Pak Risfan dan Referensiers ysh. Sejujurnya saya memang miris dan sedikit gelisah dengan kondisi Ubud, karena 1) cita rasa seni tidak menyebar tapi langsung keluar dari Indonesia, dalam skala besar, dan mungkin dengan harga yang murah, jadi lebih dari sekedar fabrikasi; 2) penggunaan raw materials yang diserap dari berbagai daerah dengan kualitas kw-1; sekarang saja daun gewang/lontar yang biasa digunakan untuk 'hateup' itu sudah diimpor dari NTT, termasuk batu, kayu, dll; dan 3) pergeseran pola budaya yang dideterminasi secara ekonomi, mudah-mudahan hal ini masih bisa dibentengi dalam tradisi banjar. Konstitusi lokasi seperti dikarenakan 'brand' dll justru seharusnya menjadi perhatian, dan bila dipahami struktur ruang dan sosialnya justru dapat dikendalikan atau dikonstruksi dalam perencanaan dan pengembangan. Sedikit kerumitan ini saya kira perlu agar kita tidak terlalu ceroboh dalam determinasi keruangan. Namun pendekatan struktur bapak dapat dipahami, dan boleh juga tuh tawaran nongkrongnya sekali waktu. Kalau soal Marx, sebagaimana pernah disebutkan bahwa dia bukan Marxist dan juga bukan Marxian, karena tidak bicara suprastruktur. Mungkin analoginya seperti Michael Jackson, ketika Liz Taylor menyebutnya sebagai King of Pop, King of Rock n Roll, King of Jazz, tapi yang pasti bukan King of Dangdut, kalau itu mah masih Rhoma Irama. Banyak yang mengatakan kalau Marx adalah Father of Socialism, Father of Capitalism, Father of Humanism, Father of Structuralism, dst, namun dengar-dengar banyak melahirkan 'anak haram'. Sementara demikian dulu pak, dan terima kasih atas banyak pelajaran. Salam.
-ekadj 2010/5/22 Risfan M <[email protected]> > > > Pak Iman, Aunur, Eko, Eka dan Rekans ysh, > > Betul Pak Eko tentang wisatawan dari Malaysia. Saya tambahkan mereka juga > ke Bukit tinggi, Maninjau dan sekitar, juga Medan, Brastagi, Toba dan > sekitar. Saya tanya ke manajer beberapa hotel di Bandung kunjungan mereka > significant, dari length of stay dan spending nya. Selain FO, oleh-oleh > Amanda brownies, Kartika Sari, juga Spa dan sejenis. > Seorang Prof ahli pariwisata pada Seminar Pariwisata di ITB cerita kalau > dia periodik ke paguyuban Angklung Mang Ujo dan sejenis. Mereka belajar > bagaimana mengembangkan angklung itu menjadi atraksi wisata, melestarikan > dan meluaskannya. Ini tentu tantangan bagi kita. > (note: S2 Pariwisata ITB juga punya nama lho, termasuk dari kalangan NHI > yang ada dari dulu. Kalau ttg Tourism Planning mereka rely on ITB). > > Bicara Supply-chain, masih ingat waktu pasar Tanah Abang terbakar, ada bom > di Kuta Bali, yang teriak juga para pedagang dan pengrajin dari Jatim, > Jateng, Jabar, Sumbar, Sulsel dll. Karena Bali (Kuta, Sukawati), Tanah > Abang, Mangga Dua, Beringharjo dan sejenis di beberapa kota besar, sudah > jadi outlet bagi produk kerajinan, pakaian dll, dari pusat-pusat kerajinan > dan UMKM di berbagai provinsi di Indonesia. Supply-chain yang terbentuk > luas, antar provinsi. > > Pak Iman, Pak Eka. Mengenai Ubud, juga Jepara yang sudah punya nama besar, > brand nya kuat kata orang marketing, soalnya adalah bagaimana membinanya > menjadi cluster yang kuat - berdaya-saing, berkeadilan dan berkelanjutan. > Apakah mereka sekedar bergerombol memanfaatkan brand lokasi, atau sudahkah > mereka saling bermitra, input/output relation untuk mengembangkan pasar, > desain, pengadaan raw materials, termasuk mengelola lingkungan, ruang, > utilitas dan prasarananya. Ini juga menjadi tantangan ke depan. > > Pertanyaan Eka tentang bagaiaman posisi cluster (ekonomi lokal) dalam > ekonomi wilayah? Cluster ini bisa dianggap sel, namun di banyak daerah sudah > menjadi core (jantung) ekonomi wilayah. Dalam hal ini mungkin kita juga > harus meninjau ulang pandangan kita tentang core yang selama ini diartikan > semata sebagai besarnya kota . > > Kalau kita baca Porter s Competitive Advantage (of the Nation , yang > dibahas kan clusters daripada kota sebagai pusat unggulan daerah atau > negara. > > Sustainability cluster seperti Jepara, Pandaisikek, Tasikmalaya, Ubud, dst, > sudah melintas zaman dengan strategi alamiah dan daya saing dan daya > adaptasinya. Bahkan dengan era pemerintahan silih berganti Belanda, Jepang, > era enam presiden RI mereka tetap exist. > > (Uda Eka, menganalisisnya jangan rumit-rumit. Ini zaman absurd, end of > history , lha ternyata pusat kapital-nya kok justru di negara komunis . > Bingung toh! Jangan-jangan kategori yang dibuat ilmuwan selama ini tidak > valid lagi. ... We are in journey to the Great Unknown ...... Bagaimana > kalau kita nongkrong saja di lapangan, amati, ikuti apa yang riel terjadi > kayak Geertz yang nongkrong di Pare, mungkin sambil makan pecel n tahu > Kediri dan macho ngisap kretek GG merah). > > Sambil kita amati proses yang terjadi, amati mana yang jalan/tidak. Apa key > success factors-nya? Unsur, komponen, actors/stakeholders, pola kemitraan, > proses, events (siklus periodic, promo) nya yang menentukan? Bisakah > direplikasi, apa syaratnya? Selamat ber- week-end ria. > > Salam, > Risfan Munir > Klik: www.wilayahkota.blogspot.com >

