Pak Eka yang selalu bersemangat,

Membaca posting tentang Junghuhn saya mulai tertarik. Dia kayaknya ke lapangan 
juga dengan spiritualitas penuh dan kepala penuh tetapi mencoba lebih 
menghormati "mata murni" yang dimilikinya ya. Meskipun disebut naturalis atau 
spiritualis, dan juga menyebut God (siapa yang dimaksudkan ya), saya kira dia 
seorang humanis, yang lebih meletakkan kemanusiaan sebagai sumber kebenaran 
(percaya pada mata dan tangan). Kami sedang berdebat tentang humanis-teistis, 
yang melihat Sang Pencipta ada di setiap ciptaannya, dan humanis-ateistis, yang 
mengabaikan Sang Pencipta (God is dead, katanya, atau no religion orientation).

Dari posting panjenengan, saya menangkap tokoh kita ini memahami dan menangkap 
fenomena yang dihadapinya dengan kecintaan meluap-luap, meskipun orientasi 
religionnya kayaknya nggak terlalu eksplisit. Artinya, humanis merupakan salah 
satu jalan yang bagus juga untuk menghasilkan ilmu, tanpa harus dikaitkan 
dengan religion tertentu, demikian argumentasi teman saya, sementara saya 
bertahan pada posisi humanis-teistis (akal dan iman harus selalu berdialog). 

Demikian sekilas info !!!

Salam,


Djarot Purbadi

--- On Sun, 6/6/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Junghuhn
To: [email protected]
Date: Sunday, June 6, 2010, 10:03 PM







 



  


    
      
      
      

Referensiers, saya baru nemu asal-usul penulisan Junghuhn dari berbagai

sumber di bawah, sepertinya berasal dari buku "Mirror of the Indies: a

History of Dutch Colonial Literature", karya Rob Niewenhuys (1972).



Terdapat beberapa catatan lain yang tidak di-republish, seperti sistem

keyakinan yang dianut oleh Junghuhn. Dia memformulasikannya sebagai: "We

believe in the existence of an invisible, great, and reasonable spirit

inhabing nature, and call it God. In order to understand God, one first

has to understand nature and study her laws with every scientific means

possible."



Sebagai seorang naturalist (: pencinta alam), Junghuhn sepertinya

menjalani ritual spiritualitas dalam setiap survai yang dilakukannya.

Dia menulis sebelum tidur di dalam sebuah gubuk di Jawa: "In front of me

I had put on display the symbols of my faith: a terrestrial and

celestial globe, a sextant, artificial horizon, telescope, chronometer,

termometer, psychometer, a compas, magnet, microscope, Nicholson's

airometer, a tringular prism, portable camera obscura, a daguerreotype

camera, a small chest for doing chemical test, and other such tools of

applied science". Junghuhn tidak pergi fieldwork dengan tangan kosong,

dan selalu jotting (mencatat cepat) dan membuat sketsa dari apa yang

dilihat dan dirasakan.



Dari semua peralatan Junghuhn, yang masih saya ikuti untuk pergi ke

lapangan adalah kompas dan kamera. Namun belakangan dengan hp N-E71

saya, semua fitur itu sudah ada, plus fitur gps sederhana. Kalau

teman-teman konsultan saya justru lebih sakti, sering ke lapangan dengan

tangan kosong, asal dompet penuh. ... canda ah. Junghuhn's rule adalah

"to immediately commit to paper all natural objects and views before

their impression could be erased by new objects". Jadi jotting dan buku

notes adalah kunci dalam fieldwork.



Dalam menggambarkan kecintaannya pada alam, pada suatu ketika di tepi

danau, Junghuhn menulis: "Filled with wonder I looked on, and it seemed

to me I sensed the relationship and sympathy binding all living

creatures ... as I got up from my rocky promontory, I said good night to

the moon, the stars, the lake, the ducks, the forest with its millions

of flowers, buds, and fruits, the galeopithecus, and all the other

animals. Good night. To nature fair and inexhaustible, animated by God's

breath, good night!" ... Saya kira ini dia tulis di tepi Danau

Singkarak.



Dari eksplorasi yang dilakukannya belasan tahun dan tertuang dalam

beberapa jilid buku, Junghuhn telah membuktikan ilmu pengetahuan bisa

dibuat di bumi Nusantara. Saya menunggu masukan lain, mana nih si lae

dari Groningen? Salam.



-ekadj



--- In [email protected], - ekadj <4ek...@...> wrote:

>

> Referensiers ysh. Masih tentang orang Jerman. Salah seorang yang

diapresiasi

> Werner Rutz dalam bukunya adalah Franz Wilhelm Junghuhn. Ternyata

Oktober

> tahun lalu ada perayaan 200th Junghuhn di ITB dan Goethe. Saya agak

> penasaran juga, karena tokoh ini ternyata dihormati oleh berbagai

disiplin

> ilmu di Indonesia, seperti geografi, geologi, geodesi, vulkanologi,

botani,

> industri, dst. Jadi sebenarnya tokoh ini multidisiplin, mmm, mirip

dengan

> julukan salah satu profesi di Indonesia. Profesinya juga beragam,

mulai dari

> militer, dokter, botanist, surveyor, hingga industriawan.

> Karena penasaran, saya sedang mempelajari tokoh ini dari berbagai

sumber.

> Sudah ketemu dua kopi buku asli:

> - Licht- und Schattenbilder aus dem Innersn von Java (1854)

> - Reizen door Java, voornamelijk door het oostelijk gedeelte van dit

eiland

> (1845)

> Katanya masih ada 5 buku lain lagi. Sayangnya semua buku masih dalam

bahasa

> Belanda, butuh teman yang memiliki keahlian bahasa dan minat yang sama

untuk

> membedah metodologi dan pemikiran Junghuhn. Ada yang bersedia?

> Dalam salah satu bukunya saya 'membaca' kalau Junghuhn sangat teliti

> melukiskan gambaran suatu wilayah, malah dilengkapi dengan sketsa

topografi

> yang rinci. Semua dilakukan sendiri, melalui perjalanan belasan tahun

> menyusuri setiap pelosok Sumatera dan Jawa, dari muara sungai hingga

ke

> puncak gunung.

> Salah satu yang dimanfaatkan pemerintah kolonial pada masa itu adalah

> 'klasifikasi musim dan vegetasi Junghuhn', yang melahirkan politik

cultuur

> stelsel. Berarti ini adalah pedoman awal dan terpenting perubahan pola

> pemanfaatan ruang, atau interaksi manusia dan alam di Indonesia, atau

> masuknya pola reproduksi ke dalam alam, menurut versi Claude

Meillassoux.

> Mohon bila ada informasi, analisis, dan link terkait Junghuhn untuk

dapat

> dishare (bisa via japri), seperti bahan2 simposium tahun lalu dll.

> Sebelumnya terima kasih. Saya temukan beberapa link terkait:

> http://id.wikipedia.org/wiki/Franz_Wilhelm_Junghuhn

>

http://omdien.wordpress.com/2007/08/23/fw-junghuhn-bapak-kina-indonesia/

>

http://geologi.iagi.or.id/2010/01/11/junghuhn-mengunjungi-bandung-dan-ja\

karta-oktober-2009-januari-2010/

> Salam.

>

> -ekadj





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke