Pak Eko ysb. Terima kasih sebelumnya. Saya tambahkan catatan: hard
(tangible) industry dan production of national identities. Sejarah tentang
industri otomotif ini mengingatkan saya pada satu
tulisan<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3756>.
Jadi sepertinya untuk masuk ke pasar internasional perlu pemahaman budaya ya
pak?
Bila bapak berkenan lagi, mudah-mudahan dapat menjelaskan kenapa 'borjuis'
memiliki 'selera' yang beragam (spesifik) dan akhirnya menjadi pasar bagi
produk?
Salam.

-ekadj
2010/5/19 Eko B K <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka ysh.,
>
> Maaf baru baca, saya jadi teringat sebuah film yg didasarkan kisah nyata di
> Jepang tahun2 selepas PD 2 (lupa judulnya)... kisahnya ttg seorang bapak dan
> anak... si bapak pemilik bank besar di Jepang dan si anak insinyur direktur
> pabrik komponen mesin... si anak begitu berambisi utk masuk ke pasar
> Amerika... alasannya adalah bahwa: satu saja produk industri Jepang bisa
> menembus pasar barat, maka produk2 lainnya juga akan dipercaya...
>
> mungkin begitu Samsung sukses, tentunya produk2 Korea lainnya seperti LG,
> Hyundai, dst mampu meraih kepercayaan konsumen dunia... sebaliknya mungkin
> saat ini ketika Proton belum mampu meraih kepercayaan maka Perodua juga,
> entah mobnas2 Indonesia yg tahun ini akan bermunculan...saya tdk tahu, tentu
> rekan2, bapak ibu sekalian yg mendalami bisnis, marketing atau ilmu
> perdagangan int'l lebih tahu...
>
> Tapi saya kira sudah banyak juga produk2 Indonesia yg berhasil menembus
> atau bahkan merajai pasar LN (at least jiran) seperti JCo donat di Msia dan
> Spore, musik Indonesia di Msia, dll... :)
>
> salam...
>
> --- En date de : *Mar 18.5.10, - ekadj <[email protected]>* a écrit :
>
>
> De: - ekadj <[email protected]>
> Objet: Re: [referensi] la pensée bourgeoise
> À: [email protected]
> Date: Mardi 18 mai 2010, 17h15
>
>
>
> Pak BTS ysh. Terima kasih atas penjelasannya. Saya menambahkan catatan
> beberapa hal yang penting: demand oriented - diversifikasi produk - mode -
> fashionable,
> Salam.
>
> -ekadj
>
>  2010/5/18 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. 
> com<http://mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>
>>    Pak Eka, dalam bisnis itu:
>> 1. Ada yang ngikuti selera pasar yang produknya bersifat "job order". Naik
>> turunnya bisnis tergantung pada selera pasar. Kalau nggak bisa ngikuti
>> pasar, bisa bangkrut/nggak laku. Contohnya dalam kesenian adalah Wayang
>> Kulit Non-Pakem.
>> 2. Ada yang men-segmentasi pasar, yaitu hanya melayani segmen tertentu
>> saja, misalnya bisnis permata.
>> 3. Menciptakan pasar, yaitu menciptakan pasar baru, misalnya Alm. Tirto
>> Utomo yang mengenalkan Aqua di Indonesia, atau industri kreatif yang
>> sekarang banyak berkembang.
>>
>> Dalam soal ukiran furniture, ya ikuti 3 pasar itu, yaitu melayani yang
>> sifatnya "job order", dengan mempertahankan khas lokal ukiran Serena yang
>> tetap ada penggemarnya walaupun sedikit, dan juga membuat pasar baru dengan
>> kreasi-kreasi baru ukiran ala Serenan.
>>
>> Thanks. CU. BTS.
>>
>> --- Pada *Sel, 18/5/10, - ekadj <4ek...@gmail. 
>> com<http://mc/[email protected]>
>> >* menulis:
>>
>>
>> Dari: - ekadj <4ek...@gmail. com <http://mc/[email protected]>>
>> Judul: [referensi] la pensée bourgeoise
>> Kepada: refere...@yahoogrou 
>> ps.com<http://mc/[email protected]>
>>
>> Tanggal: Selasa, 18 Mei, 2010, 11:08 AM
>>
>>
>>   Pak EkoBK dan Referensiers ysb, bila berkenan dan berkesempatan, mohon
>> kesediaannya pak memberikan pandangan tentang 'la pensee bourgeoise'
>> terutama karena ada beberapa ungkapan menarik di bawah. Sebelumnya terima
>> kasih pak. Salam.
