Pak Djarot sahabat setia, sebenarnya kalau diperhatikan rekam-jejaknya, Junghuhn lebih mencirikan seorang naturalist, dan bukan humanist. Saya senang mengambil contoh ini karena proven secara pemikiran dan karya, serta kita bisa melihat warisannya hingga hari ini. Sebagai kaum naturalist memang pencariannya selalu melalui tantangan demi tantangan, pembuktian demi pembuktian. Sama seperti filosofinya pendaki gunung, kalau sudah menaklukkan Gunung Sahari di Ancol, maunya menaklukkan Gunung Putri di Cileungsi, dst.
Menurut Nieuwenhuys, Junghuhn berpandangan sebagai: "he rejected the notion of Christian revelation and that of a transcendental godhead". Junghuhn sendiri menuliskan, "I belong to high-vaulted church, the roof of which is strewn with stars, the church of naturalists who worship God and seek to know Him through his works". Jadi diskusinya perlu dikembangkan sampai naturalis-teistis pak, dan cocok untuk fenomena manusia intelektual modern saat ini. Coba dibaca lanjutannya pada link ini<http://books.google.com/books?id=I4I7D3U19OsC&printsec=frontcover&dq=Mirror+of+the+Indies&cd=1#v=onepage&q&f=false> . Kelompok humanis yang sezaman di antaranya Van Houvell dan Eduard Douwes Dekker. Van Houvell melahirkan politik etis kolonial Belanda dan menjadi 'minister to the Malay community'. Dia yang mengungkapkan pendidikan di Hindia Belanda bukan hanya 'poor' tapi juga 'lack of'. Deskriminasi pendidikan ini melahirkan di antaranya the Delft Academy (1842), tempat Mbak Francisca sekolah sekarang; dan baru hampir seabad kemudian dibangun TH di Bandoeng. Kalau Dekker kita sudah kita kenal aliasnya yaitu Multatuli, dan judul bukunya menjadi slogan PLN. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj 2010/6/6 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Pak Eka yang selalu bersemangat, > > Membaca posting tentang Junghuhn saya mulai tertarik. Dia kayaknya ke > lapangan juga dengan spiritualitas penuh dan kepala penuh tetapi mencoba > lebih menghormati "mata murni" yang dimilikinya ya. Meskipun disebut > naturalis atau spiritualis, dan juga menyebut God (siapa yang dimaksudkan > ya), saya kira dia seorang humanis, yang lebih meletakkan kemanusiaan > sebagai sumber kebenaran (percaya pada mata dan tangan). Kami sedang > berdebat tentang humanis-teistis, yang melihat Sang Pencipta ada di setiap > ciptaannya, dan humanis-ateistis, yang mengabaikan Sang Pencipta (God is > dead, katanya, atau no religion orientation). > > Dari posting panjenengan, saya menangkap tokoh kita ini memahami dan > menangkap fenomena yang dihadapinya dengan kecintaan meluap-luap, meskipun > orientasi religionnya kayaknya nggak terlalu eksplisit. Artinya, humanis > merupakan salah satu jalan yang bagus juga untuk menghasilkan ilmu, tanpa > harus dikaitkan dengan religion tertentu, demikian argumentasi teman saya, > sementara saya bertahan pada posisi humanis-teistis (akal dan iman harus > selalu berdialog). > > Demikian sekilas info !!! > > Salam, > > Djarot Purbadi > > --- On *Sun, 6/6/10, ffekadj <[email protected]>* wrote: > > > From: ffekadj <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: Junghuhn > To: [email protected] > Date: Sunday, June 6, 2010, 10:03 PM > > > > > > Referensiers, saya baru nemu asal-usul penulisan Junghuhn dari berbagai > sumber di bawah, sepertinya berasal dari buku "Mirror of the Indies: a > History of Dutch Colonial Literature", karya Rob Niewenhuys (1972). > > Terdapat beberapa catatan lain yang tidak di-republish, seperti sistem > keyakinan yang dianut oleh Junghuhn. Dia memformulasikannya sebagai: "We > believe in the existence of an invisible, great, and reasonable spirit > inhabing nature, and call it God. In order to understand God, one first > has to understand nature and study her laws with every scientific means > possible." > > Sebagai seorang naturalist (: pencinta alam), Junghuhn sepertinya > menjalani ritual spiritualitas dalam setiap survai yang dilakukannya. > Dia menulis sebelum tidur di dalam sebuah gubuk di Jawa: "In front of me > I had put on display the symbols of my faith: a terrestrial and > celestial globe, a sextant, artificial horizon, telescope, chronometer, > termometer, psychometer, a compas, magnet, microscope, Nicholson's > airometer, a