Ysh. Pak Eka.
 
Terima kasih ilustrasinya. Saya sih berpendapat bahwa patung-patung di Jakarta 
sudah tidak ada kaitannya dengan budaya. Tak banyak orang memperhatikan 
patung-patung itu. Sekarang patung-patung di Jakarta hanyalah tengeran (node) 
saja. Misalnya orang tanya :"..ee di mana sekolah manajemen PPM?". Di jawab;" 
...itu dekat Patung Pak Tani". Langsung yang bertanya paham. Cuma segitu aja 
fungsinya, selain sebagai salah satu furniture kota.
 
Thanks. CU. BTS. 

--- Pada Sen, 19/4/10, - ekadj <[email protected]> menulis:


Dari: - ekadj <[email protected]>
Judul: Re: Fw: [referensi] Mbak Priuk : Situsnya ataukah Mbah Priuknya?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 3:28 PM


  




Pak BTS ysh, mohon maaf saya mengganggu sedikit dengan cuplikan berikut, 
diambil dari Sahlins "Marxism and Two Structuralism": Pada Mei 1968, Sahlins 
berkesempatan menyaksikan debat informal di Paris antara seorang ahli hukum 
Amerika dan seorang antropolog Perancis.
 
After a long period of question and discussion, the American summed up his 
views in this way: "I have a friend," he said, "who is doing a sociological 
study of equrstrian statues in Central Park. It's a kind of structuralism. He 
finds a direct relation between the cultural status of the rider and the number 
of legs the horse has off the ground. One leg poised has a different historical 
and political connotation from a horse rearing on hind legs or another cast in 
flying gallop. Of course the size of the statue also makes a difference. The 
trouble is," he concluded, "people don't ride horses anymore. The things in a 
society that are obsolete, out of contention, those you can structure. But the 
real economic and political issues are undecided, and the decision will depend 
on real forces and resources".
The Parisian anthropologist thought about that a moment. "It is true," he 
finally said, "that people don't ride horses anymore. But they still build 
statues".

( ... Setelah diskusi panjang, si Amerika meringkas pandangannya: "Aku punya 
teman," katanya, "sedang melakukan suatu studi sosiologis tentang patung kuda 
di Central Park. Semacam strukturalisme. Dia menemukan hubungan langsung antara 
status budaya pengendara dan jumlah kaki kuda yang diangkat dari tanah. Satu 
kaki memiliki konotasi sejarah dan politik yang berbeda dari posisi kaki 
belakang atau kondisi kaki yang terangkat. Tentu saja ukuran patung itu juga 
membuat perbedaan, Masalahnya," ia menyimpulkan, "orang sekarang ini tidak naik 
kuda lagi. Segala sesuatu dalam masyarakat mudah usang, sebagaimana yang anda 
strukturkan. Isue ekonomi dan politik yang nyata tidak lagi menentukan, dan 
keputusan tergantung pada kekuatan-kekuatan dan sumber daya yang jelas".
Sang antropolog memikirkan hal itu sejenak. "Memang benar," ia akhirnya 
berkata, "bahwa orang tidak naik kuda lagi Tapi mereka masih membangun patung" 
...)
 
Dari anekdot di atas dapat dinilai bila produk materi memang berubah dan mudah 
ketinggalan, namun faktor 'budaya' tetap masih berlangsung. Mungkin contoh yang 
lebih terang adalah 'patung porno' di Pancoran itu, kenapa manusia Indonesia 
yang sudah merdeka dan beradab masih 'dianalogi-strukturk an' dengan patung 
itu? Salam pak.
 
-ekadj

 
2010/4/19 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>


  









Mas BSP ysh.
 
Dari latar belakang cerita yang ada soal Mbak Priuk ini, saya kemudian 
mengajukan pertanyaan, mana yang penting : Lokasi/Situs Mbah Priuk atau "jasad" 
Mbaj Priuk. 
 
Mengingat bahwa penziarah di Mbah Priuk itu adalah warga Banten umumnya (Jawa 
Barat pada umumnya) yang punya latar belakang Agama Islam yang kuat, saya 
berpikir lebih pada Mbah Priuknya yang diziarahi daripada situs makamnya. 
Walaupun keduanya menurut Islam sama musyrik-nya, tapi ada Islam yang 
menganggap menziarahi arwah tidak musyrik sepanjang hanya berdoa, atau arwah 
sebagai mediator ke Allah, tapi Islam yang tidak terpengaruh kejawen, 
semestinya tidak mengkeramatkan lokasi/situs.
 
Berbeda dengan kasus yang Mas BSP sampaikan yaitu makam Sunan Bonang ada 3. 
Masyarakat kejawen tidak mempersoalkan "jasad", tapi lebih mengkeramatkan 
situsnya sehingga ketiga makamnya, walaupun 2 di antaranya pasti kosong, tetap 
diziarahi karena situs/lokasi bagi Budaya Jawa sangat penting. Makam Bung Karno 
di Blitar, seandainya dipindah ke Bogor, tetap saja situsnya itu tetap akan 
diziarahi masyarakat Jawa pengagum Bung Karno.
 
Jadi soal kekeramatan itu penting dalam penataan ruang kota. Apakah masyarakat 
lebih mementingkan situs makam sehingga "jasad"nya bisa dipindahkan; ataukah 
masyarakat lebih mementingkan "jasad" yang dihormati daripada makamnya sehingga 
bisa dipindah tempat ziarahnya ke lokasi yang lebih akses, lebih nyaman, dan 
situsnya cukup diberi monumen sebagai tengeran saja, ataukah masyarakat sangat 
mengkeramatkan ya situs makamnya ya "jasad"nya. Kalau gitu ya tak ada jalan 
lain dikonservasi (cagar budaya).
 
Nah apakah makam Mbak Kriuk perlu dikonservasi? Ini pertanyaan tak mudah, perlu 
analisis antropologis dsb. Tapi perkembangan informasi tentang Mbak Priuk sudah 
berkembang jauh yang tak ada kaitannya dengan kekeramatan makam Mbah Priuk. 
Memang aneh, penziarah Mbah Priuk banyak yang dari luar Koja (umumnya warga 
Banten) , tapi yang membela upaya "penggusuran" itu justru orang lokal 
(pendatang), begitu juga FPI yang saya tahu pahamnya Wahabi semestinya 
memusyrikkan makam, tapi ini koq membela-belain? Belakangan  diinformasikan 
bahwa soal Mbak Priuk itu soal sengketa tanah biasa antara ahli waris 
(kebetulan pimpinan FPI) dengan Pelindo. Pihak ahli waris belum setuju dengan 
ganti rugi, tapi keputusan pengadilan sudah menetapkan sebagai Hak Pengelolaan 
oleh Pelindo. Pelindo minta bantuan polisi, karena anggota polisi tidak cukup, 
meng-outsourcing- kan ke Satpol PP. Ini benar-benar soal "duit". Begitu juga 
FPI akhirnya ingin menegosiasikan yang 4 hektar. Ini
 soal duit juga. Ada juga penyerobot tanah yang ikut-ikutan, termasuk juga 
pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari makam itu sebagai tempat ziarah.
 
Begitulah Mas BSP. Sudahlan, ngggak usah didiskusikan lagi. Saya sedih dan 
kasihan terhadap korban. Ngeri sekali bagaimana mereka dihabisi. Kita 
nggak bisaq membela alasan para pembunuh, siapapun dia.
 
Thanks. CU. BTS. 















Kirim email ke