Referensiers, saya baru nemu asal-usul penulisan Junghuhn dari berbagai
sumber di bawah, sepertinya berasal dari buku "Mirror of the Indies: a
History of Dutch Colonial Literature", karya Rob Niewenhuys (1972).

Terdapat beberapa catatan lain yang tidak di-republish, seperti sistem
keyakinan yang dianut oleh Junghuhn. Dia memformulasikannya sebagai: "We
believe in the existence of an invisible, great, and reasonable spirit
inhabing nature, and call it God. In order to understand God, one first
has to understand nature and study her laws with every scientific means
possible."

Sebagai seorang naturalist (: pencinta alam), Junghuhn sepertinya
menjalani ritual spiritualitas dalam setiap survai yang dilakukannya.
Dia menulis sebelum tidur di dalam sebuah gubuk di Jawa: "In front of me
I had put on display the symbols of my faith: a terrestrial and
celestial globe, a sextant, artificial horizon, telescope, chronometer,
termometer, psychometer, a compas, magnet, microscope, Nicholson's
airometer, a tringular prism, portable camera obscura, a daguerreotype
camera, a small chest for doing chemical test, and other such tools of
applied science". Junghuhn tidak pergi fieldwork dengan tangan kosong,
dan selalu jotting (mencatat cepat) dan membuat sketsa dari apa yang
dilihat dan dirasakan.

Dari semua peralatan Junghuhn, yang masih saya ikuti untuk pergi ke
lapangan adalah kompas dan kamera. Namun belakangan dengan hp N-E71
saya, semua fitur itu sudah ada, plus fitur gps sederhana. Kalau
teman-teman konsultan saya justru lebih sakti, sering ke lapangan dengan
tangan kosong, asal dompet penuh. ... canda ah. Junghuhn's rule adalah
"to immediately commit to paper all natural objects and views before
their impression could be erased by new objects". Jadi jotting dan buku
notes adalah kunci dalam fieldwork.

Dalam menggambarkan kecintaannya pada alam, pada suatu ketika di tepi
danau, Junghuhn menulis: "Filled with wonder I looked on, and it seemed
to me I sensed the relationship and sympathy binding all living
creatures ... as I got up from my rocky promontory, I said good night to
the moon, the stars, the lake, the ducks, the forest with its millions
of flowers, buds, and fruits, the galeopithecus, and all the other
animals. Good night. To nature fair and inexhaustible, animated by God's
breath, good night!" ... Saya kira ini dia tulis di tepi Danau
Singkarak.

Dari eksplorasi yang dilakukannya belasan tahun dan tertuang dalam
beberapa jilid buku, Junghuhn telah membuktikan ilmu pengetahuan bisa
dibuat di bumi Nusantara. Saya menunggu masukan lain, mana nih si lae
dari Groningen? Salam.

-ekadj


--- In [email protected], - ekadj <4ek...@...> wrote:
>
> Referensiers ysh. Masih tentang orang Jerman. Salah seorang yang
diapresiasi
> Werner Rutz dalam bukunya adalah Franz Wilhelm Junghuhn. Ternyata
Oktober
> tahun lalu ada perayaan 200th Junghuhn di ITB dan Goethe. Saya agak
> penasaran juga, karena tokoh ini ternyata dihormati oleh berbagai
disiplin
> ilmu di Indonesia, seperti geografi, geologi, geodesi, vulkanologi,
botani,
> industri, dst. Jadi sebenarnya tokoh ini multidisiplin, mmm, mirip
dengan
> julukan salah satu profesi di Indonesia. Profesinya juga beragam,
mulai dari
> militer, dokter, botanist, surveyor, hingga industriawan.
> Karena penasaran, saya sedang mempelajari tokoh ini dari berbagai
sumber.
> Sudah ketemu dua kopi buku asli:
> - Licht- und Schattenbilder aus dem Innersn von Java (1854)
> - Reizen door Java, voornamelijk door het oostelijk gedeelte van dit
eiland
> (1845)
> Katanya masih ada 5 buku lain lagi. Sayangnya semua buku masih dalam
bahasa
> Belanda, butuh teman yang memiliki keahlian bahasa dan minat yang sama
untuk
> membedah metodologi dan pemikiran Junghuhn. Ada yang bersedia?
> Dalam salah satu bukunya saya 'membaca' kalau Junghuhn sangat teliti
> melukiskan gambaran suatu wilayah, malah dilengkapi dengan sketsa
topografi
> yang rinci. Semua dilakukan sendiri, melalui perjalanan belasan tahun
> menyusuri setiap pelosok Sumatera dan Jawa, dari muara sungai hingga
ke
> puncak gunung.
> Salah satu yang dimanfaatkan pemerintah kolonial pada masa itu adalah
> 'klasifikasi musim dan vegetasi Junghuhn', yang melahirkan politik
cultuur
> stelsel. Berarti ini adalah pedoman awal dan terpenting perubahan pola
> pemanfaatan ruang, atau interaksi manusia dan alam di Indonesia, atau
> masuknya pola reproduksi ke dalam alam, menurut versi Claude
Meillassoux.
> Mohon bila ada informasi, analisis, dan link terkait Junghuhn untuk
dapat
> dishare (bisa via japri), seperti bahan2 simposium tahun lalu dll.
> Sebelumnya terima kasih. Saya temukan beberapa link terkait:
> http://id.wikipedia.org/wiki/Franz_Wilhelm_Junghuhn
>
http://omdien.wordpress.com/2007/08/23/fw-junghuhn-bapak-kina-indonesia/
>
http://geologi.iagi.or.id/2010/01/11/junghuhn-mengunjungi-bandung-dan-ja\
karta-oktober-2009-januari-2010/
> Salam.
>
> -ekadj



Kirim email ke