Ibu Ida yg baik nan tangguh

Saya setuju sekali semuanya.
Membangun sistem yg memperkecil kemungkinan korupsi itu gak mudah, tp gak 
berarti mustahil. Butuh nyali dan kreativiti mungkin ya. 

Kembali ke topik anggaran dana aspirasi/alokasi ini. Apakah begitu putus asanya 
kita ingin mempercepat persetujuan APBD, sehingga proses alokasinya kemudian 
jadi berasaskan 'entertaining anggota partai yang ingin memuaskan konstituennya'

Jadi asas akuntabilitas publik langsung lenyap terkompromi. 
Kecuali memang proses alokasinya kemudian masuk ke dalam proses planning and 
budgeting yg sesungguhnya,... 
Kalaow alokasi ke dapil emang dibuat berdasarkan norma perencanaan dan 
penganggaran sih oke aja. Artinya, kebutuhan akan pembangunan di dapil itu 
memang teridentifikasi dengan jelas, kemudian program aktivitasnya terumuskan 
dengan jelas, dll. 
Jadi ketika melaporkan penggunaan APBN/APBD yg notabene uang rakyat, ya 
alasannya jelas, krn kebutuhan pembangunan. Bukan kebutuhan meng'entertain' 
supaya cepat persetujuan APBD.
Memang harus mau capek. Jangan cuman sekedar tulis cek 1 milyar, that's it, 
silahkan habiskan.. Jadinya sistem perencanaan dan penganggaran jadi seperti 
disepelekan.
Anggota parlemen emang haris capek2 kalau mau memperjuangkan dapilnya. Kepala 
dinas juga harus capek memastikan bahwa APBD itu memang diapke utk pembangunan.

Itu recehan saya sih

smoga ibu Ida sehat selalu dan dpt terus berkarya di daerah. Doa saya sama 
seperti Bang Fadjar, untuk ibu Ida.

Salam
Dwiagus
gak pernah kerja di pemda.


»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ida gumelar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 14:52:41 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Persoalan korupsi di pemda itu cukup kompleks dan memerlukan ekstra nyali untuk 
melawannya krn sudah sangat sistemik. Namun bukan berArti tidak bisa.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa  dorongan bagi pejabat untuk korupsi sangat 
tinggi dan sulit dikendalikan karena itu terkait dgn sistem politik dan  sistem 
sosial masyarakat. 

Yang kita bisa kita lakukan adalah  mempersempit  peluang untuk korupsi  
melalui:
Pertama, sistem lelang on-line (fully electronic, bukan yg semi) dapat 
mengurangi peluang untuk kolusi. Kedua, perjAlanan dinas sisten at cost, dapat 
mengurangi fiktif. 
Ketiga, transaparansi dalam pemberian bantuan sosial, beasiswa dan bantuan 
modal dengan mengumumkan secara luas syarat dan prosedur serta siapa saja yang 
menerima. 
Keempat, sistem pelayanAn satu atap dan online. 
Kelima, pelayanan samsat yg online. 
Keenam sistem pengaduan (sms center)
.
Membangun sistem2 seperti itu secara teknis mudah. Biayanya pun tdk terlalu 
mahal. Yang susah adalah mendapatkan dukungan dr gub dan DPRD untuk membangun 
dan menerapkannya. Salah2 langkah anda bukan hanya terjungkal dari jabatan, 
juga keluarga diteror.  

Bisa dibayangkan sedihnya, ketika semua yang sudah berjalan baik tapi 
dihentikan hanya demi mendukung si nyonya yg ikut pilkada. Sistem at cost 
dikembalikan ke sistem lumpsum, promosi jabatan melalui assessment center 
dihentikan, pelayanan samsat harus ketemu muka lagi, dll. Seharusnya lebih 
banyak yg menolak. Sayangnya, justru banyak yang ambil kesempatan untuk dapat 
keuntungan.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Benedictus Dwiagus S." <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 14:11:41 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia


Saya rasa gak ada yg meragukan story yg ibu Ida sampaikan adalah real. 
Kenyataannya seperti itu apa adanya. Gak ada yg seems unreal di sana. Tapi 
apakah itu yang semestinya terjadi?

APBD/N saya rasa bukan untuk mengentertain parlemen. Itu menurut saya sih. 
Kalau lantas itu yang terjadi, apa kita lantas tidak bisa cari akal utk mencari 
jalan lain... Seolah itu satu2nya jalan...

