Bpk BSP ysh, Waduh ……matur sembah nuwun sanget ….mekar rasanya hidung saya mendapat pujian atau dukungan dari Bapak utk soal countermagnet city …..walau utk detilnya kita sendiripun bisa saja masih akan saling beda ……namun ini jelas menjadi tambahan amunisi yg luar biasa ampuhnya bagi saya utk berdebat selanjutnya ……sekali lagi matur sembah nuwun …...salam, aby Selanjutnya pak BSP pd Selasa, 20 Juli 2010 1:18 AM menulis : ++++: “….Mas Risfan, Saya coba sedikit merespon ya? (1) sebaran pembangunan "national/regional" , tapi dilemanya: mendiscourage pertumbuhan metro berarti mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional…….”. >>>>: Maka dari itu perlu dipilih langkah2 yg tidak mendiscourage pertumbuhan >>>>metro/megapolitan Jabodetabek alias tdk mengganggu pertumbuhan ekonomi >>>>nasional ……oleh krn itu apa yg berulang2 saya tawarkan adlh bgmn “menyemai >>>>‘pecahan kecil’ industri nasional memimpin” pd lokasi countermagnet city >>>>itu ………dan samasekali bukan langkah2 relokasi total industri2 …hanya >>>>memindahkan 1 per 8 kapasitas industri manufaktur spd motor yg 6,5 juta >>>>unit per tahun (hanya 750.000 unit spd motor) ke Mks samasekali bukanlah >>>>perkara heboh ……namun ia akan dpt menjadi awalan kultur industrialisasi >>>>manufaktur perkotaan yg pasti, dgn multiplier effect yg meyakinkan di KTI >>>>……..jadi disini samasekali tak akan terjadi gonjang ganjing pertumbuhan >>>>perekonomian/ perindustrian nasional kita karenanya …….salam, aby
--- On Tue, 7/20/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja To: [email protected] Date: Tuesday, July 20, 2010, 12:41 AM Mas BTS, Eyang Aby, rekans ysh. Mengikuti diskusi mas BTS dan eyang Aby ttg kemacetan ini. Pemikiran eyang Aby dg pola counter magnet bukanlah pemikiran baru dan sebenarnya sangat rasional. Bahkan waktu itu terbangun suatu konsep kota inti, kota dorm (dormitory town), baru counter magnet. Kota inti adalah Jakarta, dormitory adalah kota yg berjarak 30-45 km dr jakarta, sdg counter magnet adalah yg diatas 60 km. Waktu itu basis konsepnya adalah 1-1,5 jam perjalanan. Saya nyoba ngingat apa yg dulu pernah disepakati. Ada konsep yg sangat jelas dlm JMDP yg juga diadopt dlm RUTR DKI 1985-2005. Konsep itu menyebabkan adanya pusat barat dan timur dg pemindahan kantor walikota kesitu. Konsep lbh lanjut juga sangat jelas mengembangkan pola jaringan arterial yg melingkar sampai 3 lapis baik intra urban free way, outer ring road dan second ORR. Setelah itu dibangun jalur radial timur barat sebagai jalur utama (alasan selatan ditahan utk kawasan resapan). Lbh lanjut juga disepakati adanya shifting dr kendaraan pribadi ke pub transport (tahun 1985 msh 12% ke minimal 20% thn 2005) berbasis kombinasi HRT (heavy railway) dan LRT (lite railway). Waktu itu kemudian dikembangkan daerah dorm yg dimulai Pd. Indah, Bintaro, Kelapa Gading. Bahkan BSD, Depok, Kota Baru Bekasi (sekarang terpecah2 menjadi bbrp developer). Utk counter waktu itu dipilih Cikarang dan Karawang di timur, Bogor di selatan, Balaraja di barat. Karena itu dibangun masive industry. Kita lihat konsep eyang Aby sangat sejalan dg konsep itu. Dan itu kayaknya masih sejalan dg apa yg terjadi saat ini. Tapi mari kita lihat mengapa macet justru makin terjadi. Saya punya bbrp alasan yg mungkin ini penyebabnya : 1. Kebijakan shifting dr private car ke public transp/mass transport yg direncanakan dan ini saya prejudis krn lobi industri kendaraan motor baik DN maupun LN (kasusnya persis di US). Kebijakan biased non railway system. 2. Konsistensi sistem pengembangan makro Jabotabek yg sebenarnya lbh timur-barat sekarang sudah tdk terarah. Contohnya adalah pengembangan masive di Ciputat sampai Cibubur. Ini dulu disepakati kosong. Akibatnya kawasan diantara itu langsung tumbuh. Ini misalnya di sekitar tanjung barat-lebak bulus. Dulu itu diharamkan eh sekarang dijadikan kawasan bisnis baru. Apalagi akibat dilengkapinya ring road dg jalan samping yg berfungsi sebagai feeder tapi justru menciptakan potential trip generator baru lagi. Akibatnya masyarakat berduyun2 bangun rumah dan kantor/jasa disana. Akibat parahnya adalah ada masive conflict pergerakan utara-selatan dg timur-barat yg menciptakan perlambatan tak perlu. 3. Ketidak konsistenan lebih lanjut bahkan dr pemda DKI sendiri. Dulu disepakati bahwa penekanan pertumbuhan adalah di zona 3 saja dan Zona 1 dipinggir pantai harus dipreserved. Yg terjadi adalah ada bbrp perubahan RBWK sampai bbrp kali dari hijau menjadi kuning dan merah. Sehingga pertimbangan yg seharusnya toll sudiyatmo aman utk 30 th jadi langganan banjir krn retarding basin disekitar jalan hilang. 