Hormat,
Spy tidak bias brkali perlu dipertimbangkan juga bhw  pertama ….reurbanisasi 
Jkt juga amat sangat banyak disumbang oleh pembangunan keruangan ‘nonformal’ yg 
dilakukan oleh penduduk perorangan spt pembangunan rumah petak/ kontrakan dan 
kamar2 kos utk secara praktis menjawab kebutuhan jangka pendek keruangan 
(selain bagi  students) sikecil para pekerja disektor informal spt para pekerja 
toko dan perusahaan2 kecil yg jumlahnya jelas melebihi total pekerja disektor 
formal yg sebagiannya telah ber-suburbanisasi justru krn besaran gajinya dan 
permanent employmentnya lolos syarat KPR dan mampu mencicil beli rumah 
disuburbans dan kini masih dalam jumlah eksklusif bereurbanisasi dgn menghuni 
rumah2 apartemen ……
Kedua …..angka urbanisasi kita memang secara nasional terus merangkak naik dari 
semula kurang dari 20% (1980) menjadi kini sedikit diatas angka 50% ….dan tak 
bisa lain Jkt tetap menjadi kota tujuan utama urbanisasi nasional …..jadi 
sumbangannya terhadap urbanisasi nasional ya tetap saja masih yg  terbesar 
…….salam

--- On Tue, 6/15/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Urbanisasi Jakarta
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 15, 2010, 8:06 AM


  



Pak BTS, selain faktor rumah susun dll juga perlu dicermati perkembangan tempat 
tidur susun, peralihan fungsi ruang tamu dan ruang makan menjadi kamar tidur, 
dll. Salam.


2010/6/14 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>


  








Dear all.
 
Jakarta mengalami pertumbuhan urbanisasi (dalam arti perpindahan penduduk ke 
Jakarta)  yang sangat pesat pada dekade 1961-1990. Pertumbuhan paling pesat 
dialami pada periode 1961-1970 dengan laju pertumbuhan 4,46%, kemudian mulai 
melambat pada periode 1970-1080 dengan laju pertumbuhan 3,93%, dan terus 
melambat sampai pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2,41%. 
Perlambatan pertumbuhan itu karena implikasi dari perubahan fungsi pemukiman 
menjadi non-permukiman yang dialami mulai dari Jakarta Pusat dan kemudian 
diikuti pada periode berikutnya pada Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta 
Barat, dan Jakarta Timur. 
 
Mulai tahun 1990, perubahan fungsi dari permukiman menjadi nonpermukiman 
berlangsung sangat dramatis hingga banyak penduduk yang berpindah ke luar 
Jakarta dan mukim di periferi Bodetabek hingga laju pertumbuhan pada periode 
1990-2000 menjadi sangat rendah yaitu menjadi 0,16%.Perubahan fungsi yang 
sangat mencolok terutama terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta 
Timur.
 
Berdasarkan Sensus 2000, pada laju pertumbuhan 0,16% tersebut, jumlah penduduk 
Jakarta pada posisi sekitar 8,4 juta. Kemudian pada hasil sementara Sensus 2010 
tercatat penduduk Jakarta sebesar 9,5 juta. Ini artinya laju pertumbuhan 
penduduk naik kembali dari 0,16% pada tahun 2000 menjadi 1,3% pada tahun 2010. 
Padahal perubahan fungsi perumahan menjadi non perumahan terus berlangsung dan 
bahkan semakin banyak terjadi di seluruh Jakarta. Lantas mengapa jumlah 
penduduk yang semestinya semakin berkurang, tetapi justru belakangan ini 
menjadi naik?
 
Menurut saya ini fenomena yang cukup menarik karena selama 4 periode 
(1961-2000) kecender ungan ada de-urbanisasi (laju pertumbuhan yang menurun) 
sebagai akibat perubahan fungsi perumahan menjadi non perumahan, tapi 2000-2010 
ada gejala 
re-urbanisasi dengan suksesi fungsi non perumahan terus berlangsung. Ada apa 
gerangan?
 
Ini dugaan bahwa re-urbanisasi ini mungkin akibat tumbuhnya apartemen dan rusun 
(baik milik maupun sewa) yang terus semakin berkembang di Jakarta sehingga 
jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta meningkat kembali. Bagi planner tentu 
akan menjadi perhatian apa implikasi kebijakan tata ruang dengan adanya 
re-ubanisasi di Jakarta ini.
 
Demikian, sekedar analisis ringan dengan hanya melihat beberapa data dan angka.
 
Thanks. CU. BTS.







      

Kirim email ke