Bu Cut, mmg benar yg merencanakan BSD adalah swasta dan itu termasuk mas BTS 
lho, lalu ada Pingky Pangestu dan Jo Santoso ... Mrk anggota milist ini tdk? 
Kaitannya dg pemerintah adalah dlm perenc. regionalnya. Waktu itu ada tim yg 
diminta menyusun renc regional namanya JMDP alias Jabotabek sbg pelaksanaan 
Inpres 13/76. Tapi renc itu tdk pernah ditetapkan dg peraturan. Baru sebagian 
dr Jabotabek terdiri dr 14 kec yg ditetapkan th. 92 melalui Renc  Bopunjur. 
Mungkin ini bisa sedikit me refresh teman2
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 25 Jun 2010 22:46:29 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK, soal BSD


Mbak Cut, setahu saya BSD itu tidak direncanakan oleh Pemerintah. Yang 
merencanakan dan yang membangun semua swasta. Pemerintah daerah hanya 
meng-iya-kan dan dapat pajaknya saja.
 
Berkembangnya BSD akibat spill-over Jakarta. Kalau nggak ada Jakarta, BSD ya 
nggak jadi apa-apa.
 
Thanks. CU. BTS.
 

--- Pada Jum, 25/6/10, cut safana <[email protected]> menulis:


Dari: cut safana <[email protected]>
Judul: Re: Bls [referensi] Fw: KEK
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 25 Juni, 2010, 11:06 AM


  





Pak Aby, Pak Nuzul Ysh,
Terima kasih pencerahannya, mudah-mudahan penjabaran Pak Aby dan Pak Nuzul akan 
terwujud. Namun walau bagaimanapun  faktor efektifitas dan efisiensi tetap 
menjadi salah satu dasar  pertimbangan pilihan pengembangannya.  Contohnya, 
maaf,  mungkin bukan suatu perbandingan yang tepat dan pengamatan hanya secara 
general, tanpa dasar teori apapun. Perbedaan Batam dan BSD -Tangerang, walau 
infrastruktur sudah dibantu dibangun di Batam, namun harga lahan masih rendah 
(tidak ada 25 %nya Singapura), investasi masih tersendat, belum menggembirakan. 
Sebaliknya  BSD (yang direncanakan oleh Pemerintah juga), tanpa dibantu 
infrastrukturnya, dapat sedemikian berkembang, 2-3 tahun terakhir dibangun 
jalan bebas hambatan). Kita berdo'a semoga pengembangan KEK ini dapat 
mengangkat perekonomian di Indonesia baik skala nasional maupun regional/lokal, 
praktis dapat mengurangi jumlah pengangguran  sekaligus menurunkan persentase 
angka kemiskinan. 
Salam hangat.




From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, June 25, 2010 8:15:57 AM
Subject: Re: Bls [referensi] Fw: KEK

  


 
Pak Aby, Ibu Cut Savana dan Sahabat Referensiers,
 
Menyambung apa yang disampaikan pak Aby, kebetulan  saya berada dalam rapat 
koordinasi hari Senin pagi di Kantor Menko Perekonomian. Sebatas yang mungkin 
boleh disampaikan (apalagi referensier adalah komunitas yang patut 
dihormati), Menko perekonomian antara lain mengusulkan agar muncul semacam 
pusat pertumbuhan baru, dan itu searah dengan apa yang diinginkan 
oleh Bappenas. 
 
Muncul pemikiran mungkinkah kita kembangkan pusat pertumbuhan baru di Sulawesi 
Tengah (dengan basis gas alam Donggi-Senoro) , ditambah lagi dengan sumber gas 
baru oleh Chevron di Selat Makasar.. nah kenapa nggak kita munculkan sebuah ide 
agar muncul ada LNG, ada pabrik pupuk dan petrokimia lainnya di sekitar ladang 
gas tersebut. Seperti kayak Bontang lah begitu, ada kilang LNG, ada Pupuk 
Kaltim, dst. Bedanya, kalau dulu LNG Bontang untuk ekspor, sekarang 
paradigmanya sudah berubah, gas terlebih dahulu diberikan prioritas untuk 
domestik.
 
Pemikiran ini sama sekali tidak ada dalam 48 KEK yang diusulkan daerah... ini 
pandangan ke depan. Dalam waktu dekat akan muncul perspektif  pengembangan  
Energi Baru dan Terbarukan (Green Energy) dalam konteks Pengembangan  Daerah. 
Pengen saya pribadi sih komunitas Referensiers adalah pendukung green energy 
dalam pembangunan daerah he he...
 
Salam hangat selalu
 
Nuzul Achjar  
 
 
 
 
 
 








Kirim email ke