Pork barrel sebenarnya sudah diterapkan di beberapa provinsi. Di kepri disebur 
dana alokatif DPRD. Alasan formalnya adalah untuk menampung aspirasi konstituen 
yg disampaikan ketika reses. Alasan sebenarnya adalah untuk memperkuat dukungan 
terhadap partai di level akar rumput.
Dari segi eksekutif, keberadaan dana tersebut menolong dalam mempercepat proses 
persetujuan APBD.
Ketika Golkar mau mengajukan ide tersebut mereka sudah diskusi dgn kami yang 
anggota tim anggaran di daerah. Waktu itu saya hanya menceritakan bagaimana 
agar proses memasukkannya ke APBD. 
Saya sendiri tidak terlalu mendukung karena dalam prakteknya banyak KKN. Banyak 
anggota dewan yg membuat kegiatan fiktip agar dapat ngambil cash. Ada juga yg 
membuat kegiatan yg tidak relevan dan bukan menjadi tanggung jawab provinsi. 
Ini  merepotkan para kepala dinas/badan. 
Ini sekelumit pengalaman dgn dana aspirasi di daerah.
Salam
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Harya Setyaka <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 8 Jun 2010 17:10:50 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

FYI,
-K-



>
> Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia
>
> June 4, 2010 7:08 pm
>
> 
> http://benhan8.wordpress.com/2010/06/04/dana-aspirasi-dpr-pork-barrel-versi-indonesia/
>
>
> Beberapa hari ini kita membaca ataupun mendengar berita mengenai Dana
> Aspirasi DPR yang sebesar 15 miliar rupiah per tahun per anggota. Apalagi
> ini? Bukannya anggota DPR sudah dapat gaji? Apakah ini jenis tunjangan baru?
> Saya akan menulis sedikit berdasarkan apa yang saya tahu mengenai Dana
> Aspirasi DPR ini.
>
> Usulan Dana Aspirasi DPR ini awalnya dicetuskan oleh Fraksi Golkar di DPR.
> Gagasannya adalah setiap anggota DPR akan diberikan jatah alokasi dana
> sebesar 15 miliar rupiah per tahun untuk daerah pemilihannya (Dapil). Dana
> ini akan diambil dari APBN setiap tahunnya. Dengan jumlah anggota DPR 560
> orang, besar anggaran untuk Dana Aspirasi DPR (DAD) ini mencapai nilai 8,4
> triliun per tahun.
>
> Apa alasan di balik usulan DAD ini? Sederhana jawab Fraksi Golkar, yaitu
> mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan pembangunan dan percepatan
> turunnya dana pembangunan ke daerah yang selama ini dirasakan masih kurang
> memuaskan. Apakah benar motif di balik usulan DAD ini adalah keprihatinan
> anggota DPR terhadap rakyat di daerah? Atau ada udang di balik batu? Mari
> kita bahas bersama.
>
> Dana Aspirasi DPR ini bila dianalisa sangat mirip dengan ”pork barrel
> budget” di Amerika Serikat (AS).  Apa itu pork barrel? Kok daging babi
> dibawa-bawa dalam anggaran pemerintah, demikian mungkin pertanyaan Anda.
> Pork barrel memang adalah istilah dengan konotasi negatif yang dipakai untuk
> mengejek praktek budgeting pemerintah pusat (Federal) AS untuk proyek-proyek
> di distrik anggota Congress (setara DPR) yang terpilih. Istilah “pork
> barrel” ini mengacu pada praktek tertentu di era sebelum Civil War (perang
> saudara) AS. Saat itu ada praktek memberikan budak kulit hitam se-barrel
> (gentong) “salt pork” (sejenis makanan dari daging babi mirip bacon) sebagai
> hadiah dan membiarkan mereka memperebutkan hadiah tersebut. Istilah ini
> dipakai karena budgeting pemerintah oleh anggota Congress untuk Dapil-nya
> mirip praktek tersebut. Konstituen di daerah seakan “budak yang dibeli” dan
> berebut dana anggaran tersebut. Dana pork barrel digunakan politisi Congress
> untuk “membayar balik” konstituennya dalam bentuk bantuan dana untuk
> proyek-proyek di daerah pemilihannya. Membayar balik dalam pengertian
> membalas dukungan politik yang didapatkannya sebelum ia terpilih, baik
> dukungan dalam bentuk suara pemilih (vote) ataupun kontribusi dalam kampanye
> politiknya.
>
> Pork barrel adalah praktek yang lazim dalam politik AS namun dikecam
> publik. Anggaran Federal (pemerintahan pusat) berasal dari uang pembayar
> pajak yang taat pajak namun juga memiliki tuntutan tinggi terhadap
> penggunaan uang pajak. Mereka tidak terima apabila uang pembayar pajak
> diboroskan untuk proyek-proyek yang tidak bermanfaat. Contoh penggunaan pork
> barrel yang kontroversial antara lain pembangunan jembatan di Negara Bagian
> Alaska. Jembatan yang menghubungkan hanya 50 penduduk di sebuah desa di satu
> pulau ke lapangan terbang tersebut dijuluki Bridge to Nowhere (saking tidak
> bermanfaatnya) menghabiskan anggaran Federal sebesar 398 juta US$.
>
> Pork barrel spending telah demikian mengakar di dunia perpolitikan AS
> sehingga walaupun dikecam tetap jalan. Saking mengakarnya praktek ini,
> anggota Congress AS akhirnya dinilai berdasarkan kemampuan mencairkan dana
> pork barrel untuk konstituennya. Yang berhasil mendapatkan dana besar dari
> Federal akan mendapatkan kemungkinan tertinggi untuk dipilih kembali pada