4. Secara makro nasional, ada juga ketidak konsistenan. Semula mereka sepakat utk lbh mendorong kota2 ke 2 samai 5 bahkan secondary cities didorong berkembang ternyata tidak dilakukan dg persistence. Kayaknya lbh ngikuti keinginan industriawan yg berfikir short cut sekali. Dulu bu Yati punya segudang konsep pengembangan perkotaan bahkan kita punya tim kebijaksanaan pengembangan perkotaan. Tapi, tidak sampai masuk pd kebijakan sektor2. Dengan semua alasan ini, saya hanya bisa mengatakan bhw Jakarta perlu ada sebuah perubahan total yg kembali second bersama dibuat perenc bersama nasional dan lokal. Kemudian buat dlm UU khusus dan sifatnya jangan hanya RUTR tapi RUPD (rencana umum Pembangunan Daerah). Mungkin ini baru bisa. Krn problem dasar kemacetan adalah KONSISTENSI. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Sender: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tue, 20 Jul 2010 14:18:51 +0800 (SGT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Dear referensiers Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika yang sama pula bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" kemacetan? Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. Juga kota-kota metro di negara-negara lain tidak harus macet seperti Jakarta ini tanpa harus ada pengembangan countermagnet. Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat tentunya. Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah! Thanks. CU. BTS. --- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> menulis: Dari: SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham apa itu angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah fasilitas sudah mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas martabak. Pada hemat saya, selama koordinasi perencanaan dan penanganan masalah hanya sebatas pertemuan bibir atas dan bawah, selama itu pula kemacetan akan tetap tak teratasi. Apalagi rencana jangka panjang tak pernah teripikirkan karena terbelenggu masa jabatan. Ma'af tak pernah ikut omong, ini hanya ledakan kesebalan. WASSALAM "SW" From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com> Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Milisters ysh, Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik …yg dimulai dengan ‘serangan’ DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan Jkt – sesuatu yg menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu kampanye pilgub waktu itu ……yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan “…mengatasi kemacetan Jkt itu tak semudah bikin martabak bung…” ….begitu serangan balik dari Gub DKI kpd DPR…… Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau kalau mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya ……DPR mengira kemacetan itu dpt diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana lalu ia dipandang mrpkn tgjwb Gub DKI ……sementara itu para Gub DKI (termasuk juga para cagub) umumnya jg bersikap arogan dgn selalu memandang kemacetan Jkt memang dpt diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja ……dan tak diperlukan peran kota2 lain spt ttg perlunya dikembangkan countermagnet city atau pengembangan kota besar lain serta penyemaian industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan migrasi yg saat ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabek…… Bhw DPR ‘memikirkan’ kemacetan Jkt …itu samasekali tdklah salah ….krn apa2 yg menjadi masalah serius bagi masyarakat, bangsa dan negara tentu itu termasuk dlm lingkup pemikiran pd umumnya negarawan…..baik eksekutif maupun legislatif …… Yg lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir menyederhanakan masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di Jkt dan sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya hitamnya ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) …….. Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR) masih sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari urbanisasi dan migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya industrialisasi maupun juga lokasi2 industri nasional memimpin di Jabodetabek maupun banyak jenis foot loose industries yg berlokasi ‘memusat’ di Jawa ……dan mrk belum pada mau berpikir ttg perlunya mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi berupa penyemaian industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 juta unit per tahun dan ke-3 terbesar dunia …….yg kenapa ia hrs seluruhnya diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi …..dan bukannya 1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon countermagnet city di KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan dampak2 ganda yg luas diberbagai sektor ..dan pd saatnya akan dpt mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg menyerbu Jabodetabek .......salam, aby

