Pak BTS ysh, saya lanjutkan sedikit mengenai patung, dari anekdot itu
sebenarnya menceritakan bahwa walaupun sistem nilai yang disimbolkan sudah
tidak lagi bekerja, namun 'faktor budaya' masih tetap berlangsung, yaitu
membuat patung itu. Sama seperti kita lihat di jalan Magelang, banyak
artefak dan patung Hindu-Budha yang dibuat dan dijual, namun bukan berarti
masyarakatnya masih menganut agama itu.
Seperti juga patung Pak Tani, walaupun ideologi komunis sudah dilarang,
tetapi kenapa patung itu masih dibiarkan berdiri? Juga simbolisasi
primitivisme di Pancoran dll. Jadi betul berfungsi tengeran saja.
Dalam halnya kasus makam di Koja, walaupun katanya kerangka sudah
dipindahkan, rupanya ada kebiasaan (: budaya) sebagian masyarakat yang
senang berkunjung ke tempat itu, karena merasa nyaman untuk berdoa dan
i'tikaf. Jadi ini masalah budaya. Namun kalau difungsikan sebagai mediator
untuk bermunajat, maka itu sudah masuk bid'ah. Saya dengar di tivi kalau
pengasuh tempat tersebut juga menjaga tempat tersebut dari praktek syirik.
Jadi memang banyak ujian aqidah. Salam.