> pemilu berikutnya. Jadi pork barrel digunakan untuk melanggengkan status quo
> anggota Congress, sarana politik untuk mengamankan posisinya untuk pemilu
> berikutnya.
>
> Selain dikecam akibat pemborosan dan anggaran yang tidak tepat sasaran,
> pork barrel budget juga dikritik karena sering terjadi korupsi dan kolusi
> dalam praktek pencairan dana. Anggota Congress disinyalir menerima
> “kickback” (uang persenan) dari proyek-proyek yang berhasil digolkannya. Ada
> juga yang mendapatkan komisi dari pemerintahan daerah atau calo pemerintahan
> daerah (lobbiers). Karena liarnya anggaran ini, perwakilan dari daerah akan
> berebut sebagaimana budak-budak kulit hitam berebut hadiah salt pork. Dan
> karena begitu besar kuasa anggota Congress untuk menentukan alokasi dana,
> masing-masing perwakilan daerah akan menawarkan komisi yang tinggi demi
> suksesnya pencairan dana untuk kepentingan mereka.
>
> Apabila pork barrel budget diterapkan di sini dengan nama Dana Aspirasi
> DPR, hal itu berarti kita telah mencontoh politik modern AS. Sayangnya yang
> dicontoh adalah bagian yang jeleknya, praktek korupsi kolusi yang dilegalkan
> lewat kerjasama politik. Sebuah ironi di kala politisi kita sibuk mengkritik
> praktek neoliberalisme dalam kebijakan perekonomian AS.
>
> Selain masalah nilai-nilai kepantasan, DAD juga telah “berdosa” sebelum
> dilahirkan. Dosanya adalah melanggar UU No. 17/2003, UU No.1/2004 dan UU
> No.33/2004.
>
> UU 17/2003 menyebutkan kekuasaan pengelolaan keuangan negara ada pada
> Presiden dan dikuasakan pada Menteri, diserahkan kepada Gubernur/ Bupati /
> Walikota, bukan pada DPR. UU tersebut juga telah mengubah paradigma
> budgeting dari sistem lama yang berdasarkan input menjadi sistem baru yang
> berdasarkan kinerja periode sebelumnya. DAD malah akan mengembalikan
> paradigma lama.
>
> UU 1/2004 menyebutkan pengguna Anggaran bertanggung jawab kepada Presiden/
> Gubernur/ Bupati/ Walikota. Pengguna di sini adalah Kementerian dan Lembaga
> eksekutif. DPR sebagai lembaga legislatif tidak diatur dalam UU untuk
> menggunakan Anggaran. Kembali DAD melanggar UU ini.
>
> UU 33/2004 mengenai asas dana perimbangan yang mencakup desentralisasi,
> dekonsentrasi dan tugas pembantuan. DAD menafikan prinsip desentralisasi
> karena alokasi anggaran dibuat oleh DPR yang ada di pusat. Hal ini melanggar
> prinsip otonomi daerah di mana Pemda dan DPRD-lah yang menyusun anggaran
> untuk daerahnya (APBD).
>
> Selain telah melanggar hukum, DAD juga disinyalir tidak dapat mencapai
> motif awalnya yaitu pemerataan pembangunan dan pertumbuhan daerah. Mengapa?
> Karena DAD diberikan berdasarkan jumlah wakil rakyat per Dapil. Dapil di
> Jawa lebih banyak daripada Dapil di pulau lainnya sehingga jumlah wakil
> rakyatnya paling banyak. Sementara itu daerah yang miskin di Indonesia
> umumnya adalah daerah-daerah terpencil dengan jumlah wakil rakyat yang
> relatif lebih sedikit. Dengan demikian daerah yang miskin akan mendapatkan
> DAD dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibanding daerah yang relatif lebih
> makmur. Sebagai contoh, DKI Jakarta yang memiliki angka kemiskinan terendah
> yakni 3,62 persen akan memperoleh dana aspirasi Rp 315 miliar, sementara
> Maluku yang angka Kemiskinannya 28,3 persen hanya mendapat dana aspirasi Rp
> 90 miliar. Jelas usulan ini bertentangan dengan logika pemerataan  yang
> diungkapkan DPR.
>
> Kesimpulannya DAD tidak lain adalah politik pork barrel untuk menjaga
> status quo anggota DPR dengan cara membayar balik jasa konstituen dalam
> kampanye sebelumnya dengan menggunakan uang negara. Dengan cara tersebut
> anggota DPR akan mempunyai nama harum di Dapil-nya dan memperbesar
> kemungkinan ia terpilih kembali di pemilu berikutnya. Praktek seperti ini
> sudah dilegalkan di AS dan Filipina dan terbukti memang itulah tujuannya.
> Motivasi yang seakan mulia hanya digunakan sebagai bungkus taktik politik di
> balik pengusulan DAD ini.
>
> Hendaknya fraksi-fraksi di DPR menolak usulan dari Fraksi Golkar ini
> kecuali memang niatnya adalah mengikuti langkah oportunis Golkar. Menteri
> Keuangan Agus Martowardojo juga harus menolak ide ini dan memberikan
> penjelasan ke publik alasan penolakan. Apabila alasan penolakan sebagaimana
> yang telah dijelaskan di atas dapat dikemukakan dengan baik, niscaya publik
> akan setuju dan memberikan apresiasi kepada pemerintah. Saat ini beberapa
> LSM seperti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) telah
> menolak usulan DAD Golkar ini.
>
> Silakan informasi ini didiskusikan dan disebarkan bila dirasa bermanfaat.
> Pendidikan publik mengenai langkah oportunis politisi Senayan ini
> dibutuhkan, untuk memastikan wakil rakyat kita tidak menyalahgunakan
> kekuasaan dengan melanggar prinsip-prinsip keadilan dan hukum di negeri ini.
>
>
>  
>

Kirim email ke