>>
>> -ekadj
>>
>> "... Sekarang ini masak apem, donat, cenil, kripik, kerak, cireng harus
>> merk franchise dari luar. ..."
>>
>> "... Kalimat yang masih 'menancap' di otak saya kurang lebih "Kita harus
>> mengglobal dengan semangat regional berbasis sumberdaya lokal. Sumberdaya
>> lokal itu mencakup sumberdaya manusia, alam, budaya, teknologi, dan
>> finansial." ... Singkatnya, beberapa rekomendasi penelitian JICA tersebut
>> adalah (1) meningkatkan kualitas meubel terutama pada proses oven agar daya
>> tahannya lebih baik, (2) Membuat ciri ukir dan meubel sendiri yang khas dan
>> mencerminkan Serenan atau Solo. ... Otomatis desain dan bahannya tergantung
>> permintaan buyer. Persoalan itu yang menyebabkan hilangnya 'ciri khas' lokal
>> meubel serenan yaitu (1) minat warga dan (2) ekonomi global. ..."
>>
>> "... "Identitas lokal", kebanggaan budaya, bisa lain dengan "apa yang
>> dicari pembeli". ... Tapi kenyataan penjualan terbesar dan yang mayoritas
>> dikerjakan pengrajin di sana adalah "desain bawaan pembeli". Jadi pengrajin
>> disana keterampilan perkayuannya dipakai untuk menggarap desain pesanan. ...
>> Pertanyaannya, Anda mau membantu perekonomian mereka, atau menyuruh mereka
>> jadi pelestari potensi budaya? Yang jelas kompetensi mereka pada
>> "keterampilan membuat" mebel, ukir asli atau pesanan. ... Kadang buyer hanya
>> kirim sket kasar, lalu mereka gambar yang baik, atau buat sampel, dipotret,
>> dikirim untuk dapat kesepakatan. ..."
>>
>> "... Penyesuaian dengan selera pasar, seperti berkarya sesuai dengan
>> desain pesanan yang ada, merupakan alternatif yang sangat logis untuk
>> bertahan dan berkembang. ..."
>>
>> "... Tapi di Sumbar relatif banyak ragam makanan/camilan oleh-oleh yang
>> tahan lama, seperti juga di Jawa Tengah (terutama alen-alen, yaitu cincin
>> warna-warni dari singkong, untuk latihan adu "keras" dengan gigi kita he
>> he). Harapannya semua bisa seperti brownies Amanda, Karya Umbi, Kartika Sari
>> (Bandung), Christin Hakim (Sumbar), Zulaikha (Medan) dan Bolu Meranti,
>> Bandeng Semarang, dst ... Mestinya Carrrefour yang melebar di Indonesia,
>> akan bagus juga kalau baliknya bawa produk-produk kita ke Perancis-ya. ..."
>>
>> "... Bung Fajar, pengembangan ekonomi lokal tidak harus produk khas lokal,
>> tetapi bagaimana menumbuhkan perusahaan lokal menjadi mampu bersaing. ..."
>> "... Untuk kasus bawang merah di Brebes, bukannya industri rakyat
>> unggulannya, yaitu telor asin, lebih membutuhkan tingkat keahlian yang lebih
>> tinggi..? Bukankah apabila dilakukan pembuatan acar bawang dalam botol, maka
>> pemasarannya bisa dilakukan berdampingan dengan telor asin..? ... Mengapa
>> tidak dilakukan pengepakan 1 kiloan, 5kiloan, atau 10 kiloan supaya mendapat
>> harga yang lebih baik..? ..."
>>
>> "... Saya sependapat dengan Pak Risfan dan Pak Fajar bahwa pengrajin tidak
>> harus menghasilkan karya yang selalu bercorak khas daerah mereka. Berkarya
>> sesuai dengan permintaan pasar juga perlu dilakukan untuk tetap bertahan dan
>> tentunya mengembangkan usaha. ... Sebagai contoh untuk pemesanan dari
>> Perancis maka exportirnya si-A
>> dan kelompok pengrajinnya si B dan seterusnya. ..."
>>
>>

Kirim email ke