-ekadj


2010/4/20 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>
>
>   Ysh. Pak Eka.
>
> Terima kasih ilustrasinya. Saya sih berpendapat bahwa patung-patung di
> Jakarta sudah tidak ada kaitannya dengan budaya. Tak banyak orang
> memperhatikan patung-patung itu. Sekarang patung-patung di Jakarta hanyalah
> tengeran (node) saja. Misalnya orang tanya :"..ee di mana sekolah manajemen
> PPM?". Di jawab;" ...itu dekat Patung Pak Tani". Langsung yang bertanya
> paham. Cuma segitu aja fungsinya, selain sebagai salah satu furniture kota.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- Pada *Sen, 19/4/10, - ekadj <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: - ekadj <[email protected]>
> Judul: Re: Fw: [referensi] Mbak Priuk : Situsnya ataukah Mbah Priuknya?
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 3:28 PM
>
>
>  Pak BTS ysh, mohon maaf saya mengganggu sedikit dengan cuplikan berikut,
> diambil dari Sahlins "Marxism and Two Structuralism": Pada Mei 1968, Sahlins
> berkesempatan menyaksikan debat informal di Paris antara seorang ahli hukum
> Amerika dan seorang antropolog Perancis.
>
> After a long period of question and discussion, the American summed up his
> views in this way: "I have a friend," he said, "who is doing a sociological
> study of equrstrian statues in Central Park. It's a kind of structuralism.
> He finds a direct relation between the cultural status of the rider and the
> number of legs the horse has off the ground. One leg poised has a different
> historical and political connotation from a horse rearing on hind legs or
> another cast in flying gallop. Of course the size of the statue also makes a
> difference. The trouble is," he concluded, "people don't ride horses
> anymore. The things in a society that are obsolete, out of contention, those
> you can structure. But the real economic and political issues are undecided,
> and the decision will depend on real forces and resources".
> The Parisian anthropologist thought about that a moment. "It is true," he
> finally said, "that people don't ride horses anymore. But they still build
> statues".
> ( ... Setelah diskusi panjang, si Amerika meringkas pandangannya: "Aku
> punya teman," katanya, "sedang melakukan suatu studi sosiologis tentang
> patung kuda di Central Park. Semacam strukturalisme. Dia menemukan
> hubungan langsung antara status budaya pengendara dan jumlah kaki kuda yang
> diangkat dari tanah. Satu kaki memiliki konotasi sejarah dan politik yang
> berbeda dari posisi kaki belakang atau kondisi kaki yang terangkat. Tentu
> saja ukuran patung itu juga membuat perbedaan, Masalahnya," ia
> menyimpulkan, "orang sekarang ini tidak naik kuda lagi. Segala sesuatu dalam
> masyarakat mudah usang, sebagaimana yang anda strukturkan. Isue ekonomi dan
> politik yang nyata tidak lagi menentukan, dan keputusan tergantung pada
> kekuatan-kekuatan dan sumber daya yang jelas".
> Sang antropolog memikirkan hal itu sejenak. "Memang benar," ia akhirnya
> berkata, "bahwa orang tidak naik kuda lagi Tapi mereka masih membangun
> patung" ...)
>
> Dari anekdot di atas dapat dinilai bila produk materi memang berubah dan
> mudah ketinggalan, namun faktor 'budaya' tetap masih berlangsung. Mungkin
> contoh yang lebih terang adalah 'patung porno' di Pancoran itu, kenapa
> manusia Indonesia yang sudah merdeka dan beradab masih 'dianalogi-strukturk
> an' dengan patung itu? Salam pak.
>
> -ekadj
>
>
> 2010/4/19 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. 
> com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>     Mas BSP ysh.
>>
>> Dari latar belakang cerita yang ada soal Mbak Priuk ini, saya kemudian
>> mengajukan pertanyaan, mana yang penting : Lokasi/Situs Mbah Priuk atau
>> "jasad" Mbaj Priuk.
>>
>> Mengingat bahwa penziarah di Mbah Priuk itu adalah warga Banten umumnya
>> (Jawa Barat pada umumnya) yang punya latar belakang Agama Islam yang kuat,
>> saya berpikir lebih pada Mbah Priuknya yang diziarahi daripada situs
>> makamnya. Walaupun keduanya menurut Islam sama musyrik-nya, tapi ada Islam
>> yang menganggap menziarahi arwah tidak musyrik sepanjang hanya berdoa, atau
>> arwah sebagai mediator ke Allah, tapi Islam yang tidak terpengaruh kejawen,
>> semestinya tidak mengkeramatkan lokasi/situs.
>>
>> Berbeda dengan kasus yang Mas BSP sampaikan yaitu makam Sunan Bonang ada
>> 3. Masyarakat kejawen tidak mempersoalkan "jasad", tapi lebih mengkeramatkan
>> situsnya sehingga ketiga makamnya, walaupun 2 di antaranya pasti kosong,
>> tetap diziarahi karena situs/lokasi bagi Budaya Jawa sangat penting. Makam
>> Bung Karno di Blitar, seandainya dipindah ke Bogor, tetap saja situsnya itu
>> tetap akan diziarahi masyarakat Jawa pengagum Bung Karno.
>>
>> Jadi soal kekeramatan itu penting dalam penataan ruang kota. Apakah
>> masyarakat lebih mementingkan situs makam sehingga "jasad"nya bisa
>> dipindahkan; ataukah masyarakat lebih mementingkan "jasad" yang dihormati
>> daripada makamnya sehingga bisa dipindah tempat ziarahnya ke lokasi yang
>> lebih akses, lebih nyaman, dan situsnya cukup diberi monumen sebagai
>> tengeran saja, ataukah masyarakat sangat mengkeramatkan ya situs makamnya ya
>> "jasad"nya. Kalau gitu ya tak ada jalan lain dikonservasi (cagar budaya).
>>
>> Nah apakah makam Mbak Kriuk perlu dikonservasi? Ini pertanyaan tak mudah,
>> perlu analisis antropologis dsb. Tapi perkembangan informasi tentang Mbak
>> Priuk sudah berkembang jauh yang tak ada kaitannya dengan kekeramatan makam
>> Mbah Priuk. Memang aneh, penziarah Mbah Priuk banyak yang dari luar Koja
>> (umumnya warga Banten) , tapi yang membela upaya "penggusuran" itu justru
>> orang lokal (pendatang), begitu juga FPI yang saya tahu pahamnya Wahabi
>> semestinya memusyrikkan makam, tapi ini koq membela-belain? Belakangan
>> diinformasikan bahwa soal Mbak Priuk itu soal sengketa tanah biasa antara
>> ahli waris (kebetulan pimpinan FPI) dengan Pelindo. Pihak ahli waris belum
>> setuju dengan ganti rugi, tapi keputusan pengadilan sudah menetapkan sebagai
>> Hak Pengelolaan oleh Pelindo. Pelindo minta bantuan polisi, karena anggota
>> polisi tidak cukup, meng-outsourcing- kan ke Satpol PP. Ini benar-benar soal
>> "duit". Begitu juga FPI akhirnya ingin menegosiasikan yang 4 hektar. Ini
>> soal duit juga. Ada juga penyerobot tanah yang ikut-ikutan, termasuk juga
>> pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari makam itu sebagai tempat ziarah.
>>
>> Begitulah Mas BSP. Sudahlan, ngggak usah didiskusikan lagi. Saya sedih dan
>> kasihan terhadap korban. Ngeri sekali bagaimana mereka dihabisi. Kita
>> nggak bisaq membela alasan para pembunuh, siapapun dia.
>>
>> Thanks. CU. BTS.
>>
>>
>

Kirim email ke