita menemukan kebenaran. Saya kira uraian panjenengan 
dalam buku Samurai sudah cukup memadai. Persoalannya, apakah kita punya 
kesadaran untuk mendidik diri kita untuk peka terhadap perspektif (dan 
persepsi) kita. Apakah masyarakat kita sadar tentang rahasia perspektif atau 
persepsi ini ? Konflik awalnya memang dimulai dari titik perbedaan paradigma, 
seperti halnya bom atom Hiroshima juga diledakkan lebih dahulu di atas kertas 
!!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 4/17/10, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal
To: [email protected]
Date: Saturday, April 17, 2010, 5:37 AM







 



  


    
      
      
      Pak BTS, Hotasi, Rekans ysh,



Mungkin begitulah faktor budaya. Kalau dicari rasionalisasinya sulit. Tapi 
nyatanya tiap tahun ada ribuan orang datang, menjadi tak penting apakah itu 
terkait agama atau budaya. Soal simbol budaya kan soal PERSEPSI.



Anggap saja itu proyek biasa, seperti di daerah manapun, yang menyangkut situs 
budaya, komunitas adat. Kalau cukup besar, ada gusuran, prosedurnya perlu LARAP 
dan ANDAS (analisis dampak sosial). Setidaknya untuk antisipasi risiko.



Saya terkesan dengan ucapan KH Hasyim Muzadi (mantan Ka.PBNU) di Republika 
Jumat kemarin. Kurang lebih beliau berpesan Pemerintah perlu hati-hati. Jangan 
cuma menerapkan hukum secara formal/kaku, tapi juga pendekatan kultural, 
hormati simbol kultural. Apalagi aturan formal juga sudah banyak ditumpangi 
kepentingan modal. 



Dari pengalaman saya berurusan dengan stakeholders, yang melelahkan memang soal 
mempertemukan PERSEPSI dan KEPENTINGAN. Ini bukan cuma soal pandangan 
ekonomi/uang vs sos, bud, dst. Tapi sudah soal siapa-siapa dengan kepentingan 
praktis masing-masing. 



Dan, dalam eksekusi land acquisition n resttlement, terutama untuk kasus/lokasi 
sensitif atau rawan sospol mesti ekstra hati-hati. Pendekatan sosbud perlu 
dilakukan jauh hari. (Stakeholders mapping nya mestinya kan sudah ada). Karena 
sekali terjadi konflik terbuka, yang berkonflik bukan lagi si A vs si B. Tapi 
kekuatan C vs kekuatan D. Urusan jadi rumit. PERSEPSI bisa dimanipulasi.



Banyak kasus kecil, misal ribut soal parkir sekolah atau rumah ibadah umat/gol 
Anu, kebetulan di lingkungan umat/gol lain. Merasa terganggu parkir depan 
rumah, warga protes, berlarut sampai ribut, jadi berita. Maka muncullah 
berbagai macam organisasi, media mem blow-up jadi konflik antar agama, 
golongan, suku, mayoritas vs minoritas, asli vs pendatang, HAM, dst. Pembaca 
berita, penonton TV sudah tidak tahu ini konflik apa. Karena PERSEPSI yang 
di-frame pemberita lain lagi.



Coba pagi-pagi panggil planolog. Diatur site-plan nya, rute sirkulasinya. Pasti 
gak sampai ribut. Gitu saja kok repot!



Salam,

Risfan Munir



Pada Jum, 16 Apr 2010 11:06 CDT hotasi simamora menulis:



>Ini saya kutip dari detik.com, Kamis, 15/04/2010 11:14 WIB

>Kisah Nama Priok dan Aki Tirem

>Indra Subagja - detikNews

>

>Jakarta - Banyak orang yang mengidentikkan nama Tanjung Priok dengan Mbah 
>Priok. 

>Banyak yang mengatakan nama Priok itu dari kata periuk peninggalan sang 

>habib yang meninggal dunia. Tapi ada cerita lain soal asal muasal kata 

>Priok itu.

>

>"Kata Priok berasal dari peninggalan Aki Tirem, 

>seorang penghulu atau kepala desa dan pembuat periuk di kawasan 

>Warakas," kata sejarawan Betawi, JJ Rizal, saat berbincang dengan 

>detikcom, Kamis (15/4/2010).

>

>Dia menjelaskan, Aki Tirem memiliki 

>jejak dan sejarah panjang di kawasan Jakarta Utara. Sebagai contoh, di 

>kawasan Warakas masih ada sungai kecil yang sekarang disebut Kali Tirem.

