Cak Andri dan bu Ida ytc, Tentang budaya, apa yang ada di Kepri itu sebenarnya juga terjadi di Jogja dengan pola yang disesuaikan. Saya mau mencoba menyampaikan bagaimana konsep itu dan bagaimana ini bisa diformulasikan dalam bentuk model tersebut.
Saya mencoba mencuplikkan pesan leluhur Jawa (Kiageng Nis yg menjadi salah satu leluhur Dinasti Mataram Islam) tentang bagaimana menjadi pemimpin. Dalam sebuah risalah yang disebut dengan Sapta Chandra. Disana pedoman hidup seorang pemimpin akan reformulasi menyesuaikan kondisi yang ada saat ini. Munculnya adalah seorang pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang royal kepada bawahan dan konstituen. Padahal untuk royal butuh dana .... dimana mengambilnya? ya korupsi. Jadi sebenarnya korupsi di Indonesia itu DILINDUNGI oleh sistem budaya kita. Mohon maaf kalau saya keliru mengambil kesimpulan. Buktinya, seorang pemimpin yang royal akan sangat dibela meskipun dia berbuat keliru. Ungkapan : ah nggak apa2 dia mengambil itu toh untuk rakyat ... kalau talang air basah itu wajar. dlsb dlsb. Jadinya adalah permisivisme yang berkelanjutan. Salam bsp

