Betul Koko, .... apresiasi terhadap patung setiap orang akan berbeda-beda. Tergantung pada pengetahuan masing-masing orang. Tapi sepertinya orang-orang nggak pada peduli, apalagi dikaitkan dengan budaya. Saya apresiasi kepada Sutiyoso membangun patung Sudirman. Fungsinya masih sebagai tengeran dan furnitur kota. Bahkan sebagai tengeran masih kalah dengan Halte Duku Atas atau Menara BNI. Patung Sudirman sepertinya hanya menandai Kawasan Sudirman dan apakah ada cerita sejarah Sudirman di kawasan itu? Sementara Patung Diponegoro itu menggantikan Patung Ibu yang kekecilan sampai-sampai nggak ada yang tahu ada patung ibu di situ. Setelah diganti patung Diponegoro, lumayan apik mendominasi visual kawasan di depan Bappenas itu. Itu menambah serasi kawasan Bappenas, tapi sebagai tengeran masih lebih terkenal Taman Suropati daripada patung Diponegoro. Banyak yang nggak peduli tentang patung itu. Toh Diponegoro belum pernah ke Jakarta nkali ya. Para pengendara juga tak bisa menikmati anggunnya patung itu karena arus LL yang cepat (maunya segera belok) dan ketika berhenti di-stopan, letaknya terbelakang. Kalau patung Pak Tani memang patungnya Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi di bawah PKI pada jaman dulu. Rencananya semua petani dipersenjatai dari senjata buatan China waktu itu. Tapi TNI tidak setuju. Saya nggak tahu mengapa lokasinya di situ? Karena kantor pusat PKI sih ada di Kramat (berseberangan dengan Kantor URDI yang lama). Sementara patung Obama?...ah itu prematur saja. Thanks. CU. BTS.
--- Pada Sel, 20/4/10, Harya Setyaka <[email protected]> menulis: Dari: Harya Setyaka <[email protected]> Judul: Re: Fw: [referensi] Mbak Priuk : Situsnya ataukah Mbah Priuknya? Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 20 April, 2010, 5:16 AM Ya memang gak bisa diapresiasi dengan mata polos ... Patung Pak Tani itu dibangun tahun berapa? Dulu ada kantor siapa di sekitar situ? Mengapa di 'perbatasan' jalan Imam Bonjol dan Diponegoro perlu dibangun patung Diponegoro? mengapa pula Sutiyoso membangun patung Sudirman.. Kalau tidak ada kaitannya sama sekali.. mengapa ada yg keberatan dengan patung kanak-kanak Obama? -K- 2010/4/19 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Ysh. Pak Eka. Terima kasih ilustrasinya. Saya sih berpendapat bahwa patung-patung di Jakarta sudah tidak ada kaitannya dengan budaya. Tak banyak orang memperhatikan patung-patung itu. Sekarang patung-patung di Jakarta hanyalah tengeran (node) saja. Misalnya orang tanya :"..ee di mana sekolah manajemen PPM?". Di jawab;" ...itu dekat Patung Pak Tani". Langsung yang bertanya paham. Cuma segitu aja fungsinya, selain sebagai salah satu furniture kota. Thanks. CU. BTS. --- Pada Sen, 19/4/10, - ekadj <4ek...@gmail. com> menulis: Dari: - ekadj <4ek...@gmail. com> Judul: Re: Fw: [referensi] Mbak Priuk : Situsnya ataukah Mbah Priuknya? Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 3:28 PM Pak BTS ysh, mohon maaf saya mengganggu sedikit dengan cuplikan berikut, diambil dari Sahlins "Marxism and Two Structuralism": Pada Mei 1968, Sahlins berkesempatan menyaksikan debat informal di Paris antara seorang ahli hukum Amerika dan seorang antropolog Perancis. After a long period of question and discussion, the American summed up his views in this way: "I have a friend," he said, "who is doing a sociological study of equrstrian statues in Central Park. It's a kind of structuralism. He finds a direct relation between the cultural status of the rider and the number of legs the horse has off the ground. One leg poised has a different historical and political connotation from a horse rearing on hind legs or another cast in flying gallop. Of course the size of the statue also makes a difference. The trouble is," he concluded, "people don't ride horses anymore. The things in a society that are obsolete, out of contention, those you can structure. But the real economic and political issues are undecided, and the decision will depend on real forces and resources". The Parisian anthropologist thought about that a moment. "It is true," he finally said, "that people don't ride horses anymore. But they still build statues". ( ... Setelah diskusi panjang, si Amerika meringkas pandangannya: "Aku punya teman," katanya, "sedang melakukan suatu studi sosiologis tentang patung kuda di Central Park. Semacam strukturalisme. Dia menemukan hubungan langsung antara status budaya pengendara dan jumlah kaki kuda yang diangkat dari tanah. Satu kaki memiliki konotasi sejarah dan politik yang berbeda dari posisi kaki belakang atau kondisi kaki yang terangkat. Tentu saja ukuran patung itu juga membuat perbedaan, Masalahnya," ia menyimpulkan, "orang sekarang ini tidak naik kuda lagi. Segala sesuatu dalam masyarakat mudah usang, sebagaimana yang anda strukturkan. Isue ekonomi dan politik yang nyata tidak lagi menentukan, dan keputusan tergantung pada kekuatan-kekuatan dan sumber daya yang jelas". Sang antropolog memikirkan hal itu sejenak. "Memang benar," ia akhirnya berkata, "bahwa orang tidak naik kuda lagi Tapi mereka masih membangun patung" ...) Dari anekdot di atas dapat dinilai bila produk materi memang berubah dan mudah ketinggalan, namun faktor 'budaya' tetap masih berlangsung. Mungkin contoh yang lebih terang adalah 'patung porno' di Pancoran itu, kenapa manusia Indonesia yang sudah merdeka dan beradab masih 'dianalogi-strukturk an' dengan patung itu? Salam pak. -ekadj