>

>"Kali Tirem itu peninggalan dia. Diambil dari namanya," ujar Rizal.

>

>Aki Tirem tinggal di sana sejak sekitar abad ke 2 Masehi. Periuk buatannya 

>sangat terkenal. "Bahkan bajak laut sampai menyerang tempat Aki Tirem," 

>terang lulusan UI ini.

>

>Dulu tempat tinggal Aki Tirem belum 

>disebut Warakas, melainkan Tanjung. Dan karena kehandalannya membuat 

>periuk, kawasan tempat tinggal Aki Tirem disebut sebagai Tanjung Periuk 

>lalu berubah menjadi Tanjung Priok.

>

>Sedang terkait nama Mbah 

>Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad, Rizal menjelaskan, 

>kisahnya baru bermula pada abad ke-17. Mbah Priok kala itu  diketahui 

>terdampar dan meninggal di sekitar kawasan Tanjung Priok dengan hanya 

>meninggalkan dayung dan periuk nasi.

>

>"Dalam sejarah Betawi, makam Mbah Priok sebenarnya tidak begitu terkenal. Yang 
>lebih memiliki akar 

>Betawi yakni makam di Luar Batang, Kramat Groak Condet, atau makam Si 

>Pitung," tambahnya.

>

>Namun bagaimanapun makam Mbah Priok sudah 

>menjadi mitos dan legenda di masyarakat. "Pemerintah harus menghormati 

>tradisi yang ada di sana," tutupnya.

>

>Salam

>Hot Asi

>

>

>___________ _________ _________ ___

>From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>

>To: refere...@yahoogrou ps.com

>Sent: Friday, April 16, 2010 22:53:23

>Subject: Re: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal

>

>  

>Memang kasus Priok ini banyak anehnya :

>1. Itu makam Habib Hasan bin Muhammad Hadad, mengapa dibilang Mbak Priuk? 
>kalau "Mbah" itu orang Jawa. Kalau asli betawi dipanggil engkong.

>2. M. Biki bilang kalau Habib Hasan itu pahlawan dan meninggal ditembak 
>Belanda, tapi sumber lain mengatakan bahwa Habib berlayar dari Palembang ingin 
>menyebarkan Agama Islam, tapi keburu ada kecelakakan di laut dan tewas. 

>3.Bentrokan kemarin saya lihat tidak ada dari keluarga Habib, tapi kenapa pada 
>pertemuan dengan Pemda DKI dan Pelindo, koq hampir semua berhidung mancung. Ke 
>mana mereka ketika terjadi bentrokan?

>4.Komnas HAM bilang bahwa Satpol PP telah melanggar HAM berat, padahal yang 
>tewas dari Satpol PP.

>5.Habib Rizieq pimpinan FPI bilang bahwa penggusuran Makam Habib Hasan telah 
>menghalang-halangi hak umat untuk beribadah bagi agamanya, tapi bagaimana FPI 
>merusak dan membakar aset Ahmadiyah? Bukankah itu juga menghalangi- halangi 
>umat beribadah bagi Ahmadiyah?

>6. Diceritakan (mungkin hanya legenda saja) bahwa nama Tanjung Priuk berasal 
>ketika Habib tewas meninggalkan dayung dan periuk. Patahan dayung menjadi 
>nisan kuburan Habib dan kemudian tumbuh menjadi pohon Tanjung, maka namanya 
>Tanjung Priuk. Kalau begitu ada cerita yang sama bahwa ada Habib yang membawa 
>piring perak ke Surabaya, dan juga ada habib lain membawa piring emas ke 
>Semarang? Ah namanya juga legenda. tapi koq ya banyak yang percaya?

>7.Pada tahun 1760-an ketika Habib tewas, kawasan Koja itu tidak ada apa-apa, 
>mungkin hutan belukar dan tidak ada pemukiman (tidak ada situs peninggalan 
>lain di sekitar makam). Mengapa dimakamkan di Koja? Betulkan ia meninggal pada 
>tahun itu?

>8.yang paling lucu : Ahli waris minta (memaksa) Pemda DKI untuk menetapkan 
>Makam Habib sebagai cagar budaya. Tapi mereka minta yang di Cagar Budaya itu 
>Makam Habib dan halaman seluas 1 hektar saja, sisanya sekitar 4 hektar minta 
>dinegosiasi dengan Pelindo. Ah... akhirnya DUIT  juga maunya.

