Uda Eka dan Rekans ysh,

Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan 
perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis.

Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup dia 
juga tetap asli.
Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal dan 
Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara ekonomi IPM) 
terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, bisa dibilang 
tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar kontrol kita) 
membuka peluang itu.

Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: memudaran 
keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. Untuk inilah 
maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar bargaining position 
mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan informasi (harga, kualitas).

Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham Negara 
Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi tiap 
warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah mendiskriminasi 
orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan karya seninya.

Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata di 
satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke 
suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa. 
Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto. 

Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) 
sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan 
Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, 
eksperimental) dan yang pop (komersial?).

Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik 
pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan umum 
, tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati gain 
harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti tahu 
dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan masing-masing pihak.

Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X nanti 
harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, apa 
kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya. 

Salam,
Risfan Munir
www.wilayahkota.blogspot.com


      

Kirim email ke