tringular prism, portable camera obscura, a daguerreotype > camera, a small chest for doing chemical test, and other such tools of > applied science". Junghuhn tidak pergi fieldwork dengan tangan kosong, > dan selalu jotting (mencatat cepat) dan membuat sketsa dari apa yang > dilihat dan dirasakan. > > Dari semua peralatan Junghuhn, yang masih saya ikuti untuk pergi ke > lapangan adalah kompas dan kamera. Namun belakangan dengan hp N-E71 > saya, semua fitur itu sudah ada, plus fitur gps sederhana. Kalau > teman-teman konsultan saya justru lebih sakti, sering ke lapangan dengan > tangan kosong, asal dompet penuh. ... canda ah. Junghuhn's rule adalah > "to immediately commit to paper all natural objects and views before > their impression could be erased by new objects". Jadi jotting dan buku > notes adalah kunci dalam fieldwork. > > Dalam menggambarkan kecintaannya pada alam, pada suatu ketika di tepi > danau, Junghuhn menulis: "Filled with wonder I looked on, and it seemed > to me I sensed the relationship and sympathy binding all living > creatures ... as I got up from my rocky promontory, I said good night to > the moon, the stars, the lake, the ducks, the forest with its millions > of flowers, buds, and fruits, the galeopithecus, and all the other > animals. Good night. To nature fair and inexhaustible, animated by God's > breath, good night!" ... Saya kira ini dia tulis di tepi Danau > Singkarak. > > Dari eksplorasi yang dilakukannya belasan tahun dan tertuang dalam > beberapa jilid buku, Junghuhn telah membuktikan ilmu pengetahuan bisa > dibuat di bumi Nusantara. Saya menunggu masukan lain, mana nih si lae > dari Groningen? Salam. > > -ekadj > > --- In > [email protected]<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>, > - ekadj <4ek...@...> wrote: > > > > Referensiers ysh. Masih tentang orang Jerman. Salah seorang yang > diapresiasi > > Werner Rutz dalam bukunya adalah Franz Wilhelm Junghuhn. Ternyata > Oktober > > tahun lalu ada perayaan 200th Junghuhn di ITB dan Goethe. Saya agak > > penasaran juga, karena tokoh ini ternyata dihormati oleh berbagai > disiplin > > ilmu di Indonesia, seperti geografi, geologi, geodesi, vulkanologi, > botani, > > industri, dst. Jadi sebenarnya tokoh ini multidisiplin, mmm, mirip > dengan > > julukan salah satu profesi di Indonesia. Profesinya juga beragam, > mulai dari > > militer, dokter, botanist, surveyor, hingga industriawan. > > Karena penasaran, saya sedang mempelajari tokoh ini dari berbagai > sumber. > > Sudah ketemu dua kopi buku asli: > > - Licht- und Schattenbilder aus dem Innersn von Java (1854) > > - Reizen door Java, voornamelijk door het oostelijk gedeelte van dit > eiland > > (1845) > > Katanya masih ada 5 buku lain lagi. Sayangnya semua buku masih dalam > bahasa > > Belanda, butuh teman yang memiliki keahlian bahasa dan minat yang sama > untuk > > membedah metodologi dan pemikiran Junghuhn. Ada yang bersedia? > > Dalam salah satu bukunya saya 'membaca' kalau Junghuhn sangat teliti > > melukiskan gambaran suatu wilayah, malah dilengkapi dengan sketsa > topografi > > yang rinci. Semua dilakukan sendiri, melalui perjalanan belasan tahun > > menyusuri setiap pelosok Sumatera dan Jawa, dari muara sungai hingga > ke > > puncak gunung. > > Salah satu yang dimanfaatkan pemerintah kolonial pada masa itu adalah > > 'klasifikasi musim dan vegetasi Junghuhn', yang melahirkan politik > cultuur > > stelsel. Berarti ini adalah pedoman awal dan terpenting perubahan pola > > pemanfaatan ruang, atau interaksi manusia dan alam di Indonesia, atau > > masuknya pola reproduksi ke dalam alam, menurut versi Claude > Meillassoux. > > Mohon bila ada informasi, analisis, dan link terkait Junghuhn untuk > dapat > > dishare (bisa via japri), seperti bahan2 simposium tahun lalu dll. > > Sebelumnya terima kasih. Saya temukan beberapa link terkait: > > http://id.wikipedia.org/wiki/Franz_Wilhelm_Junghuhn > > > http://omdien.wordpress.com/2007/08/23/fw-junghuhn-bapak-kina-indonesia/ > > > http://geologi.iagi.or.id/2010/01/11/junghuhn-mengunjungi-bandung-dan-ja\ > karta-oktober-2009-januari-2010/<http://geologi.iagi.or.id/2010/01/11/junghuhn-mengunjungi-bandung-dan-jakarta-oktober-2009-januari-2010/> > > Salam. > > > > -ekadj > > > >