> 

>Kalau begini sungguh kasihan kepada para korban. Sangat memprihantinkan !

> 

>Thanks. CU. BTS.

>

>--- Pada Jum, 16/4/10, consultwb.djpr@ gmail.com <consultwb.djpr@ gmail.com> 
>menulis:

>

>

>>Dari: consultwb.djpr@ gmail.com <consultwb.djpr@ gmail.com>

>>Judul: Re: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan & budaya komunal

>>Kepada: refere...@yahoogrou ps.com

>>Tanggal: Jumat, 16 April, 2010, 3:52 AM

>>

>>

>>  

>>Dalam sebuah diskusi kecil, tercetus pertanyaan. Mengapa ketika penggusuran 
>>menyangkut orang-orang yang masih hidup (gusuran permukiman atau PKL) 
>>perlawanan yang diberikan terhadap satpol PP/penggusur tidak seanarkis ketika 
>>penggusuran menyangkut tanah seperti penggusuran makam ini. Reaksi yang 
>>timbul ketika beberapa pulau kita diakui oleh Malaysia pun lebih besar 
>>daripada ketika TKW kita dibunuh oleh majikan Malaysianya.

>>

>>Apakah sebidang tanah lebih berarti daripada nyawa manusia?

>>

>>Just some points to ponder.

>>

>>Salam. 

>>

>>Sent from my BlackBerry®

>>powered by Sinyal Kuat INDOSAT

>___________ _________ _________ ___

> >

>>From: Risfan M <risf...@yahoo. com> 

>>Date: Thu, 15 Apr 2010 14:38:23 -0700 (PDT)

>>To: <refere...@yahoogro u ps.com>

>>Subject: [referensi] Re: tanjung priok, kekerasan budaya komunal

>>

>>  

>>Rekans ysh,

>>

>>Memang percobaan analisisnya bisa dibawa ke mana-mana. Ken Arok, etnis, 
>>konspirasi pemecah bangsa (lah, pemicunya kan policy, petugas?), dst.

>>Tapi jangan lupa pemicu spesifiknya yaitu: PENGGUSURAN. Karena ini yang 
>>langsung terkait implementasi rencana. 

>>Adakah cara resettlement

>>, renewal yang lebih baik (buat penduduk dan petugas lapangan). Supaya jangan 
>>seperti adu domba antar orang kecil. 

>>Juga bagaimana agar dalam merencana dilengkapi juga kajian risiko dalam 
>>implementasi, termasuk DRR (disaster risk reduction) nya? Sebetulnya dari 
>>peta sosekbud kan bisa diketahui mana kawasan bronx, little italy nya, 
>>potensi rusuhnya. Dan, menggusur simbol (keramat) komunitas itu juga perlu 
>>ekstra perhatian, mungkin empathy juga. Karena itu efeknya kuat dalam 
>>mempersatukan komunitas.

>>

>>Salam,

>>Risfan Munir

>>

>>Pada Kam, 15 Apr 2010 10:36 CDT Harya Setyaka menulis:

>>

>>>Tul betuul ...

>>>Sepakbola Eropa masih

>> acap ternoda tingkah hooligans & tifosi.

>>>

>>>Although, yg jadi gang di LA itu kebanyakan non-Bule, atau euphemisme nya:

>>>"people of color".

>>>

>>>Sejarah USA juga tidak bersih dari tindakan kekerasan kolektif..

>>>dan.. selalu ada elemen etnis.

>>>

>>>Di Indonesia.. laah.. anak SMA tawuran (terutama Jakarta 1990an), Mahasiswa

>>>tawuran bahkan di-rutin-kan, tiap kali wisudaaan tawur dan bangga

>>>pulak... warga juga tawuran (terakhir di Manggarai tahun lalu)..

>>>eeh... antar instansi bersenjata juga tawuran.. masih ingat Linud vs. Brimob

>>>di Binjai, 2002?

>>>

>>>

>>>Salam,

>>>-K-

>>>

>>>

>>>

>>>2010/4/14 risfano <risf...@yahoo. com>

>>>

>>>>

>>>>

>>>> Rekans ysh,

>>>>

>>>> Barat yang mana Pak Ukon, Pak BTS yang

>> gak kenal kerusuhan? Hooliganism kan

>>>> rutin tiap tahun bikin rusuh di turnamen Eropa. Kerusuhan di LA,

>>>> tembak-menembak yang hampir rutin di beberapa metropolitan, sampai gas

>>>> beracun di Jepang, dst.