Kegagalan kita memberantas korupsi saya rasa karena kita begitu menerima begitu 
saja keadaan sebenarnya. 
Kasarnya:" yah memang keadaannya seperti itu, so be it lah...."

Itu recehan saya sih, yang memang gak pernah kerja di Pemda

Salam
Dwiagus. 

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ida gumelar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 13:50:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Buat yg tidak pernah bekerja di pemda, our story seems unreal. Tapi 
kenyataannya begitulah.

Kegagalan kita memberantas korupsi krn kita kurang memahami keadaan yang 
sebenarnya.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Benedictus Dwiagus S." <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 09:33:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Mestinya bukan dari APBN/APBD dong krena itu anggaran pembangunan,..
Kalau ini anggaran entertainment kayaknya, masuk dalam hospitality costnya 
partai.

Hehehhee
.

»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "ida gumelar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Jun 2010 02:35:56 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Dear all, pengalaman di Kepri lebih kurang sama dgn di DIY. 

Proses APBD bisa cepat dan bisa lama, tergantung pada beberapa faktor, antara 
lain seberapa besar keinginan gubernur, seberapa besar pula keinginan pimpinan 
dewan sebagai reaksi terhadap keinginan gubernur. Jika kesepakatan bagi kue 
antara kedua fihak cepat dicapai, cepat pula proses pengesahan APBD.

Kesepakatan biasanya dibahas dlm pertemuan informal. Di pertemuan formal 
tinggal pengesahannya saja (mungkin krn  ada CCTV, he he he). ini diluar dana 
alokatif.  

Peranan dana alokatif lebih untuk menghibur anggota biasa. Mereka bisa 
menggunakan dana untuk proyek2 kecil di dapilnya. Konstituennya happy ikut 
kecipratan. 5 thn lagi dukung dia lagi.
Pemilu yg lalu kelihatan, yg dananya dimakan sendiri, tdk sampai ke konstituen, 
kehilangan suara banyak.

Dulu, sebelum ada dana alokatif, kpl dinas/badan yg pusing ngatur agar 
permintaan konstituen yg kecil2 dipenuhi.

Pengalaman 4 tahun jadi anggota tim anggaran eksekutif memberi banyak 
pengalaman yg tdk mungkin saya dapatkan kalau bekerja di departemen.

Salam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "[email protected]" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 9 Jun 2010 12:12:58 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Dana Aspirasi DPR, Pork Barrel versi Indonesia

Cak Andri,

Cak Andri menanyakan ke bu Ida yang cantik :

Menarik sekali pengalaman Ibu Ida. Apakah ibu mengetahui bagaimana caranya dana 
tersebut "mempercepat" proses persetujuan APBD (oleh DPRD?)?

Saya berdasarkan pengalaman selama 7 tahun di propinsi, ternyata proses APBD 
bisa sangat sangat sangat dipercepat. Tetapi juga bisa sangat sangat sangat 
lambat ..... 

.....prinsipnya adalah bagaimana memenuhi hasrat anggota legislatif untuk 
mendapatkan tambahan revenue dengan segala macam cara dan usaha sehingga si 
anggota legislatif tersebut bisa memenuhi keinginan konstituennya yang selalu 
ngrumpi dan ngarariung (bahasa sunda yang berarti berkumpul) di kantor fraksi 
untuk meminta sumbangan.

Sehingga kalau diformulasikan adalah :

     Cp = f (Jka, Jke, Tab, tKk)
dimana :

   Cp = cepatnya proses APBD
   Jka = jumlah kebutuhan anggota legislatif yang bisa diderivasi kepada jumlah 
fraksi yang butuh
            (semakin banyak fraksi yang minta semakin cepat), jumlah anggota 
yang butuh ....
            ini berarti kalau faksi besar (jumlah anggotanya banyak) tapi 
tunggal ... lebih sulit 
            diprosesnya dibandingkan dengan yang fraksinya lebih banyak .
   Jke = jumlah kebutuhan eksekutif ... semaki nkecil semakin cepat
   Tab = Total anggaran belanja yang dibicarakan ... semakin besar semakin lama
   tKk = tingkat kontroversi kegiatan ... semakin kontroversi kegiatan semakin 
lama prosesnya

Nah untuk itu common denominatornya adalah jumlah anggaran yang dititipkan ke 
eksekutif ... artinya anggaran legislatif yang dititipkan ke eksekutif ... hal 
ini disebabkan karena adanya PP 11/2000.

Mungkin Cak Andri bisa sedikit melihat fungsi tersebut karena pengalaman 
empirik saya di Jogja. 

Salam

bambang sp

Kirim email ke