>>>>

>>>> Lalu apa sebabnya? Urbanisasi dan ketimpangan kesejahteraan, pengangguran

>>>> (tak kentara)? Suara yang tak pernah didengar?

>>>> Jujur saja bagaimana plotting "kawasan padat" itu peta RTRW, adakah

>>>> petrencana mengakui kehadiran kaum informal, atau yang mampu beli/sewa 
>>>> tanah

>>>> (formal) saja? Bagaimana transisi (darurat)nya mengingat kondisi sosial

>>>> ekonomi masyarakat kita masih harus migrasi ke kota-kota tanpa bekal?

>>>> Dalam diskusi Disaster Risk Reduction (DRR) sebetulnya risiko konflik

>>>> sosial ini sudah masuk agenda Pengelolaan Kota juga. Sehingga layak

>>>> dipikirkan Action Plan untuk mengantisipasi sebelum kasus terjadi,

>> sert

>>>> diadopsi ke rencana. Mungkinkah?

>>>>

>>>> Salam,

>>>> Risfan Munir

>>>>

>>>>

>>>> --- In refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoog roups.com> , 
>>>> "ukonisme"

>>>> <ukon...@... > wrote:

>>>> >

>>>> > Rekans,

>>>> > Kekerasan massal sesungguhnya sudah sangat kerap terjadi. Ada rusuh

>>>> antarsuporter sepakbola, bentrok antar warga kampung, bentrok antar ormas,

>>>> dan terakhir rusuh priok yg melibatkan satpol pp dan masyarakat. Sungguh

>>>> memprihatinkan.

>>>> >

>>>> > Saya jadi berpikir jangan2 kebiasaan rusuh massal ini ada sedikit andil

>>>> dari budaya kita yg komunal. Di masyarakat yg cenderung individualistis

>>>> seperti di barat, masyarakatnya lebih taat hukum dan takut

>> melanggar aturan

>>>> karena mungkin ngerasa tak punya beking. Sedangkan di masyarakat komunal

>>>> karena ngerasa banyak temen, dia jadi lebih berani untuk bertindak rusuh.

>>>> >

>>>> > Mohon pencerahan dari para planolog yg antropolog.

>>>> >

>>>> > Salam.

>>>> > Powered by Telkomsel BlackBerry®

>>>>

>>>> >

>>>> > -----Original Message-----

>>>> > From: i_gume...@.. .

>>>> > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:34:28

>>>> > To: <refere...@yahoogro u ps.com <referensi%40yahoog roups.com> >

>>>> > Subject: Re: [referensi] tanjung priok

>>>> >

>>>> > Saya jadi ingat nonton video ttg pamswakarsa dimana anak2 kecil ikut

>>>> memukul dan menikam korban. Saya menontonnya di australia.

>> Sebelumnya saya

>>>> juga menonton pengakuan dan penyelasan seseorang yg waktu mudanya ikut

>>>> pembunuh petani yang dituduh PKI. Di periok pun ada anak2 yg terlibat.

>>>> > Saya khawatir anak2 yg ikut dlm kerusuhan di tg periok akan mengalami

>>>> kegelisahan seumur hidup seperti yg dialami pemuda yg ikut membunuh petani.

>>>> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung

>>>> Teruuusss... !

>>>>

>>>> >

>>>> > -----Original Message-----

>>>> > From: rachm...@...

>>>> > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:00:46

>>>> > To: <refere...@yahoogro u ps.com <referensi%40yahoog roups.com> >

>>>> > Subject: Re: [referensi] tanjung priok

>>>> >

>>>> > Saya pikir kita juga harus menilai dari

>> dua sisi. Satpol PP ya masyarakat

>>>> juga. Perlakuan yang buruk terhadap Satpol PP juga bisa dinilai sebagai

>>>> pelanggaran HAM oleh masyarakat kecuali satpol pp sudah dihilangkan Hak

>>>> Azasi nya.

>>>> >

>>>> > Perilaku masyarakat yang buruklah yang harus segera ditangani.

>>>> >

>>>> > Salam

>>>> >

>>>> > RM

>>>> >

>>>>

>>

>> 

>___________ _ _________ _________ _________ _________ __

>Apakah Anda Yahoo!?

>Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam 

>http://id.mail. yahoo.com 

> 

>

>Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke